Houthi Serang Kilang Minyak Aramco, Arab Saudi Hadapi Ancaman Baru
Houthi mengaku menyerang kilang Saudi Aramco di Jazan dengan drone. Serangan terjadi setelah Arab Saudi meneken pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan.
Foto ilustrasi warga mengambil air dengan menggunakan jeriken saat musim kemarau. /Istimewa.
Harianjogja.com, KLATEN—Dampak kemarau panjang nyaris terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Selain di beberapa daerah di DIY, kekeringan juga melanda di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Salah satu wilayah terdampak adalah kawasan lereng Merapi tepatnya di Desa Tegalmulyo, Kemalang, Klaten. Warga memanfaatkan embung Tirta Mulya untuk berbagai kebutuhan air setiap harinya.
Kepala Desa Tegalmulyo Kemalang Klaten Sutarno mengatakan fungsi embung sangat bermanfaat bagi masyarakat selama musim kemarau. Karena sebagian besar masyarakat sudah tidak memiliki sumber mata air saat kemarau panjang.
BACA JUGA : Objek Wisata di Klaten yang Bisa Diakses dari 4 Exit Tol Jogja
Menurutnya embung tersebut dibangun Aqua Klaten dengan menggandeng Fakultas Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan diresmikan pada tahun 2017 bertepatan dengan hari air sedunia di 22 Maret. Berkat embung tersebut pada kemarau panjang di 2023 ini, masyarakat masih bisa mendapatkan air untuk kebutuhan menyiram tanaman hingga minum ternak.
“Warga sangat terbantu dengan adanya embung ini karena bisa kami gunakan untuk menyiram tanaman hingga minum ternak. Saat musim kemarau panjang saat ini, air dari embung itu sangat membantu masyarakat. Warga mengambil menggunakan jeriken dengan motor,” katanya, Selasa (10/10/2023).
Setiap tahun saat musim kemarau, desa di lereng Gunung Merapi selalu mengalami krisis air, termasuk Desa Tegalmulyo. Jarak desa ini dari puncak Gunung Merapi hanya sekitar 4 kilometer, menjadikannya desa tertinggi di Klaten dengan mayoritas lapisan tanah atasnya yang berupa pasir, menyebabkan air hujan jatuh langsung masuk ke lapisan tanah di bawahnya. Akibatnya, tidak ada cadangan air yang disimpan untuk musim kemarau, sehingga warga mengalami kesulitan air.
Embung Tirta Mulya ini menampung air hujan agar bisa digunakan sebagai sumber air baku masyarakat, terutama saat musim kemarau. Selain itu menahan limpasan air dari lereng Merapi saat musim penghujan dan lapisan embungnya menahan air sebagai persediaan air selama masa kemarau.
“Kedalaman 5 meter mampu menampung sekitar 12.000 meter kubik air. Karena musim kemarau yang sangat panjang saat ini, memang air di embung makin lama makin menipis,” katanya.
BACA JUGA : Polres Klaten Tangkap 30 Orang yang Konvoi Kendaraan
Adapun untuk kebutuhan air minum warga rata-rata harus mengeluarkan dana sebesar Rp300 ribu untuk 5.000 liter air bersih. Air embung membantu mengurangi beban masyarakat untuk membeli air terutama mencukupi kebutuhan ternak dan menyiram tanaman.
“Secara keseluruhan walaupun tidak bisa digunakan untuk air bersih. Tapi, setidaknya untuk kebutuhan lain di desa kami sudah terpenuhi berkat embung ini,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Houthi mengaku menyerang kilang Saudi Aramco di Jazan dengan drone. Serangan terjadi setelah Arab Saudi meneken pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan.
Xiaomi resmi meluncurkan HyperOS 4 di China. Sistem operasi terbaru ini membawa desain transparan ala kaca, AI Assistant 2.0, performa lebih cepat, dan fitur li
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY terus menggaungkan semangat literasi melalui bedah buku Homepower
Pendapatan transfer Kulonprogo turun Rp114,66 miliar pada APBD Perubahan 2026. DPRD meminta Pemkab mengubah strategi fiskal.
Sejumlah investor menggugat Selena Gomez terkait startup kesehatan mental Wondermind. Mereka menuding ada penyesatan informasi bisnis dan menuntut pengembalian
Penyalahgunaan narkoba tidak hanya berdampak pada orang yang mengonsumsinya, tetapi juga dapat menyeret keluarga hingga lingkungan sekitar.