PSEL Piyungan Akan Aliri Listrik 15.000 Rumah, Dibangun 2027
PSEL DIY ditargetkan mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 18-20 MW untuk sekitar 15.000 rumah.
Bencana - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, BANYUMAS—Masyarakat di wilayah Jawa Tengah bagian selatan, khususnya Cilacap dan Banyumas, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seiring datangnya musim hujan yang diprakirakan lebih awal dengan intensitas tinggi.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan hasil analisis menunjukkan curah hujan di kedua wilayah tersebut selama Oktober 2025 diprakirakan mencapai 400 milimeter hingga lebih dari 500 milimeter, atau masuk kategori tinggi hingga sangat tinggi.
“Kondisi curah hujan yang tinggi ini berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air di beberapa wilayah rawan,” katanya, Rabu (8/10/2025)
Menurut dia, awal musim hujan di Kabupaten Cilacap rata-rata terjadi lebih cepat satu hingga tiga dasarian dibandingkan kondisi normal. Dia mengatakan wilayah selatan, tenggara, dan pesisir tenggara Cilacap bahkan telah memasuki musim hujan sejak Dasarian II Agustus 2025, sedangkan wilayah timur laut dan barat laut Cilacap diprakirakan baru mulai hujan pada Dasarian I Oktober 2025.
“Dengan awal musim yang lebih cepat dan curah hujan tinggi, potensi kejadian ekstrem seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir perlu diwaspadai,” katanya.
Ia mengatakan puncak musim hujan di Cilacap diprediksi terjadi antara November 2025 hingga Februari 2026 dengan sifat hujan normal hingga di atas normal. Selain itu, kata dia, durasi musim hujan juga relatif panjang, berkisar 21-29 dasarian, dengan wilayah selatan menjadi area yang mengalami periode hujan terpanjang.
“Wilayah Kabupaten Banyumas juga diperkirakan mengalami pola serupa. Sebagian besar wilayah, terutama bagian utara dan tengah, akan mengalami hujan sepanjang tahun 2025, sedangkan wilayah selatan, barat daya, dan sebagian tenggara telah memasuki musim hujan lebih awal pada Agustus hingga September 2025,” katanya.
Terkait dengan hal itu, dia mengingatkan karakteristik hujan dengan intensitas tinggi pada periode peralihan tersebut berpotensi memperbesar risiko banjir bandang di daerah aliran sungai, longsor di wilayah perbukitan, serta genangan air di kawasan dataran rendah.
Menurut dia, pemerintah daerah dan masyarakat perlu melakukan langkah antisipatif, seperti memastikan sistem drainase berfungsi dengan baik, membersihkan saluran air, serta tidak melakukan aktivitas di area rawan longsor saat curah hujan tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
PSEL DIY ditargetkan mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 18-20 MW untuk sekitar 15.000 rumah.
Prabowo mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur BI dan Aida Budiman sebagai Deputi Senior. DPR segera gelar fit and proper test.
Imigrasi menolak 9.394 paspor sepanjang Januari-Juli 2026 karena terindikasi TPPO dan pekerja migran ilegal.
Dua perkara pelanggaran miras dan minuman oplosan di Bantul diputus dengan total denda Rp16 juta. Barang bukti turut dimusnahkan.
Harga oli Pertamina Lubricants naik rata-rata 17% sejak Juni 2026 akibat kenaikan biaya produksi dan tekanan nilai tukar.
Anak gajah Yuna mati di PLG Saree Aceh diduga terinfeksi EEHV. BKSDA Aceh melakukan deteksi dini terhadap gajah anakan lainnya.