Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Ilustrasi./Reuters
Harianjogja.com, SRAGEN — Peristiwa tragis terjadi di sebuah SMP negeri di Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen. Seorang pelajar berusia 16 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah diduga terlibat perkelahian dengan teman satu sekolahnya, Selasa (7/4/2026).
Korban sempat mendapatkan penanganan di Puskesmas Sumberlawang sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD dr. Soehadi Prijonegoro (RSSP) Sragen. Namun, nyawanya tidak tertolong.
Kepala sekolah setempat, Agung Jadmiko, terlihat mendampingi proses penanganan kasus di Instalasi Forensik RSSP bersama seorang guru. Mereka menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim Identifikasi Satreskrim Polres Sragen.
Proses penyelidikan terus berjalan. Tim yang dipimpin Kasatreskrim AKP Catur Agus Yudo Praseno menggelar koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari sekolah, keluarga korban, hingga UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sragen. Rapat dilakukan di ruang jaga kamar jenazah sambil menunggu hasil autopsi.
Agung mengungkapkan dirinya baru tiba di lokasi sekitar pukul 12.00 WIB setelah sebelumnya berada di SMPN Mondokan, tempat ia menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt). Saat ia tiba, korban sudah dibawa ke puskesmas.
Ia menjelaskan, insiden terjadi sekitar pukul 11.30 WIB di kamar mandi sekolah saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Baik korban maupun terduga pelaku diketahui sama-sama meminta izin kepada guru untuk keluar kelas.
“Peristiwa ini bukan saat jam istirahat, tetapi saat pelajaran berlangsung. Mereka tidak janjian sebelumnya. Kemungkinan hanya kebetulan bertemu di kamar mandi, lalu terjadi cekcok yang berujung perkelahian,” ujarnya.
Menurut Agung, tidak ada catatan konflik sebelumnya antara kedua siswa. Pihak sekolah biasanya akan memanggil orang tua jika terjadi permasalahan antar siswa.
Sementara itu, orang tua korban, M (43), mengaku sangat terpukul atas kejadian tersebut. Ia menyebut anaknya, WAP (16), merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Ia mengaku tidak mengetahui secara detail kronologi kejadian karena baru mendapat kabar saat anaknya sudah berada di puskesmas.
“Saya tahunya sudah di puskesmas, dan anak saya sudah meninggal. Saya tidak terima dan ingin kasus ini diproses secara hukum,” tegasnya.
Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami penyebab pasti kematian korban melalui pemeriksaan forensik serta keterangan para saksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Xiaomi resmi meluncurkan HyperOS 4 di China. Sistem operasi terbaru ini membawa desain transparan ala kaca, AI Assistant 2.0, performa lebih cepat, dan fitur li
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY terus menggaungkan semangat literasi melalui bedah buku Homepower
Pendapatan transfer Kulonprogo turun Rp114,66 miliar pada APBD Perubahan 2026. DPRD meminta Pemkab mengubah strategi fiskal.
Sejumlah investor menggugat Selena Gomez terkait startup kesehatan mental Wondermind. Mereka menuding ada penyesatan informasi bisnis dan menuntut pengembalian
Penyalahgunaan narkoba tidak hanya berdampak pada orang yang mengonsumsinya, tetapi juga dapat menyeret keluarga hingga lingkungan sekitar.