Harga Kain Melonjak, Perajin Batik Pekalongan Putar Otak

Jumali
Jumali Rabu, 10 Juni 2026 14:07 WIB
Harga Kain Melonjak, Perajin Batik Pekalongan Putar Otak

Pembatik - Ilustrasi/JIBI

Harianjogja.com, PEKALONGAN—Kenaikan harga bahan baku yang dipengaruhi menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat mulai dirasakan para perajin batik di Kota Pekalongan. Meski biaya produksi meningkat, pelaku usaha tetap berupaya menjaga kualitas produk melalui berbagai strategi efisiensi dan inovasi.

Owner Batik Blonteng, Miladia Huda, mengatakan kenaikan harga kain menjadi faktor yang paling signifikan memengaruhi biaya produksi batik. Menurutnya, sejumlah bahan baku masih bergantung pada pasar internasional sehingga fluktuasi nilai tukar dolar turut berdampak pada harga yang harus dibayar pelaku usaha.

"Yang paling terasa adalah kenaikan harga kain. Banyak komponen produksi masih dipengaruhi pasar internasional sehingga ketika dolar naik, biaya produksi ikut meningkat," ujar Huda, dikutip dari laman Pemkot Pekalongan, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan kenaikan harga kain mencapai Rp30.000 hingga Rp40.000 per lembar. Kondisi tersebut memberikan tekanan cukup besar terhadap biaya produksi dibandingkan komponen lain seperti bahan pewarna atau obat batik yang dinilai relatif stabil.

Menurut Huda, lonjakan biaya produksi telah menyebabkan keuntungan usaha menurun hingga sekitar 40 persen. Meski demikian, para pelaku usaha memilih tetap mempertahankan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar.

Berbagai langkah dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha, mulai dari pengembangan desain baru, efisiensi proses produksi, hingga pengelolaan stok bahan baku yang lebih cermat.

"Inovasi desain, efisiensi produksi, hingga pengelolaan stok menjadi langkah yang ditempuh agar usaha tetap berkelanjutan tanpa mengurangi mutu produk yang dihasilkan," katanya.

Fokus pada Pesanan Konsumen

Pembatik warna alam Batik Banjir, Krisnowati, mengungkapkan pelaku usaha kini lebih selektif dalam menentukan volume produksi. Strategi tersebut dilakukan dengan menyesuaikan produksi terhadap permintaan pasar dan pesanan yang sudah masuk.

"Untuk sementara kami lebih fokus melayani pesanan yang masuk sehingga produksi tetap berjalan dengan baik dan kualitas tetap terjaga," ujarnya.

Menurut Krisnowati, pendekatan tersebut membantu pelaku usaha mengendalikan biaya sekaligus meminimalkan risiko penumpukan stok di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi.

Optimistis Industri Batik Tetap Tumbuh

Di tengah tantangan kenaikan biaya produksi, para perajin tetap optimistis industri batik Pekalongan mampu bertahan dan berkembang. Dukungan masyarakat terhadap produk lokal dinilai menjadi salah satu faktor penting yang menjaga keberlanjutan sektor ekonomi kreatif tersebut.

Krisnowati berharap ketersediaan bahan baku dalam negeri semakin kuat sehingga industri batik nasional tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal dan lebih siap menghadapi gejolak ekonomi global.

Sebagai salah satu sentra batik terbesar di Indonesia, Pekalongan memiliki posisi penting dalam pengembangan industri kreatif berbasis budaya. Kualitas produk, kreativitas desain, serta ketekunan para perajin diyakini menjadi modal utama untuk menjaga daya saing batik Pekalongan di pasar nasional maupun internasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online