KPK Tahan 4 Tersangka Baru Kasus Korupsi Komisi Asuransi Jasindo
KPK menahan empat tersangka baru kasus dugaan korupsi komisi asuransi perkapalan PT Pelni dan PT Jasindo dengan kerugian negara Rp15,6 miliar.
Peta kuno karya MD Roy tahun 1695 mengungkap nama Terboyo telah tercatat sebelum era Bupati Suryadi Menggolo V. /Espos.
Harianjogja.com, SEMARANG— Selembar peta kuno karya MD Roy tahun 1695 menjadi pintu masuk untuk menelusuri kembali sejarah Kota Semarang, khususnya keberadaan nama Terboyo yang selama ini kerap dikaitkan dengan tokoh Kanjeng Terboyo Suryadi Menggolo V.
Peta yang merupakan koleksi National Archives tersebut diperlihatkan kepada masyarakat dalam forum Pajatan Budaya di Jl. Pandansari 3, Kelurahan Pandansari, Kota Semarang, Sabtu (8/8/2026) malam. Arsip berusia lebih dari tiga abad itu menjadi bahan diskusi mengenai perjalanan sejarah sekaligus kehidupan sosial masyarakat Semarang pada masa lalu.
Tenaga Pemugaran Cagar Budaya, Bukhori Masruri, mengatakan keberadaan nama Terboyo dalam peta tahun 1695 menjadi temuan menarik. Pasalnya, berdasarkan catatan sejarah yang selama ini berkembang, sosok Suryadi Menggolo V diperkirakan hidup sekitar tahun 1700 dan pada masa itu belum menjadi Bupati Semarang.
“Suryadi Menggolo V itu hidup sekitar 1700 dan belum menjadi Bupati Semarang saat itu. Tapi, nama Terboyo ternyata sudah tercatat dalam arsip kuno,” tutur Bukhori seusai mengisi diskusi bertajuk Perubahan Sosial dan Ketidakberdayaan Rakyat Menghadapi Tekanan Negara, Sabtu malam.
Menurut Bukhori, peta tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai penanda wilayah pesisir. Arsip itu juga memberikan gambaran mengenai keberadaan Semarang pada masa lampau sebagai kota pelabuhan yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang etnis.
Keberagaman tersebut, kata dia, menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Kota Semarang. Kehidupan masyarakat pada masa lalu menunjukkan adanya interaksi antarkelompok yang berlangsung secara berdampingan.
Namun, kondisi tersebut dinilai mulai menghadapi tantangan pada masa sekarang, terutama dalam interaksi masyarakat di ruang digital.
“Tapi akhir-akhir ini, toleransi itu agak bergesekan antara etnis. Apalagi kalau merespons di medsos [media sosial], ya katanya ada yang Jawa Hamdan atau Cinon Pedit dan sebagainya. Dulu, hal seperti itu langka sekali karena hidup berdampingan,” ujarnya.
Peta Kuno Jadi Pemantik Diskusi Warga
Bukhori tidak membawa peta kuno tersebut sekadar untuk dipamerkan. Ia memilih menyerahkannya kepada warga perkampungan agar arsip sejarah itu dapat menjadi bahan pembicaraan lintas generasi.
Menurutnya, masyarakat di tingkat kampung sering kali justru menghadapi keterbatasan dalam mengakses sumber sejarah mengenai lingkungan tempat tinggal mereka. Padahal, pemahaman terhadap sejarah lokal dapat membantu masyarakat mengenali identitas dan akar budaya wilayahnya.
“Justru masyarakat perkampungan seperti ini yang kerap kesulitan mengakses akar sejarahnya sendiri,” tegasnya.
Ia menilai pemerintah memiliki anggaran dan akses yang lebih besar untuk mencari maupun mengkaji berbagai arsip sejarah. Karena itu, masyarakat juga perlu mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung bukti-bukti sejarah yang berkaitan dengan wilayah mereka.
Selama ini, sejarah lokal tidak jarang hanya diwariskan melalui cerita lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa dukungan bukti fisik berupa arsip, peta, maupun dokumen sejarah, masyarakat dapat mengalami kesulitan untuk memahami konteks sejarah tempat tinggal mereka secara lebih utuh.
Kehadiran peta tahun 1695 di tengah masyarakat Pandansari diharapkan dapat membuka ruang percakapan tersebut. Anak-anak, pemuda Karang Taruna, hingga para sesepuh kampung dapat bersama-sama melihat dan mendiskusikan informasi yang terdapat dalam arsip tersebut.
Bukhori berharap peta kuno itu mampu menjadi pemantik untuk membaca kembali sejarah Semarang dari sudut pandang masyarakat.
“Itu menjadi bahan diskusi penting untuk mendefinisikan ulang siapa mereka,” nilainya.
Menghubungkan Sejarah dengan Identitas Warga
Bagi Bukhori, sejarah tidak semestinya hanya tersimpan di lembaga arsip atau menjadi bahan kajian kalangan tertentu. Bukti sejarah juga perlu hadir di tengah masyarakat agar warga dapat memahami hubungan antara masa lalu dengan identitas lingkungan mereka saat ini.
Peta karya MD Roy tahun 1695 tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah arsip lama dapat membuka pertanyaan baru mengenai perjalanan Semarang. Salah satunya terkait nama Terboyo yang ternyata telah tercatat jauh sebelum periode kehidupan Suryadi Menggolo V.
Selain memberikan informasi mengenai masa lalu, pembacaan terhadap arsip sejarah juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat kembali semangat kebersamaan masyarakat. Jejak Semarang sebagai kota pelabuhan dengan masyarakat multietnis menjadi bagian dari identitas yang dapat dipelajari kembali oleh generasi sekarang.
Kini, peta kuno yang diperlihatkan di kawasan Pandansari bukan sekadar lembaran tua. Arsip tersebut telah menjadi pemantik percakapan antara generasi muda dan para sesepuh mengenai sejarah kampung, perjalanan Kota Semarang, serta identitas masyarakat yang hidup di dalamnya.
Dari selembar peta yang dibuat pada 1695, warga diajak melihat bahwa sejarah sebuah kota tidak hanya berada di buku atau gedung arsip. Sejarah juga hidup dalam nama tempat, cerita masyarakat, serta ingatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPK menahan empat tersangka baru kasus dugaan korupsi komisi asuransi perkapalan PT Pelni dan PT Jasindo dengan kerugian negara Rp15,6 miliar.
Seskab Teddy mendorong anak putus sekolah kembali belajar melalui Sekolah Rakyat. Program ini disebut telah memberi akses pendidikan bagi 43.000 anak.
BGN mewajibkan ompreng MBG mencantumkan batas waktu konsumsi mulai pekan depan untuk memperkuat keamanan pangan dan mencegah keracunan.
Kekeringan kembali melanda Padukuhan Tirto, Kulonprogo. Warga berharap dropping air dan pembangunan sumur bor menjadi solusi jangka panjang.
Polisi menangkap pengedar sabu di Sukoharjo. Sebanyak 23 paket sabu seberat 9,37 gram dan sejumlah barang bukti disita.
Apindo memproyeksikan ekspor Indonesia membaik pada Juli 2026, tetapi biaya produksi dan permintaan global masih menjadi tantangan.