Kekeringan di Sukoharjo Meluas, 970 Keluarga Krisis Air Bersih

Newswire
Newswire Selasa, 25 Agustus 2026 17:57 WIB
Kekeringan di Sukoharjo Meluas, 970 Keluarga Krisis Air Bersih

Warga mengantre untuk mengambil air bersih di bak penampungan air menggunakan galon di Desa Kunden, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Senin (24/8/2026).Solopos

Harianjogja.com, SUKOHARJO—Kekeringan Sukoharjo semakin meluas akibat musim kemarau panjang. Hingga 23 Agustus 2026, sebanyak 970 keluarga atau sekitar 3.300 jiwa di sembilan desa pada tiga kecamatan terdampak krisis air bersih.

Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Krisis air bersih juga mulai merambah fasilitas pendidikan, dengan tiga sekolah di Sukoharjo mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan guru, karyawan, dan siswa.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo, mengatakan wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru.

"Total ada sembilan desa yang mengalami krisis air bersih di Sukoharjo. Kesembilan desa itu tersebar di tiga kecamatan, yakni Bulu, Tawangsari, dan Weru," kata Ariyanto, Senin (24/8/2026).

Sembilan Desa Terdampak Kekeringan

Warga mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih sejak akhir Juni 2026. Sumber air yang selama ini menjadi andalan, seperti sumur, mulai mengering akibat kemarau panjang.

Sembilan desa yang terdampak kekeringan tersebut yakni Kedungjambal, Kunden, Weru, Lorog, Pundungrejo, Kedungsono, Ngasinan, Jatingarang, dan Ngreco.

Untuk memenuhi kebutuhan warga, bantuan air bersih dari pemerintah maupun donasi berbagai instansi, lembaga, dan komunitas terus disalurkan. Penyaluran bantuan tersebut telah berlangsung sejak awal Juli 2026.

Berdasarkan data BPBD Sukoharjo, jumlah warga yang terdampak hingga 23 Agustus 2026 mencapai 970 keluarga atau 3.300 jiwa.

Desa Kedungjambal di Kecamatan Tawangsari menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak paling banyak. Kondisi serupa juga cukup banyak dirasakan masyarakat Desa Kunden dan Desa Ngasinan di Kecamatan Bulu.

Tiga Sekolah Ikut Mengalami Krisis Air

Krisis air bersih kini turut dirasakan lingkungan sekolah. Ariyanto yang akrab disapa Ari menyebut terdapat tiga sekolah yang mengalami kondisi tersebut, yakni SMPN 3 Tawangsari, SMPN 1 Weru, dan SDN 2 Ngreco.

"Bantuan air bersih telah disalurkan ke sekolah yang mengalami krisis air bersih. Para guru, karyawan, dan siswa juga membutuhkan air bersih setiap hari," ujar dia.

Penyaluran air bersih ke sekolah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan harian seluruh warga sekolah. Dengan demikian, aktivitas guru, karyawan, dan siswa tetap dapat memenuhi kebutuhan air di tengah kondisi kekeringan.

Warga Masih Membeli Air untuk Minum dan Memasak

Di Desa/Kecamatan Weru, warga mengandalkan bantuan air bersih yang disalurkan ke bak penampungan. Setelah itu, masyarakat mengambil air menggunakan ember dan galon.

Sunarso, warga Desa/Kecamatan Weru, mengatakan air bantuan biasanya dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci pakaian. Sementara kebutuhan air untuk memasak dan minum masih harus dipenuhi dengan membeli air.

"Warga tetap membeli air bersih untuk memasak dan minum. Harga satu galon air bersih dibanderol Rp3.000. Biasanya, satu galon air bersih digunakan selama tiga hari. Maksimal empat hari," ujar dia.

Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih warga terdampak kekeringan tidak hanya dipenuhi melalui bantuan. Untuk kebutuhan tertentu, masyarakat masih harus mengeluarkan biaya membeli air bersih.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online