Dosen UGM Dampingi Petani Kaliangkrik Olah Sayuran Kering dengan Cabinet Dryer

Media Digital
Media Digital Selasa, 08 September 2026 16:02 WIB
Dosen UGM Dampingi Petani Kaliangkrik Olah Sayuran Kering dengan Cabinet Dryer

Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) mendampingi petani di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, dalam mengembangkan pengolahan hasil pertanian pascapanen menjadi produk sayuran kering./ Istimewa

MAGELANG — Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) mendampingi petani di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, dalam mengembangkan pengolahan hasil pertanian pascapanen menjadi produk sayuran kering. Pendampingan tersebut dilakukan melalui pengenalan teknologi pengeringan menggunakan cabinet dryer sekaligus penguatan pemahaman pengelolaan usaha melalui perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP).

Kegiatan digelar pada Selasa (8/9/2026) di Sekretariat Kelompok Tani Amanah Adipuro, Dusun Prampelan 2 RT 05 RW 03, Desa Adipuro 1, Kecamatan Kaliangkrik. Sebanyak 20 peserta yang merupakan anggota Koperasi Produsen Amanah Jaya Abadi mengikuti kegiatan tersebut.

Pendampingan dilakukan Nadia Awalina B.M., S.T.P., M.FoodScTech., dosen Program Pengembangan Produk Agroindustri (PPA), Sekolah Vokasi UGM, bersama Azellia Alma Shafira, S.E., M.Sc., dosen Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

Kegiatan menyasar anggota koperasi yang mayoritas merupakan petani di sekitar Kaliangkrik. Selain petani, sebagian besar peserta merupakan ibu-ibu dari keluarga petani yang dinilai memiliki potensi untuk terlibat dalam pengolahan, pengembangan produk, serta pengelolaan usaha berbasis hasil pertanian.

Kenalkan Teknologi Pengeringan

Dalam sesi teknologi pangan, peserta diperkenalkan dengan cabinet dryer sebagai teknologi tepat guna untuk mengolah sayuran segar menjadi produk kering.

Teknologi tersebut menggunakan gas elpiji sebagai sumber energi sehingga proses pemanasan tidak bergantung pada listrik. Kondisi ini menjadikan cabinet dryer sebagai salah satu alternatif teknologi pengeringan yang dapat dimanfaatkan masyarakat di wilayah sentra pertanian.

Cabinet dryer yang diperkenalkan memiliki kapasitas hingga 12 tray dalam satu kali pengoperasian. Alat tersebut dapat digunakan untuk mengolah sekitar 5 kilogram daun bawang, tergantung kondisi bahan dan pengaturan proses pengeringan.

Selain kapasitas produksi, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai teknik pengolahan untuk mempertahankan mutu produk, terutama warna hijau dan karakter aroma daun bawang.

Materi pengeringan tersebut merupakan bagian dari hasil riset yang sebelumnya dilakukan Nadia. Dalam riset tersebut, pengeringan daun bawang menggunakan cabinet dryer dilakukan pada suhu 60 derajat Celsius selama sekitar delapan jam. Proses tersebut diawali dengan steam blanching selama satu hingga dua menit.

“Pengolahan pascapanen tidak hanya berfokus pada bagaimana bahan pertanian dikeringkan, tetapi juga bagaimana kita mempertahankan kualitas produk agar tetap memiliki nilai tambah ketika dipasarkan,” ujar Nadia.

Peserta juga menunjukkan ketertarikan untuk mengembangkan pemanfaatan teknologi tersebut pada komoditas lain. Sejumlah peserta menanyakan kemungkinan penggunaan cabinet dryer untuk mengeringkan buah dan berbagai bahan pertanian lainnya.

Ketertarikan tersebut menunjukkan adanya peluang pengembangan variasi produk olahan berbasis komoditas lokal dengan memanfaatkan teknologi pengeringan.

Belajar Menghitung HPP dan Keuntungan

Selain teknologi pengeringan, peserta mendapatkan materi mengenai pengelolaan usaha yang disampaikan Azellia Alma Shafira.

Materi mencakup perhitungan HPP untuk daun bawang segar dan daun bawang kering. Peserta juga diperkenalkan dengan konsep margin, keuntungan, markup, serta berbagai komponen biaya dalam kegiatan usaha.

Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual secara lebih terstruktur. Pemahaman mengenai HPP dinilai penting untuk membantu petani dan anggota koperasi melihat kelayakan usaha sekaligus menghitung potensi nilai tambah dari pengolahan hasil pertanian.

Antusiasme peserta terlihat saat mengikuti sesi perhitungan HPP. Mereka turut menghitung biaya dan potensi keuntungan dari kegiatan pertanian yang selama ini dijalankan, termasuk melihat sejauh mana pengolahan hasil pertanian dapat memberikan tambahan nilai ekonomi.

Pendekatan tersebut diharapkan mendorong masyarakat tidak hanya berfokus pada produksi hasil pertanian, tetapi juga memahami aspek ekonomi yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Didukung ICMI dan Pemerintah Daerah

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut juga mendapat dukungan dari Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang.

Dukungan itu menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi dalam pengembangan potensi pertanian dan pemberdayaan masyarakat di wilayah Kaliangkrik. Meskipun perwakilan kedua pihak belum dapat hadir secara langsung dalam kegiatan, koordinasi dan komunikasi telah dilakukan untuk melibatkan keduanya dalam program pendampingan.

Program pendampingan tersebut direncanakan berlanjut pada tahun berikutnya dengan fokus pada penguatan kelembagaan. Pendampingan lanjutan diharapkan dapat melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), sehingga proses pemberdayaan masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan.

Melalui program tersebut, UGM berupaya mendukung peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengolah hasil pertanian, memperkuat kapasitas usaha, serta meningkatkan nilai tambah komoditas lokal melalui pendekatan teknologi pangan dan pengelolaan ekonomi. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online