Kebakaran TPA Jatibarang Terkendali, 20 Persen Titik Api Masih Tersisa

Newswire
Newswire Sabtu, 03 Oktober 2026 23:37 WIB
Kebakaran TPA Jatibarang Terkendali, 20 Persen Titik Api Masih Tersisa

Kondisi TPS Jatibarang Semarang, Jumat (2/10), masih dipenuhi kabut asap sisa kebakaran./Antara-I.C. Senjaya

Harianjogja.com, SEMARANG—Kebakaran bawah permukaan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, Jawa Tengah mulai terkendali hingga Sabtu (3/10/2026). Meski demikian, sekitar 20% titik api masih tersisa di dalam tumpukan sampah.

Pemerintah Kota Semarang menyebut kepulan asap di permukaan mulai berkurang. Petugas tetap disiagakan selama 24 jam karena suhu pada kedalaman 5–10 meter di bawah tumpukan sampah masih sangat tinggi dan berpotensi memicu kebakaran kembali.

Penanganan dilakukan dengan metode injeksi air untuk mendinginkan lapisan sampah bagian dalam. Penyemprotan menggunakan armada alat berat dengan dukungan pasokan air dari sejumlah instansi terkait.

Armada tangki air tambahan juga dikerahkan untuk mempercepat proses pendinginan. Langkah tersebut sekaligus dilakukan untuk menekan munculnya kepulan asap baru dari area tumpukan sampah.

Ekskavator Tambahan Dikerahkan

Selain injeksi air, Pemerintah Kota Semarang menambah ekskavator untuk mempercepat penguraian tumpukan sampah.

Alat berat digunakan untuk membongkar dan mencakar material yang padat sehingga air dapat menjangkau titik bara yang berada di lapisan lebih dalam.

Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah bara kembali menyala. Kondisi angin menjadi salah satu perhatian karena dapat membawa oksigen ke lapisan sampah yang masih memiliki suhu tinggi.

Meskipun api berangsur padam, penanganan belum sepenuhnya dihentikan. Petugas masih melakukan pendinginan dan pemantauan selama 24 jam untuk mengantisipasi kemunculan kembali api maupun asap.

Asap Masih Berpotensi Mengarah ke Permukiman

Kabut asap dari kawasan TPA Jatibarang masih berpotensi mengarah ke permukiman di sekitar lokasi. Pemerintah mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker medis ketika beraktivitas di luar rumah.

Risiko terhadap kesehatan sebelumnya juga terdeteksi dari hasil pengukuran kualitas udara di sekitar TPA. Dinas Kesehatan Kota Semarang menyatakan kualitas udara dalam radius hingga 2 kilometer dari TPA Jatibarang belum memenuhi syarat kesehatan setelah kebakaran berlangsung sejak Rabu (30/9/2026) malam.

Pengukuran udara ambien dilakukan di sejumlah titik pada Kamis (1/10/2026). Lokasi pengukuran antara lain SMAN 7 Semarang dan Kantor Kelurahan Bambankerep.

Kadar SO₂ Melebihi Ambang Batas

Hasil pengukuran di SMAN 7 Semarang yang berjarak sekitar 1,9 kilometer dari TPA menunjukkan kadar sulfur dioksida (SO₂) mencapai 258,26 mikrogram per meter kubik.

"Untuk yang di area TPA Jatibarang jauh lebih tinggi," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam, dikutip dari Antara.

Kadar tersebut berada di atas ambang batas baku mutu udara ambien sebesar 150 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut berisiko menimbulkan gangguan pernapasan bagi masyarakat yang terdampak asap kebakaran.

Hakam merekomendasikan penggunaan masker, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, lanjut usia, dan penderita komorbid.

Petugas kesehatan di puskesmas sekitar TPA Jatibarang juga disiagakan untuk memantau dampak asap terhadap masyarakat.

"Monitoring wilayah dilakukan untuk mengetahui dampak dari asap kebakaran TPA," katanya.

Kebakaran Melanda 10 Hektare

Kebakaran TPA Jatibarang terjadi pada Rabu (30/9) malam. Api melanda area sekitar 10 hektare. Api berangsur padam, tetapi bara masih berada di dalam tumpukan sampah. Kondisi tersebut menyebabkan kepulan asap masih muncul dari area TPA.

Dengan sekitar 20% titik api yang masih tersisa, proses pendinginan dan pemantauan terus dilakukan. Pemerintah juga tetap mengantisipasi potensi asap yang bergerak menuju permukiman di sekitar TPA Jatibarang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online