Kebakaran TPA Jatibarang Semarang, 22 Warga Batuk dan Sesak Napas

Fitroh Nurikhsan
Fitroh Nurikhsan Minggu, 04 Oktober 2026 17:37 WIB
Kebakaran TPA Jatibarang Semarang, 22 Warga Batuk dan Sesak Napas

Kondisi TPS Jatibarang Semarang, Jumat (2/10), masih dipenuhi kabut asap sisa kebakaran./Antara-I.C. Senjaya

Harianjogja.com, SEMARANG—Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang, Kelurahan Jatibarang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, memasuki hari kelima. Asap dari kebakaran tersebut mulai berdampak pada kesehatan warga, dengan 22 orang dilaporkan mengalami batuk dan sesak napas.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, mengatakan puluhan warga yang terdampak tersebar di tiga wilayah.

"Sebanyak 22 orang mengalami masalah pernapasan seperti batuk dan sesak napas. Di Kelurahan Kedungpane 15 orang, Kelurahan Tambakaji 2 orang dan Kelurahan Bambankerep 5 orang," ucap Endro kepada Espos, Minggu (4/10/2026).

Area Kebakaran TPA Jatibarang Masih 20%

Endro mengatakan penanganan kebakaran masih berlangsung. Berdasarkan pemantauan menggunakan drone pada Minggu sekitar pukul 09.30 WIB, area yang terbakar masih berada di kisaran 20 persen, meski titik api cenderung berkurang.

Secara keseluruhan, area TPA yang terdampak kebakaran di Zona 1 dan Zona 2 mencapai 8 hektare. Sementara itu, luas area yang terdampak di Zona 3 sekitar 2 hektare.

"Api belum padam dan penanganan masih berlangsung, titik api cenderung berkurang di beberapa titik. Penanganan (kebakaran) terus dilakukan pada area terbakar, dengan fokus pemadaman, pendinginan, dan pengendalian agar api tidak meluas," ungkap Endro.

Operasi pemadaman melibatkan sejumlah armada pemadam kebakaran (Damkar) serta alat berat. Di Zona 1, tiga unit Damkar melakukan penyemprotan dari bagian atas area yang terbakar.

Penanganan di sisi kiri Zona 3 dilakukan dua unit Damkar melalui injeksi. Proses tersebut juga dibarengi pengerukan dan pendinginan dengan dukungan alat berat.

Sementara di sisi kanan Zona 3, tiga unit Damkar melakukan penyemprotan dan penanganan dengan bantuan alat berat. Selain itu, delapan armada penyuplai air turut diterjunkan ke lokasi.

Endro menyebut petugas menghadapi sejumlah kendala dalam proses pemadaman, terutama karena kondisi titik api dan akses menuju lokasi.

"Kendala-kendala proses pemadaman lokasi titik api yang sulit dijangkau, akses jalan yang sempit dan titik api cepat tersebar," terang Endro.

Asap TPA Jatibarang Pengaruhi Kualitas Udara 5 Kecamatan

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Handi Priyanto, mengakui asap kebakaran TPA Jatibarang telah berdampak terhadap kualitas udara di lima kecamatan.

Kelima wilayah tersebut yakni Gunungpati, Mijen, Semarang Barat, Ngaliyan, dan Tugu. Untuk menangani kebakaran sekaligus dampaknya kepada masyarakat, Pemkot Semarang membentuk tim gabungan lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Percepatan pemadaman dilakukan melalui sejumlah metode. Salah satunya dengan menyuntikkan air ke dalam tumpukan sampah hingga kedalaman sekitar 5-10 meter.

Sejumlah unit Damkar juga melakukan penyiraman dari atas. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu menekan asap sekaligus mengurangi potensi polusi udara.

"Ini kita lakukan agar bisa mengurangi dampak bagi masyarakat, karena polusi udara dari asap hasil kebakaran," tutur Handi.

Pemkot Semarang, lanjut Handi, juga telah berkomunikasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pembahasan tersebut mencakup sejumlah opsi penanganan kebakaran, termasuk kemungkinan penggunaan water bombing maupun rekayasa cuaca.

Pemkot Siapkan Pencegahan Kebakaran Berulang

Selain penanganan kebakaran saat ini, Pemkot Semarang menyiapkan sejumlah langkah untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi di masa mendatang.

Salah satu rencana tersebut yakni menyiapkan tempat penampungan air cadangan serta jalur hidran di kawasan TPA Jatibarang.

Dengan fasilitas tersebut, penyiraman dapat dilakukan secara berkala untuk membantu mengendalikan kondisi tumpukan sampah.

"Jadi secara berkala bisa dilakukan penyiraman. Lalu ada juga pembuatan jalur hidran agar DLH bisa menyiram secara berkala, karena gas metana di tumpukan sampah bisa hilang dengan air," tandasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online