Cetak Banyak Gol di MLSC Jogja, Khayla Ingin Tembus Timnas Indonesia
Khayla Labiba Nasjmi mencetak 11 gol di MLSC Yogyakarta 2026. Pemain SDN Baturetno itu bermimpi mengikuti jejak pesepak bola putri ke Timnas.
Direktur Amir Mahmud Center.ist
Harianjogja.com, SURAKARTA—Ancaman ideologi ekstrem kini tidak hanya muncul dalam bentuk gerakan terbuka, tetapi juga menyebar melalui ruang digital. Narasi intoleransi, kebencian hingga ajakan kekerasan dapat dikemas menggunakan bahasa agama maupun nasionalisme.
Di tengah kondisi tersebut, akademisi sekaligus pengamat radikalisme dan terorisme Dr. Amir Mahmud, M.Ag. menilai Pancasila memiliki peran penting sebagai titik temu masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang berbeda.
Pandangan itu disampaikan Amir saat membahas makna Hari Kesaktian Pancasila di Surakarta, Selasa (6/10/2026). Menurutnya, tantangan terhadap persatuan bangsa saat ini datang bersamaan dengan berkembangnya ekstremisme dan politik identitas yang berpotensi memecah masyarakat.
“Pancasila sangat efektif menjadi jembatan perbedaan. Dari Sabang sampai Merauke, dari perbedaan suku, ras, hingga agama, semua bisa diakomodasi,” ujar Amir.
Dosen Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta tersebut mengatakan masyarakat Indonesia yang majemuk membutuhkan nilai bersama agar perbedaan tidak berkembang menjadi segregasi, intoleransi hingga konflik terbuka.
“Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan adalah kenyataan sosial yang harus dikelola melalui kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan,” tegasnya.
Ancaman Ekstremisme Bergeser ke Media Sosial
Amir menilai pola penyebaran ideologi ekstrem mengalami perubahan. Media sosial kini menjadi salah satu ruang yang memungkinkan narasi kebencian dan intoleransi tersebar lebih luas.
Karena itu, menurut dia, menghadapi radikalisme dan ekstremisme tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan keamanan. Pendidikan, literasi, dialog kebangsaan dan penguatan ketahanan sosial juga diperlukan untuk membangun daya tangkal masyarakat.
“Ekstremisme dan radikalisme yang mendorong kebencian dan kekerasan perlu dihadapi bukan hanya dengan pendekatan keamanan, tetapi juga melalui pendidikan, literasi, dialog, serta penguatan ketahanan sosial,” jelasnya.
Amir membedakan penanganan terhadap wacana dengan tindakan kekerasan. Menurutnya, pendekatan keamanan diperlukan ketika ancaman telah berkembang menjadi tindakan fisik bersenjata. Sementara ketika masih berada pada tahap wacana dan propaganda, literasi serta dialog dinilai penting untuk mencegah penyebaran paham intoleran.
“Sepanjang masih dalam bentuk ujaran kebencian atau ketidaksukaan, ini hanya bisa dihadapi dengan cara literasi dan dialog,” katanya.
Pancasila Didorong Diperkuat dari Tingkat Kelurahan
Selain ekstremisme, Amir menyoroti politik pecah belah sebagai tantangan yang perlu diwaspadai. Menurutnya, politik identitas dan ideologi transnasional dapat memanfaatkan emosi publik untuk memperlemah persatuan.
Karena itu, penguatan Pancasila dinilai tidak cukup dilakukan di tingkat elite. Amir mendorong adanya forum diskusi hingga tingkat kelurahan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan dialog terbuka yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk mengenali bahwa narasi intoleransi, radikalisme, dan terorisme itu berpotensi merusak tatanan sosial berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Ia menilai penguatan Pancasila seharusnya tidak dilakukan dengan menciptakan kebencian terhadap kelompok lain. Sebaliknya, masyarakat perlu dibekali kemampuan memahami perbedaan sekaligus menjaga kesadaran sebagai bagian dari satu bangsa.
“Memerangi ideologi transnasional dan meneguhkan Pancasila dilakukan bukan dengan membangun kebencian baru, melainkan dengan memperkuat dialog, literasi, dan kesadaran kebangsaan. Ini baru luar biasa,” imbuhnya.
Kesaktian Pancasila Bukan Sekadar Seremoni
Bagi Amir, Hari Kesaktian Pancasila seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyebut Pancasila perlu ditempatkan sebagai living values, bukan hanya nilai yang diucapkan dalam seremoni. Relevansinya, menurut dia, justru dapat dilihat dari kemampuan nilai-nilai tersebut menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
“Indonesia ini bangsa yang sangat majemuk, kita membutuhkan titik temu yang memungkinkan perbedaan itu tetap hidup tanpa berubah menjadi konflik. Itulah semangat pluralitas yang dijunjung tinggi oleh para pahlawan kita,” ungkapnya.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak berhenti pada pengucapan atau penghafalan Pancasila. Nilai-nilai tersebut perlu terus dipahami, dikaji dan diwujudkan dalam kehidupan sosial.
“Pancasila harus terus dipahami, dikaji, dan dibuktikan relevansinya melalui praktik kehidupan masyarakat. Ukuran kekuatan Pancasila itu bukan sekadar seberapa sering kita mengucapkannya atau mengikrarkannya, melainkan seberapa jauh nilai-nilai tersebut mampu menjawab persoalan nyata bagi bangsa ini,” pungkas Direktur Amir Mahmud Center itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Khayla Labiba Nasjmi mencetak 11 gol di MLSC Yogyakarta 2026. Pemain SDN Baturetno itu bermimpi mengikuti jejak pesepak bola putri ke Timnas.
Harga tanah di sekitar Kelok 23 Gunungkidul disebut sudah mencapai Rp1 juta per meter persegi setelah pembangunan JJLS. Investor mulai melirik kawasan ini.
Badan Mutu KKP Yogyakarta dan BBPOM Yogyakarta memperkuat sinergi pengawasan mutu dan keamanan pangan asal ikan melalui Rencana Aksi dan joint inspection
Prabowo meresmikan enam Kodam baru, termasuk Kodam XXVI/Mataram di DIY. Berikut daftar Kodam dan Pangdam yang ditunjuk.
Aleix Espargaro comeback di MotoGP Mandalika 2026 menggantikan Joan Mir. Honda menargetkan adaptasi RC213V sekaligus pengembangan motor.
KPK akan memeriksa Menteri ATR/BPN Nusron Wahid pekan ini terkait perkara dugaan korupsi pengurusan HGB Summarecon di Bogor.