Lestarikan Cagar Budaya, Pemkab Magelang dan DIY Gelar Muhibah Budaya 2026

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Rabu, 21 Oktober 2026 18:17 WIB
Lestarikan Cagar Budaya, Pemkab Magelang dan DIY Gelar Muhibah Budaya 2026

Sarasehan Muhibah Budaya Tahun 2026 yang melibatkan Pemkab Magelang dan Pemda DIY Pendopo drh. Soepardi, Kabupaten Magelang, Rabu (21/10/2026)./Istimewa

Harianjogja.com, MAGELANG—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang bersama Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkuat upaya pelestarian warisan sejarah Mataram melalui edukasi kepada generasi muda. Upaya tersebut diwujudkan melalui Sarasehan Muhibah Budaya Tahun 2026 yang mengangkat tema pelestarian cagar budaya.

Kegiatan bertajuk “Merajut Tali Budaya Mataraman Melalui Pelestarian Cagar Budaya” itu berlangsung di Pendopo drh. Soepardi, Kabupaten Magelang, Rabu (21/10/2026). Acara tersebut dihadiri para pendidik dan pegiat budaya setempat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Wisnu Argo Budiono, mengatakan kunjungan rombongan muhibah budaya dari DIY menjadi momentum untuk mempererat hubungan antardaerah sekaligus menyambungkan kembali jejak sejarah yang dimiliki Magelang dan Yogyakarta.

“Batas-batas administrasi pemerintahan tidak pernah memisahkan akar sejarah dan peradaban luhur yang tumbuh di antara Yogyakarta dan Magelang,” ungkap Wisnu.

Jejak Sejarah Magelang dan Yogyakarta Sejak Era Mataram
Hubungan historis Magelang dan Yogyakarta terjalin sejak era Mataram Kuno hingga Mataram Islam. Jejak peradaban kuno di Magelang antara lain tercermin melalui Prasasti Canggal bertahun 732 Masehi yang berada di Candi Gunung Wukir serta Prasasti Mantyasih bertahun 907 Masehi yang menyebut kawasan Mateseh dan Magelang.

Keterkaitan kedua wilayah berlanjut pada era Mataram Islam setelah Perjanjian Giyanti pada 1755. Tokoh seperti Ki Ageng Pemanahan dan Kiai Ageng Karotangan turut menjadi bagian dari sejarah yang menghubungkan Magelang dengan perkembangan Mataram Islam.

Pada periode tersebut, wilayah Magelang menjadi bagian dari Negara Agung yang memiliki peran strategis sebagai lumbung pangan sekaligus benteng pertahanan bagi Kesultanan Yogyakarta.

Sejarah Lokal Didorong Masuk ke Pembelajaran Sekolah
Wisnu berharap pengetahuan sejarah yang diperoleh melalui sarasehan dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dengan begitu, generasi muda Kabupaten Magelang diharapkan semakin mengenal sejarah daerahnya serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian cagar budaya.

Ia juga berharap kerja sama antara Magelang dan Yogyakarta dalam bidang kebudayaan dapat terus berkembang pada masa mendatang.

“Kolaborasi apik antara Magelang dan Yogyakarta ini diharapkan dapat terus dikembangkan di masa yang akan datang demi pemajuan kebudayaan bangsa,” harapnya.

Muhibah Budaya DIY Berjalan Selama Delapan Tahun
Kepala Dinas Kebudayaan DIY yang diwakili Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya, Dwi Agung Hermanto, menyampaikan bahwa Muhibah Budaya merupakan program strategis yang telah berlangsung selama delapan tahun berturut-turut.

Menurut Hermanto, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ruang untuk mengenang masa lalu. Muhibah Budaya juga menjadi sarana memperkuat persahabatan, memperluas kolaborasi, membangun identitas budaya, dan mendorong pelestarian cagar budaya di wilayah Yogyakarta dan Magelang.

“Melalui kegiatan Muhibah Budaya ini kita tidak hanya mengenang masa lalu. Kegiatan ini merupakan misi strategis berbasis kebudayaan untuk merajut persahabatan, memperluas kolaborasi, serta memperkuat identitas budaya dan pelestarian cagar budaya di wilayah Yogyakarta dan Magelang,” jelas Hermanto.

Tiga Materi Utama Dibahas dalam Sarasehan
Sarasehan Muhibah Budaya 2026 menghadirkan tiga narasumber dari kalangan pakar kebudayaan dan akademisi, yakni M. Yasir Arafat, Dr. Yulianto Ibrahim, S.S., M.Hum., serta Dr. Setiyadi S.S., M.Hum.

Ketiganya membahas tiga materi utama, meliputi jejak peninggalan Mataram Kuno hingga Mataram Islam di Magelang, peran Magelang sebagai lumbung pangan dan benteng pertahanan, serta penelusuran peradaban Mataram Islam secara mendalam.

Hermanto menambahkan, kehadiran guru sejarah dan guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tingkat SD dan SMP se-Kabupaten Magelang diharapkan memberikan dampak jangka panjang. Para pendidik didorong menjadi ujung tombak dalam mengenalkan sejarah serta menanamkan nilai-nilai warisan budaya kepada peserta didik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online