BMKG Ungkap Penyebab Banjir dan Longsor di Cilacap-Banyumas

Newswire
Newswire Sabtu, 31 Oktober 2026 11:17 WIB
BMKG Ungkap Penyebab Banjir dan Longsor di Cilacap-Banyumas

Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay

Harianjogja.com, CILACAP—Curah hujan ekstrem mencapai 349 milimeter (mm) mengguyur wilayah Cilacap, Jawa Tengah, dan menjadi salah satu pemicu banjir serta tanah longsor di sejumlah daerah. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat intensitas hujan sangat tinggi tersebut terjadi di sejumlah pos pengamatan hujan di Cilacap dan sekitarnya hingga Sabtu (31/10/2026) pagi.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem terpantau di beberapa wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas.

Berdasarkan data pengamatan pada Sabtu pagi, curah hujan tertinggi tercatat di Pos Pengamatan Jeruklegi/Jambusari, Cilacap, sebesar 349 mm. Sementara itu, Bandara Tunggul Wulung Cilacap mencatat curah hujan 241 mm.

Sejumlah wilayah lainnya juga mengalami hujan dengan intensitas tinggi. Berikut catatan curah hujan di beberapa pos pengamatan:

Jeruklegi/Jambusari, Cilacap: 349 mm.

Bandara Tunggul Wulung, Cilacap: 241 mm.

Maos, Cilacap: 196 mm.
Rembang, Purbalingga: 158 mm.
Dam Piasa Kulon, Somagede, Banyumas: 141 mm.
DPU Banyumas: 138 mm.
Rawalo, Banyumas: 117 mm.
Jeruklegi, Cilacap: 107 mm.
Dayeuhluhur, Cilacap: 79 mm.

Teguh menjelaskan, BMKG membagi intensitas hujan berdasarkan jumlah curah hujan yang terukur. Hujan ringan berkisar 5-20 mm, hujan sedang 20-50 mm, hujan lebat 50-100 mm, hujan sangat lebat 100-150 mm, sedangkan hujan ekstrem terjadi ketika curah hujan melebihi 150 mm.

Dengan catatan tersebut, sejumlah lokasi di Cilacap dan Banyumas mengalami hujan dalam kategori sangat lebat hingga ekstrem.

BMKG Jelaskan Dinamika Atmosfer Pemicu Hujan

Tingginya curah hujan di wilayah tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang turut memengaruhi dinamika atmosfer di Indonesia.

“Tingginya curah hujan tersebut kemungkinan dipicu oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang turut memengaruhi dinamika atmosfer di wilayah Indonesia,” katanya.

Teguh juga memaparkan perkembangan sejumlah indikator dinamika atmosfer berdasarkan informasi BMKG per 31 Oktober 2026. Indeks Southern Oscillation Index (SOI) tercatat minus 14,5, indeks ENSO di Nino 3.4 sebesar plus 2,88, dan Dipole Mode Index (DMI) plus 0,69.

Menurut dia, ketiga indikator tersebut dinyatakan tidak berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di wilayah Indonesia.

Sementara itu, aktivitas MJO berada pada Fase 2 di Samudra Hindia. Secara umum, posisi tersebut kurang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di Indonesia.

Meski demikian, secara spasial aktivitas MJO diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Selain aktivitas MJO, dinamika atmosfer lainnya juga berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan. Teguh menyebut belokan angin dan daerah konvergensi menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan.

Menurut dia, kondisi atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah daerah di Indonesia.

Warga Daerah Rawan Banjir dan Longsor Diminta Waspada

BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama warga yang tinggal di kawasan rawan banjir dan tanah longsor.

“Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan banjir dan tanah longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak hujan lebat serta memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG,” kata Teguh.

Peringatan tersebut menyusul kejadian banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas. Bencana itu terjadi setelah hujan lebat hingga ekstrem mengguyur kawasan tersebut sejak Jumat (30/10/2026) malam hingga Sabtu (31/10/2026) pagi.

BMKG mengingatkan masyarakat agar terus mengikuti perkembangan informasi cuaca sebagai langkah antisipasi terhadap dampak hujan berintensitas tinggi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online