Advertisement
Festival Balon Udara Wonosobo: 44 Balon Raksasa Hiasi Langit Alun-Alun
Ribuan wisatawan padati puncak Festival Mudik Balon Udara Wonosobo 2026. Sebanyak 44 balon raksasa ditambat demi keselamatan penerbangan dan ekonomi daerah. - Antara.
Advertisement
Harianjogja.com, WONOSOBO—Kemeriahan puncak Festival Mudik Balon Udara 2026 menyedot perhatian ribuan pasang mata di Alun-Alun Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Minggu (29/3/2026).
Sedikitnya 44 balon udara raksasa dengan aneka motif mulai dari karakter kartun, tokoh wayang, hingga corak kesenian tradisional, sukses menghiasi langit "Kota Awan" dan menciptakan pemandangan visual yang memukau.
Advertisement
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menegaskan bahwa tradisi turun-temurun ini kini telah bertransformasi menjadi mesin penggerak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Tingginya antusiasme masyarakat dari berbagai penjuru daerah mendorong pemerintah untuk memperluas jangkauan titik penyelenggaraan festival tahun ini. "Tahun ini kita laksanakan di 23 titik, meningkat dari sebelumnya. Semua meriah, masyarakat terhibur dan ekonomi ikut tumbuh," ujar Afif saat memantau lokasi festival, Minggu.
BACA JUGA
Banyak wisatawan dari luar kota bahkan dilaporkan sudah memadati area Alun-Alun sejak dini hari demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan proses penerbangan balon.
Afif memperkirakan perputaran uang selama rangkaian Festival Mudik ini mampu menyentuh angka miliaran rupiah, yang memberikan dampak langsung pada pendapatan pelaku UMKM dan sektor perhotelan setempat.
Guna menjaga tradisi agar tetap selaras dengan regulasi keselamatan, puluhan balon udara tersebut wajib diterbangkan secara tertambat menggunakan tali dengan ketinggian maksimal 150 meter.
Langkah ini diambil untuk mencegah balon terbang liar ke jalur lintasan pesawat komersial. Direktur Utama AirNav Indonesia, Avirianto Suratno, yang hadir dalam acara tersebut kembali mengingatkan pentingnya aspek keselamatan ruang udara nasional.
Avirianto menegaskan bahwa balon udara yang dilepas bebas tanpa kendali memiliki risiko fatal jika tersedot ke dalam mesin pesawat atau menutupi pandangan kokpit.
"Kita mendukung pelestarian tradisi, namun aspek keselamatan penerbangan tidak boleh diabaikan. Balon yang lepas bisa berbahaya jika berada di ketinggian yang sama dengan pesawat," tegasnya.
Meskipun festival berjalan tertib, AirNav mencatat masih adanya temuan balon udara liar di beberapa wilayah seperti Kebumen dan Pekalongan, sehingga sosialisasi kepada masyarakat akan terus diperketat.
Kini, Festival Balon Udara Wonosobo tidak hanya sekadar warisan budaya lokal, tetapi telah resmi menjadi ikon pariwisata nasional yang mampu menarik minat wisatawan mancanegara.
Sinergi antara pelestarian budaya dan kepatuhan terhadap aturan penerbangan diharapkan dapat menjadikan festival ini sebagai model percontohan wisata berbasis tradisi yang aman dan mendunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Angin Kencang di Prambanan: Belasan Rumah Rusak dan Joglo Roboh
- Ansyari Lubis Minta PSS Sleman Tampil Maksimal Lawan Kendal Tornado
- Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026: Tarif Rp8.000
- Akses Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Ditutup Sementara, Ini Alasannya
Advertisement
Advertisement








