Empat Perwira Raih Adhi Makayasa 2026, Tiga Alumni Taruna
Empat perwira terbaik meraih Adhi Makayasa 2026. Tiga di antaranya alumni SMA Taruna Nusantara dan menerima pangkat dari Prabowo.
Foto ilustrasi. /Reuters-Srdjan Zivulovic
Harianjogja.com, SEMARANG— Peredaran obat-obatan berbahaya jenis pil koplo di Jawa Tengah terbongkar setelah polisi menyita ribuan butir dari dua lokasi berbeda, yakni tempat tambal ban di Kota Pekalongan dan ruko di Kabupaten Karanganyar. Tiga orang pelaku telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
Polisi masih memburu pemasok utama yang diduga menyuplai barang kepada tersangka MI. Sementara itu, ketiga pelaku kini dijerat dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. "Kami memburu untuk pemasok utamanya" kata Direktur Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah, Yos Guntur Susanto.
Ia mengungkapkan penindakan terhadap peredaran pil koplo dilakukan pada Kamis (16/4/2026). Dari operasi tersebut, pihaknya menemukan berbagai jenis pil koplo seperti Yarindo, Hexymer, Trihexyphenidyl, hingga Tramadol.
"Pengungkapan pertama terjadi di Kelurahan Podosugih, Kota Pekalongan. Polisi mengamankan AF [27], warga Aceh Utara, saat berada di sebuah tempat tambal ban. Dari tas ransel yang dibawanya, ditemukan ribuan butir obat-obatan berbahaya," katanya sebagaimana dilansir Antara, Sabtu (18/4/2026).
Pengembangan kasus kemudian mengarah ke tempat indekos pelaku di Kelurahan Kauman, Kota Pekalongan. Di lokasi tersebut, petugas kembali menemukan ribuan pil serupa yang siap diedarkan oleh para pelaku.
Dari hasil pemeriksaan, AF mengaku telah menjalankan aktivitas peredaran pil koplo selama sekitar sembilan bulan. Ia memperoleh barang dari seseorang dan menerima upah sekitar Rp3 juta per bulan.
Ia menambahkan pada kasus kedua petugas berhasil mengungkap di Kelurahan Gaum, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar. Di sebuah ruko, polisi menangkap GS, 27, yang kedapatan menjual ratusan butir pil koplo berbagai jenis. Pelaku mengklaim dirinya hanya mendapatkan upah Rp50.000 per hari untuk mengedarkan obat berbahaya tersebut.
“Pelaku ini mengaku hanya bertugas menjualkan obat-obatan berbahaya ini dengan upah Rp50 ribu per hari,” ujar Yos.
Petugas kemudian melakukan pengembangan lanjutan. Adapun hasil pengembangan kasus tersebut membawa petugas ke sebuah indekos di Kecamatan Bejen, Kabupaten Karanganyar. Di lokasi ini, polisi mengamankan MI, 29, di mana polisi menemukan ribuan butir obat-obatan berbahaya yang disimpan.
Polisi masih memburu pemasok utama yang diduga menyuplai barang kepada tersangka MI. Sementara itu, ketiga pelaku kini dijerat dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. "Kami memburu untuk pemasok utamanya"
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Empat perwira terbaik meraih Adhi Makayasa 2026. Tiga di antaranya alumni SMA Taruna Nusantara dan menerima pangkat dari Prabowo.
Revisi Permenaker outsourcing diklaim rampung. Pekerja alih daya nantinya hanya diperbolehkan untuk empat jenis pekerjaan penunjang.
Kepala BGN Sudaryono meminta masyarakat melaporkan oknum yang mengatasnamakan dirinya untuk menekan petugas Program Makan Bergizi Gratis.
Pemkab Magelang mengingatkan kepala desa agar transparan mengelola dana desa dan peduli terhadap kenakalan remaja menjelang Pilkades Serentak 2026.
Konsumsi Pertalite meningkat pada Juli 2026. Pemerintah disarankan menyiapkan tambahan kuota BBM subsidi sebesar 1,5 hingga 2 juta kL.
Layanan jemput bola e-KTP di Kulonprogo mempermudah penyandang disabilitas mengakses layanan administrasi dan program pemerintah.