Asosiasi Pelaku Pariwisata Tolak Larangan Study Tour

Adhik Kurniawan
Adhik Kurniawan Kamis, 16 Mei 2024 07:47 WIB
Asosiasi Pelaku Pariwisata Tolak Larangan Study Tour

Ilustrasi siswa sekolah/JIBI

Harianjogja.com, SEMARANG—Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) menolak larangan study tour yang diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah (Jateng). ASPPI menentang kebijakan tersebut karena dianggap merugikan pelaku biro perjalanan wisata.

Ketua ASPPI Jateng, Setyo Legowo secara tegas menolak terkait larangan study tour bagi SMA dan SMK negeri di Jateng itu. Di sisi lain asosiasi sama sekali tak pernah dilibatkan dalam musyawarah pengambilan keputusan.

BACA JUGA : Larangan Study Tour Pemprov Jateng dan DKI Jakarta Berdampak pada Kunjungan Wisata, Dispar Bantul Pasrah

“Saya sangat menyayangkan dengan kembali keluarnya larangan study tour. Saya pribadi juga menolak larangan itu. Padahal kan swasta saja boleh [study tour], kenapa negeri tidak boleh,” kata Setyo kepada JIBI/Solopos, Rabu (15/5/2024).

ASPPI Jateng memahami maksud dari kebijakan Disdikbud Jateng melarang penyelenggaraan study tour di kalangan pelajar SMA dan SMK. Hal itu dilakukan guna mencegah terjadinya peristiwa kecelakaan maut bus pariwisata yang melibatkan pelajar SMA atau SMK seperti yang terjadi di Subang, Jawa Barat (Jabar), beberapa hari lalu.

Disdikbud Jateng tidak lantas melarang seluruh kegiatan study tour. Menurutnya harus lebih bijak dengan menerapkan pengetatan dalam pemilihan armada bus bagi satuan pendidikan yang akan menggelar study tour. Setyo tak menampik bila masih ada satuan pendidikan maupun biro travel yang tak mengindahkan hal tersebut. Sebab, ada sejumlah pihak yang menginginkan harga murah sehingga tak memperhatikan faktor keselamatan.

“Maka di sini artinya baik biro maupun satuan pendidikan harus sama-sama aware [peduli], jangan hanya mengejar harga murah biar dapat banyak [pesanan],” ujarnya.

BACA JUGA : Cegah Kecelakaan, Ini Aturan Disdikpora Kota Jogja Terkait Operasional Bus Study Tour

Setyo juga menyampaikan, pelarangan bagi satuan pendidikan untuk study tour ini bakal mematikan salah satu pendapatan biro travel. Ia juga tak setuju bila study tour ini disebut-sebut tak memberi dampak pada pendapatan asli daerah (PAD) Jateng.

“Bagi pelaku wisata manfaatnya sangat besar, wisata sampai UMKM [usaha kecil, mikro dan menengah] kan berkesinambungan. Rumah makan pinggir jalan tempat wisata pasti ramai kalau musim study tour,” ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online