Ratusan Naskah Kuno Ditemukan di Rumah Kosong di Boyolali
Pemkab Boyolali menemukan ratusan naskah kuno koleksi Cipto Raharjo. Sebagian telah didigitalisasi untuk pelestarian.
Kraton Surakarta Hadiningrat di Solo, Jawa Tengah. - Antara
Harianjogja.com.com, SOLO—Perayaan Sekaten digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo cukup menjadi daya tarik bagi masyarakat. Tidak hanya soal pasar rakyat, wahana permainan, wisata belanja atau kuliner tradisionalnya namun juga deretan mitos yang melingkupi tradisi tahunan yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Bahkan, banyak orang yang berkunjung ke Sekaten karena masih memercayai mitos-mitos tersebut.
Budayawan, Herry Lisbijanto, dalam bukunya berjudul Sekaten mengatakan setidaknya ada empat mitos dalam perayaan Sekaten yang masih dipercaya masyarakat. Empat mitos tersebut yakni:
Gunungan Sekaten atau gunungan Grebeg Mulud merupakan acara puncak dalam perayaan Sekaten di Keraton Solo. Gunungan ini terbuat dari berbagai jenis makanan, sayur-mayur, serta kebutuhan makanan sehari-hari. Gunungan itu menjadi simbol pemberian raja kepada rakyatnya.
Setelah didoakan gunungan itu dibawa keluar untuk dirayah (jadi rebutan) banyak orang. Hal itu dikarenakan masyarakat percaya ketika memperoleh bagian dari gunungan tersebut mereka akan mendapatkan keberkahan dalam hidup dan cita-citanya bisa terkabul.
Janur (daun kepala muda) yang dipakai untuk menghias area gamelan Sekaten ditabuh, yakni Bangsal Pradangga Kidul dan Bangsal Pradangga Lor di halaman Masjid Agung Solo dipercaya banyak orang bisa membawa rezeki bagi yang mendapatkannya.
Pada saat Gamelan Guntur Madu dibunyikan, masyarakat akan berebut janur hias tersebut untuk disimpan di dalam rumahnya.
Pada saat Gamelan Guntur Madu dibunyikan, banyak pengunjung Sekaten yang langsung mengunyah kinang yang terdiri dari daun sirih, injet, tembakau, bunga kantil.
Masyarakat percaya dengan mengunyah kinang bersamaan dengan gamelan tersebut dibunyikan untuk kali pertama akan mendapatkan manfaat berupa tubuh yang awet muda.
Masyarakat percaya dengan membeli telur asin atau biasa disebut endog amal di Sekaten Solo, orang tersebut akan memperoleh kebaikan dan segala amal ibadahnya diterima Tuhan Yang Maha Esa.
Maka tidak mengherankan selama acara Sekaten digelar ada penjual telur asin atau endog amal dan jumlahnya tidak sedikit. Dilansir Solopos Senin (9/9/2024), di area penyelenggaraan Sekaten khususnya di sekitaran Masjid Agung Solo, banyak dijumpai pedagang kinang dan telur asin yang laris manis diburu pengunjung.
Fenomena pengunjung berebut janur di Bangsal Pradangga atau tempat gamelan Sekaten dimainkan juga masih berlangsung saat gamelan kali pertama ditabuh pada Senin. Termasuk pengunjung yang nginang (mengunyah kinang) bersamaan dengan ditabuhnya Gamelan Guntur Madu untuk kali pertama.
Salah satu pengunjung yang masih memercayai mitos tersebut adalah Waluyo. Pria asal Bekonang, Sukoharjo, tersebut meyakini nginang sambil mendengarkan gamelan Sekaten bisa membuat awet muda. Dia sudah dua tahun ini melakukan tradisi ini dan merasa memperoleh khasiatnya.
“Saya nginang karena saya yakin bahwa bisa bikin awet muda. Ini adalah tahun kedua saya melaksanakan tradisi ini karena memang terasa khasiatnya. Tapi itu kembali ke pribadi masing-masing, mau percaya boleh, tidak juga tidak masalah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Boyolali menemukan ratusan naskah kuno koleksi Cipto Raharjo. Sebagian telah didigitalisasi untuk pelestarian.
Prediksi PSG vs Aston Villa di Piala Super Eropa 2026, lengkap dengan head to head, susunan pemain, dan peluang kedua tim.
Transformasi TelkomGroup Mulai Tunjukkan Hasil, InfraNexia Catat Kinerja Positif Perkuat Infrastruktur Digital Nasional
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta dugaan penistaan agama di festival musik Ancol diproses hukum.
Program beasiswa santri dan pengasuh pondok pesantren tahun 2026 yang digulirkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, membuka peluang dan harapan
Produksi perikanan budi daya Gunungkidul mencapai 7.119 ton hingga Juni 2026. Lele mendominasi dengan produksi lebih dari 6.168 ton.