Kenangan Terakhir Keluarga Bersama Hariyadi Korban ATR 42-500 Karangan

Indah Septiyaning Wardhani
Indah Septiyaning Wardhani Minggu, 25 Januari 2026 15:47 WIB
Kenangan Terakhir Keluarga Bersama Hariyadi Korban ATR 42-500 Karangan

Hariyadi korban ATR 42-500 Karanganyar saat tiba di rumah duka. /Espos.

Harianjogja.com, KARANGANYAR—Momen komunikasi terakhir dengan almarhum Hariyadi, korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 asal Karanganyar, meninggalkan kenangan hangat bagi keluarga sebelum tugas negara menjemputnya

Adik ipar almarhum Hariyadi, Abdullah Said, mengenang komunikasi terakhir dengan Hariyadi sebelum korban menjalankan tugas penerbangan yang berujung tragis.

“Terakhir komunikasi dengan keluarga itu hari Sabtu pagi. Masih sempat video call dengan istri dan anggota keluarga. Kemudian malamnya beliau menelepon orang tua untuk berpamitan,” ujar Abdullah saat ditemui di rumah duka, Minggu (25/1/2026).

Abdullah menegaskan, selama panggilan video, almarhum tidak menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran. Berpamitan sebelum bertugas memang menjadi kebiasaan rutin Hariyadi.

“Tidak ada cerita apa-apa yang membuat cemas. Beliau memang selalu pamitan sebelum berangkat. Itu sudah menjadi kebiasaan beliau setiap bertugas,” tambah Abdullah.

Sosok Hariyadi dikenal hangat dan dekat dengan keluarga maupun lingkungan sekitar. Abdullah menyebut kehadiran almarhum selalu membawa kehangatan, tidak membedakan keluarga kandung maupun keluarga ipar.

“Kami semua merasakan kehangatan dan kasih sayangnya. Beliau memperlakukan semua orang dengan hangat, termasuk keponakan dan adik ipar,” ungkap Abdullah.

Bapak almarhum, Supardi, juga mengenang komunikasi terakhirnya dengan putra sulungnya sebelum kecelakaan. Ia terakhir berbicara dengan Hariyadi pada Jumat malam.

“Terakhir komunikasi Jumat malam. Kami sempat teleponan. Dia bilang, ‘Bapak sudah sembuh, saya besok berangkat,’” tutur Supardi, yang baru pulih dari stroke.

Selama hidup, Hariyadi dikenal anak sulung yang perhatian pada keluarga, lingkungan, dan kerabat. Banyak tetangga dan warga sekitar berdatangan ke rumah duka memberikan dukungan dan doa, sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi almarhum, yang gugur menjalankan tugas negara sebagai Flight Operation Officer (FOO).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Espos

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online