Dugaan Kekerasan di SMPN 18 Malang, 8 Pelajar Diperiksa
Polresta Malang Kota memeriksa delapan pelajar SMPN 18 yang diduga menjadi korban kekerasan mantan kepala sekolah berinisial MAH.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji evaluasi tradisi Gerebeg Ketupat 2026. Simak makna simbolis angka tujuh dan filosofi 'ngaku lepat' di sini. /Antara.
Harianjogja.com, MAGELANG—Pemerintah Kabupaten Magelang kembali menghidupkan tradisi tahunan Gerebeg Ketupat sebagai momentum sakral pascaIdulfitri 1447 H untuk mempererat sinergi antara birokrasi dan rakyat.
Acara yang berlangsung meriah ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan manifestasi visi pembangunan daerah yang inklusif di bawah kepemimpinan Bupati Magelang, Grengseng Pamuji.
Dalam keterangannya pada Sabtu (28/3/2026), Bupati menegaskan bahwa kerumunan massa yang menyatu dalam tradisi ini merupakan simbol kekuatan kolektif untuk mewujudkan cita-cita Kabupaten Magelang yang lebih maju.
Secara filosofis, Bupati Grengseng menjelaskan bahwa ketupat memuat pesan mendalam tentang kerendahan hati dan introspeksi diri bagi seluruh elemen masyarakat serta jajaran pemerintah daerah.
Istilah ketupat yang identik dengan ngaku lepat atau mengakui kesalahan, menjadi fondasi moral untuk memperbaiki kinerja pembangunan di masa depan. "Ketupat ini melambangkan ngaku lepat. Ini menjadi modal kita, termasuk pemerintah daerah, untuk terus memperbaiki diri dalam pembangunan ke depan," ungkap Grengseng saat meninjau lokasi acara.
Namun, tingginya animo masyarakat yang saling berebut gunungan ketupat memicu catatan khusus bagi pihak penyelenggara terkait aspek keamanan dan ketertiban di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Magelang menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola pelaksanaan kegiatan guna menghindari risiko insiden seperti warga yang terinjak atau cidera akibat desak-desakan.
Evaluasi teknis akan difokuskan pada pengaturan waktu "nggrebeg" dan alur massa agar kemeriahan budaya ini tetap berjalan nyaman dan memberikan manfaat spiritual yang besar bagi semua pihak.
Uniknya, dalam prosesi tahun ini, jumlah gunungan ketupat yang disiapkan memiliki makna simbolis yang sangat spesifik melalui penggunaan angka tujuh. Angka tersebut dipercaya merepresentasikan pitulungan atau pertolongan serta pitutur yang berarti nasihat luhur dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Melalui simbolisme ini, Pemerintah Kabupaten Magelang menggantungkan harapan besar agar wilayah tersebut senantiasa mendapatkan limpahan rahmat, perlindungan, dan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa di tengah dinamika pembangunan yang sedang berjalan.
Lebih dari sekadar keriuhan pesta rakyat, Gerebeg Ketupat diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas yang kuat di hati sanubari warga Magelang. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus melestarikan agenda ini dengan manajemen yang lebih profesional pada tahun-tahun mendatang tanpa menghilangkan esensi budayanya.
Harmonisasi antara pelestarian tradisi leluhur dan perbaikan tata kelola ini menjadi kunci utama agar Kabupaten Magelang tidak hanya unggul secara fisik, tetapi juga kaya akan nilai etika dan kesantunan sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Polresta Malang Kota memeriksa delapan pelajar SMPN 18 yang diduga menjadi korban kekerasan mantan kepala sekolah berinisial MAH.
28 September 2026 diperingati sebagai Hari Kereta Api Nasional, Hari Pertambangan dan Energi, Hari Hak untuk Tahu, dan Hari Rabies Sedunia.
28 September 2026 diperingati sebagai Hari Kereta Api Nasional, Hari Pertambangan dan Energi, Hari Hak untuk Tahu, dan Hari Rabies Sedunia.
Prakiraan cuaca DIY Senin, 28 September 2026: suhu maksimum 33°C, udara kabur di Kota Jogja, Bantul, dan Kulonprogo. Cek rinciannya.
Cek jadwal SIM Keliling Jogja Senin 28 September 2026, lokasi layanan, jam operasional, serta syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Cek jadwal SIM Sleman Senin 28 September 2026, lokasi pelayanan, jam buka, jenis layanan, dan syarat perpanjangan SIM A serta SIM C.