Pemda DIY Jamin Perlindungan 11 Bayi Dievakuasi dari Rumah Bidan Pakem
Pemda DIY menjamin perlindungan 11 bayi yang dievakuasi dari day care ilegal di Sleman, termasuk biaya pengobatan dan pemulihan kesehatan.
Foto ilustrasi. /Reuters-Srdjan Zivulovic
Harianjogja.com, SEMARANG— Peredaran obat-obatan berbahaya jenis pil koplo di Jawa Tengah terbongkar setelah polisi menyita ribuan butir dari dua lokasi berbeda, yakni tempat tambal ban di Kota Pekalongan dan ruko di Kabupaten Karanganyar. Tiga orang pelaku telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
Polisi masih memburu pemasok utama yang diduga menyuplai barang kepada tersangka MI. Sementara itu, ketiga pelaku kini dijerat dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. "Kami memburu untuk pemasok utamanya" kata Direktur Reserse Narkoba Polda Jawa Tengah, Yos Guntur Susanto.
Ia mengungkapkan penindakan terhadap peredaran pil koplo dilakukan pada Kamis (16/4/2026). Dari operasi tersebut, pihaknya menemukan berbagai jenis pil koplo seperti Yarindo, Hexymer, Trihexyphenidyl, hingga Tramadol.
"Pengungkapan pertama terjadi di Kelurahan Podosugih, Kota Pekalongan. Polisi mengamankan AF [27], warga Aceh Utara, saat berada di sebuah tempat tambal ban. Dari tas ransel yang dibawanya, ditemukan ribuan butir obat-obatan berbahaya," katanya sebagaimana dilansir Antara, Sabtu (18/4/2026).
Pengembangan kasus kemudian mengarah ke tempat indekos pelaku di Kelurahan Kauman, Kota Pekalongan. Di lokasi tersebut, petugas kembali menemukan ribuan pil serupa yang siap diedarkan oleh para pelaku.
Dari hasil pemeriksaan, AF mengaku telah menjalankan aktivitas peredaran pil koplo selama sekitar sembilan bulan. Ia memperoleh barang dari seseorang dan menerima upah sekitar Rp3 juta per bulan.
Ia menambahkan pada kasus kedua petugas berhasil mengungkap di Kelurahan Gaum, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar. Di sebuah ruko, polisi menangkap GS, 27, yang kedapatan menjual ratusan butir pil koplo berbagai jenis. Pelaku mengklaim dirinya hanya mendapatkan upah Rp50.000 per hari untuk mengedarkan obat berbahaya tersebut.
“Pelaku ini mengaku hanya bertugas menjualkan obat-obatan berbahaya ini dengan upah Rp50 ribu per hari,” ujar Yos.
Petugas kemudian melakukan pengembangan lanjutan. Adapun hasil pengembangan kasus tersebut membawa petugas ke sebuah indekos di Kecamatan Bejen, Kabupaten Karanganyar. Di lokasi ini, polisi mengamankan MI, 29, di mana polisi menemukan ribuan butir obat-obatan berbahaya yang disimpan.
Polisi masih memburu pemasok utama yang diduga menyuplai barang kepada tersangka MI. Sementara itu, ketiga pelaku kini dijerat dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. "Kami memburu untuk pemasok utamanya"
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pemda DIY menjamin perlindungan 11 bayi yang dievakuasi dari day care ilegal di Sleman, termasuk biaya pengobatan dan pemulihan kesehatan.
Katedral Jakarta gelar 4 misa Kenaikan Yesus 2026, 2.300 umat hadir. Polisi amankan 860 gereja selama libur panjang.
Xi Jinping dan Donald Trump sepakat bangun hubungan baru China-AS, tapi isu Taiwan jadi ancaman serius konflik global.
Leo/Daniel melaju ke perempat final Thailand Open 2026 usai kalahkan wakil China. Siap hadapi tuan rumah dengan permainan agresif.
Gunungkidul ajukan pembangunan 9 jembatan senilai Rp27 miliar. Gantikan crossway rawan banjir demi kelancaran akses warga.
Disbud Bantul angkat sejarah Tan Djin Sing dan Madukismo. Generasi muda diajak memahami jejak Tionghoa di Jogja.