Kekeringan Meluas di Cilacap, 14.267 Warga Butuh Air Bersih

Newswire
Newswire Jum'at, 17 Juli 2026 12:37 WIB
Kekeringan Meluas di Cilacap, 14.267 Warga Butuh Air Bersih

Kekeringan - Ilustrasi StockCake

Harianjogja.com, CILACAP—Musim kemarau yang mulai mengeringkan sejumlah sumber air di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyebabkan kebutuhan bantuan air bersih terus meningkat. Hingga pertengahan Juli 2026, dampak kekeringan telah meluas ke 15 desa yang tersebar di sembilan kecamatan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap mencatat sebanyak 4.071 kepala keluarga (KK) atau sekitar 14.267 jiwa kini bergantung pada pasokan air bersih yang disalurkan pemerintah dan sejumlah pihak melalui program bantuan kemanusiaan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo, mengatakan hingga 16 Juli 2026 pihaknya telah mendistribusikan 74 tangki air bersih dengan total volume mencapai 390 ribu liter untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

"Hingga kemarin sudah ada 15 desa yang mengajukan permohonan bantuan air bersih di sembilan kecamatan. Sampai saat ini kami sudah mengirim 74 tangki air bersih atau sekitar 390 ribu liter," kata Taryo, Jumat (17/7/2026).

Menurut dia, desa-desa yang mengajukan bantuan merupakan wilayah yang hampir setiap tahun menghadapi persoalan serupa saat musim kemarau. Menurunnya debit mata air dan sumur warga membuat pasokan air bersih harus dibantu melalui distribusi tangki air.

Meski hingga kini belum ditemukan desa baru yang pertama kali terdampak kekeringan, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, puncak musim kemarau diperkirakan baru akan terjadi pada Agustus hingga September mendatang.

"Kami mengantisipasi betul dinamika yang ada di masyarakat. Puncak musim kemarau diperkirakan pada Agustus, bahkan mungkin sampai September," ujarnya.

Berdasarkan data BPBD Cilacap, desa yang telah menerima bantuan air bersih meliputi Desa Klumprit dan Kedungbenda di Kecamatan Nusawungu, Desa Karangkemiri di Kecamatan Jeruklegi, serta Desa Cinangsi, Kertajaya, dan Gintungreja di Kecamatan Gandrungmangu.

Bantuan juga disalurkan ke Desa Cimrutu, Rawaapu, dan Sidamukti di Kecamatan Patimuan. Selain itu, distribusi air bersih menjangkau Desa Ujungalang di Kecamatan Kampung Laut, Desa Karangbenda di Kecamatan Adipala, Desa Madura di Kecamatan Wanareja, Desa Bojong dan Kubangkangkung di Kecamatan Kawunganten, serta Desa Binangun di Kecamatan Bantarsari.

Dari total 390 ribu liter air bersih yang telah didistribusikan, sebanyak 233 ribu liter atau setara 50 tangki berasal dari anggaran Pemerintah Kabupaten Cilacap melalui APBD.

Sementara sisanya berasal dari dukungan berbagai pihak melalui program tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR). Sebanyak 105 ribu liter air disalurkan oleh PMI Kabupaten Cilacap melalui 21 tangki air, sedangkan Siaga Peduli Kabupaten Cilacap menyumbang tiga tangki atau sekitar 24 ribu liter air bersih.

Selain fokus pada pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD Cilacap juga memantau potensi bencana lain yang kerap muncul saat musim kemarau, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut Taryo, hingga pertengahan Juli belum terdapat laporan kebakaran hutan dan lahan dalam skala besar di wilayah Cilacap. Sejumlah kejadian yang muncul masih bersifat lokal dan tidak menimbulkan dampak luas.

"Kalau laporan karhutla yang besar belum ada. Yang ada hanya kebakaran kecil seperti yang sempat terjadi di sekitar TPU Congot. Untuk kebakaran hutan dan lahan sampai saat ini alhamdulillah belum ada laporan," katanya.

BPBD Cilacap memastikan akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan kebutuhan masyarakat di lapangan. Langkah antisipasi juga terus disiapkan, baik untuk menghadapi kemungkinan meluasnya wilayah terdampak kekeringan maupun mencegah munculnya kebakaran hutan dan lahan saat puncak musim kemarau berlangsung.

Dengan prediksi kemarau yang masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, kebutuhan bantuan air bersih diperkirakan masih akan meningkat. Karena itu, sinergi pemerintah, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama musim kering berlangsung.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online