Fenomena Upwelling di Waduk Kedung Ombo Tewaskan 10 Ton Ikan

Suharsih
Suharsih Minggu, 26 Juli 2026 23:27 WIB
Fenomena Upwelling di Waduk Kedung Ombo Tewaskan 10 Ton Ikan

Ribuan ikan yang mati di Waduk Kedung Ombo, Boyolali/Istimewa

Harianjogja.com, BOYOLALI—Fenomena upwelling di Waduk Kedung Ombo (WKO) di Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, menyebabkan sekitar 10 ton ikan milik petani karamba jaring apung (KJA) mati. Peristiwa yang terjadi sejak Jumat (24/7/2026) itu mengakibatkan kerugian hingga Rp247 juta yang dialami 15 pembudidaya ikan.

Kondisi air di WKO hingga Minggu (26/7/2026) dilaporkan belum membaik. Para petani telah melakukan berbagai upaya penanganan, mulai dari menggeser karamba hingga memompa air untuk meningkatkan kadar oksigen di dalam air.

Ketua Petani KJA Dukuh Bulu, Jono, mengatakan fenomena upwelling mulai terjadi pada Jumat pagi, tidak lama setelah kejadian serupa terjadi di wilayah Waduk Kedung Ombo di Kabupaten Sragen.

“Jumat itu kami sudah wawas, kami menggeser karamba hingga memompa air biar oksigen air ada. Lalu ikannya mulai mengapung mati pada Sabtu sampai sekarang masih belum membaik kondisi airnya. Total 10 ton ikan yang mati,” kata dia saat dihubungi Espos, Minggu (26/7/2026).

Jono menjelaskan, kejadian tersebut telah dilaporkan kepada Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali pada Minggu pagi. Dalam laporan itu, petani juga menyampaikan kebutuhan pompa air untuk membantu menjaga kadar oksigen di dalam air.

Menurutnya, saat fenomena upwelling terjadi, cuaca di lokasi cukup panas disertai embusan angin yang cukup kencang dan dingin. Kondisi tersebut menyebabkan suhu di permukaan air lebih dingin dibandingkan suhu di bawah permukaan sehingga terjadi perpindahan massa air yang mengangkat sisa kotoran mengandung amonia ke permukaan.

Kotoran yang mengandung amonia itu kemudian meracuni ikan-ikan yang dibudidayakan di karamba milik kelompok petani.

“Untuk ikan mas harganya per kilogram Rp25.000, mati 8 ton. Ikan patin mati satu ton, harganya Rp20.000 per kilogram, ikan nila mati satu ton, harganya Rp27.000 per kilogram,” katanya.

Sekretaris Disnakkan Kabupaten Boyolali, Agus Pramudi Rahardjo, membenarkan pihaknya telah menerima laporan terkait kejadian tersebut. Ia menyebut fenomena upwelling mulai terjadi pada Jumat pagi.

“Adanya faktor lingkungan yang diindikasikan sebagai penyebab upwelling berasal dari angin sore hingga malam dari wilayah Ngasinan, Sragen. Kerugian sebanyak 10 ton terdiri dari 15 pembudidaya KJA Pokdakan Mina Mandiri,” kata dia.

Agus merinci kerugian yang dialami petani terdiri atas satu ton ikan nila dengan total kerugian Rp27 juta, delapan ton ikan karper atau ikan mas dengan total kerugian Rp200 juta, serta satu ton ikan patin dengan nilai kerugian Rp20 juta.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disnakkan Kabupaten Boyolali, Ahmad Gojali, mengatakan petani telah melakukan langkah awal penanganan berupa pemberian kucuran air menggunakan pompa dan menggeser posisi karamba.

“Petani KJA juga berharap mendapatkan bantuan pompa air untuk antisipasi dan kompensasi kerugian yang diberikan kepada mereka yang terdampak,” kata dia.

Disnakkan Kabupaten Boyolali selanjutnya akan melakukan pendataan terhadap masing-masing petani KJA yang tergabung dalam kelompok pembudidaya terdampak.

Selain itu, upaya preventif juga akan dilakukan dengan tetap menggeser karamba dan mengurangi pemberian pakan selama musim yang berpotensi memicu upwelling.

“Lapor juga kepada atasan, bupati/wakil bupati berkaitan dengan upaya bantuan atau insentif,” kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Solopos

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis