Ratusan Naskah Kuno Ditemukan di Rumah Kosong di Boyolali

Nimatul Faizah
Nimatul Faizah Rabu, 05 Agustus 2026 14:17 WIB
Ratusan Naskah Kuno Ditemukan di Rumah Kosong di Boyolali

Naskah kuno milik Cipto Raharjo yang didigitalisasi oleh Dinas Arpus Boyolali di kantor desanya, Rabu (5/8/2026). /Solopos/-i'matul Faizah.

Harianjogja.com, BOYOLALI—Ratusan naskah kuno ditemukan di sebuah rumah yang telah lama tidak berpenghuni di Dukuh Tumang Tempel, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Koleksi manuskrip tersebut merupakan peninggalan Cipto Raharjo, seorang cendekiawan, budayawan, sekaligus penulis asal Tumang, yang kini mulai didigitalisasi oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Boyolali untuk menjaga kelestariannya.

Penemuan itu membuka peluang baru bagi kajian sejarah, kebudayaan, hingga perkembangan keilmuan Islam di lereng Merapi. Sejumlah manuskrip yang ditemukan bahkan diperkirakan berasal dari awal abad ke-20 dan dinilai memiliki nilai historis yang tinggi.

Terungkap Setelah Rumah Bertahun-tahun Kosong

Kepala Desa Cepogo, Dipo Mawardi, mengatakan rumah milik mendiang Cipto Raharjo telah kosong sejak pemiliknya meninggal dunia pada awal 2000-an. Sejak saat itu, koleksi buku dan manuskrip di dalam rumah tidak lagi tersentuh.

"Jadi itu sebenarnya macam perpustakaan keluarga milik Mbah Cipto Raharjo. Jadi itu sebenarnya arsip keluarga. Begitu beliau meninggal dan anak-anaknya tidak ada yang menempati," kata Dipo kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).

Temuan tersebut bermula saat Dinas Arpus Boyolali melakukan sosialisasi penelusuran naskah kuno. Dipo kemudian mengingat cerita keluarga bahwa Cipto Raharjo memiliki cita-cita membangun perpustakaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Setelah memperoleh persetujuan dari ahli waris, tim memasuki rumah tersebut dan menemukan ratusan manuskrip yang selama ini tersimpan. Hingga kini, sekitar tujuh naskah telah melalui proses digitalisasi.

"Naskah yang didigitalisasi ada soal primbon Jawa, doa-doa berbahasa Arab yang diartikan dengan aksara Jawa, lalu Safinatun Najah yang ditulis 1917–1938, entah itu beliau melanjutkan tulisan orang tua, lalu petung Jawa, dan sebagainya. Itu ditulis tangan juga," ujar Dipo.

Digitalisasi Libatkan Filolog UNS dan Sraddha Institute

Pustakawan Ahli Pertama Dinas Arpus Boyolali, Anang Abdul Harahab, menjelaskan penelusuran dan identifikasi naskah di Tumang dilakukan pada Selasa (4/8/2026). Kegiatan serupa juga dilakukan di Pusporenggo, Musuk, Wonodoyo, Cepogo, hingga Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin di Andong bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).

Dalam proses identifikasi dan digitalisasi, Dinas Arpus bekerja sama dengan filolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Sraddha Institute untuk menentukan manuskrip yang menjadi prioritas pelestarian.

"Terkait kegiatan digitalisasi naskah ini, baik secara keseluruhan maupun sebagian, kami menggandeng para ahli filologi. Para filolog ini lebih memahami manuskrip mana saja yang perlu diprioritaskan untuk didigitalisasi terlebih dahulu," kata Anang.

Setelah seluruh proses digitalisasi dan konservasi selesai, naskah fisik akan dikembalikan kepada ahli waris. Dinas Arpus juga akan menyediakan tempat penyimpanan yang lebih layak agar koleksi tetap terjaga.

Selain itu, hasil digitalisasi akan didaftarkan ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan diunggah ke perpustakaan digital Remen Maos.

"Naskah yang sudah didigitalisasi juga akan didaftarkan ke Perpusnas dan diunggah ke perpustakaan digital Remen Maos," ujarnya.

Anang berharap koleksi peninggalan Cipto Raharjo dapat menjadi fondasi lahirnya pusat literasi di Tumang.

"Kami ingin ada perpustakaan khusus di Tumang, dan di dalamnya ada koleksi dari Mbah Cipto. Koleksinya banyak dan ada banyak referensi dari tulisan tangan beliau, panduan batik, panduan haji, dan sebagainya. Semoga bisa terealisasi," katanya.

Kitab Safinatun Najah Ungkap Jejak Keilmuan Lereng Merapi

Filolog Universitas Sebelas Maret (UNS), Asep Yudha Wirajaya, menilai salah satu temuan paling penting adalah manuskrip Safinatun Najah, kitab fikih yang hingga kini masih dipelajari di banyak pondok pesantren tradisional, terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Menurutnya, keberadaan kitab tersebut menunjukkan adanya jaringan transmisi keilmuan Islam yang telah menjangkau kawasan Tumang sejak awal abad ke-20.

"Tumang kan daerah lereng gunung, dataran tinggi, dan di situ ada angka tahunnya 1917 M. Sementara kitab Safinah itu ditulis pada 1855 oleh Syekh Salim, lalu disempurnakan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani. Berarti ada transmisi keilmuan yang menurut saya sangat luar biasa dari pondok ke daerah Tumang," katanya.

Selain kitab fikih, tim juga menemukan naskah petung Jawa yang memuat kutipan ayat Al-Qur'an berbahasa Arab beserta terjemahan dalam aksara Jawa.

Asep menilai koleksi Cipto Raharjo layak dikembangkan menjadi perpustakaan khusus karena memuat referensi yang sangat lengkap, termasuk mengenai teknik membatik.

"Saya belum pernah menemukan buku soal batik yang sangat komprehensif itu. Beliau orang Tumang, lahir di situ, belajar otodidak bahasa Jawa, Arab, Belanda, dan bisa menuliskan secara komprehensif," ujarnya.

Ada Naskah Roman Tahun 1929 dan Ratusan Catatan Batik

Filolog Sraddha Institute, Rendra Agusta, menyebut manuskrip tertua yang ditemukan berasal dari rentang 1917 hingga 1950-an dengan menggunakan bahasa Jawa, Indonesia, dan Arab.

Salah satu koleksi yang menarik perhatian ialah naskah Roman Padusunan karya Mbah Padmo Sudarmo yang bertanggal Maret 1929.

"Di Tumang ternyata ada sastrawan Jawa modern," kata Rendra.

Menurutnya, penemuan ratusan manuskrip di rumah pribadi merupakan kasus yang sangat jarang terjadi karena koleksi sebesar itu umumnya ditemukan di lembaga, kantor, atau pondok pesantren.

Rendra juga menduga Cipto Raharjo memiliki pengetahuan mendalam mengenai dunia batik. Hal itu terlihat dari banyaknya catatan mengenai bahan, motif, teknik pembuatan, hingga cara mengukur kain yang ditulis dalam ratusan buku berbahasa Jawa beraksara Latin.

Meski sebagian besar koleksi masih dalam kondisi baik, beberapa manuskrip mengalami kerusakan akibat gigitan tikus.

"Untuk yang didigitalisasi, kami prioritaskan naskah beraksara non-Latin, seperti pegon, Arab, dan Jawa, karena paling sulit diakses. Sementara naskah beraksara Latin jumlahnya ratusan dan masih menunggu penelitian lebih lanjut untuk menyusun historiografi keluarga Cipto Raharjo," kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online