Kota Magelang Perkuat Kelurahan Hadapi Dampak Perubahan Iklim

Media Digital
Media Digital Rabu, 09 September 2026 18:07 WIB
Kota Magelang Perkuat Kelurahan Hadapi Dampak Perubahan Iklim

Kota Magelang memperkuat program DEKSI untuk menghadapi risiko kesehatan akibat perubahan iklim dengan melibatkan kelurahan dan masyarakat. /Istimewa.

Harianjogja.com, MAGELANG—Pemerintah Kota Magelang memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai risiko kesehatan yang muncul akibat perubahan iklim. Kelurahan ditempatkan sebagai garda terdepan melalui program Desa/Kelurahan Sehat Iklim (DEKSI) yang diarahkan untuk membangun ketahanan kesehatan masyarakat.

Program yang dijalankan Dinas Kesehatan Kota Magelang tersebut tidak hanya berorientasi pada persoalan lingkungan. DEKSI juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mencegah, dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang berpotensi mengancam kesehatan.

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan perubahan iklim perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan. Perubahan kondisi lingkungan, menurutnya, dapat memunculkan berbagai risiko yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Karena itu, pelaksanaan DEKSI membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Puskesmas, kecamatan dan kelurahan, organisasi perangkat daerah (OPD), kader, serta komunitas memiliki peran dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.

"DEKSI bukan sekadar program lingkungan. Ini adalah upaya membangun ketahanan kesehatan masyarakat," demikian disampaikan Damar dalam paparannya pada Orientasi Desa/Kelurahan Sehat Iklim Kota Magelang 2026 di Gedung Adipura Kencana, Kantor Pemkot Magelang, Rabu (9/9/2026).

Adaptasi Dimulai dari Pemetaan Risiko

Damar mengatakan upaya adaptasi terhadap perubahan iklim perlu diawali dengan mengenali risiko yang ada di lingkungan masyarakat. Pemerintah bersama masyarakat perlu memetakan kondisi dan kerentanan lingkungan untuk mengetahui potensi persoalan yang dapat muncul.

Selain kondisi lingkungan, pemetaan juga diperlukan untuk mengetahui kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Setelah risiko dan kelompok rentan diketahui, pemerintah bersama masyarakat dapat menentukan intervensi yang sesuai dan tepat sasaran.

Pendekatan dalam membangun ketahanan tersebut, lanjut Damar, harus disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah serta dilakukan secara inklusif. Kearifan lokal, semangat gotong royong, dan teknologi tepat guna dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi perubahan lingkungan.

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada kelompok rentan. Anak, perempuan, lanjut usia (lansia), dan penyandang disabilitas menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perlindungan lebih dalam menghadapi risiko kesehatan akibat perubahan iklim.

"Solusi tidak harus mahal. Manfaatkan sumber daya lokal untuk melindungi mereka yang paling rentan," ujarnya.

Baru Dua Kelurahan Bentuk DEKSI

Saat ini, Kota Magelang baru memiliki dua kelurahan yang telah terbentuk sebagai DEKSI. Kedua wilayah tersebut yakni Kelurahan Tidar Utara dan Kelurahan Rejowinangun Selatan yang dibentuk pada 2025.

Keberadaan dua kelurahan tersebut menjadi tahap awal dalam penerapan program Desa/Kelurahan Sehat Iklim di Kota Magelang. Pemerintah Kota Magelang selanjutnya menargetkan penerapan konsep tersebut dapat diperluas ke seluruh wilayah kota.

"Dua kelurahan tersebut menjadi fondasi untuk memperluas penerapan DEKSI ke seluruh wilayah Kota Magelang," imbuh Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang dr. Istikomah.

Menurut Istikomah, pelaksanaan DEKSI tidak berhenti pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai perubahan iklim. Kelurahan dan kader kesehatan juga diarahkan memiliki kemampuan untuk memetakan kerentanan wilayah masing-masing.

Pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun rencana aksi adaptasi kesehatan lingkungan. Dengan demikian, setiap kelurahan diharapkan dapat memiliki langkah yang sesuai dengan kondisi dan kerentanan wilayahnya masing-masing.

Libatkan Berbagai Unsur

Orientasi Desa/Kelurahan Sehat Iklim Kota Magelang 2026 menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pemahaman sekaligus kapasitas berbagai unsur yang terlibat dalam program tersebut.

Kegiatan tersebut diikuti unsur kesehatan, lingkungan, kebencanaan, pemerintahan wilayah, dan pemberdayaan masyarakat. Keterlibatan berbagai sektor diperlukan karena dampak perubahan iklim terhadap kesehatan memiliki keterkaitan dengan kondisi lingkungan, kebencanaan, pelayanan kesehatan, serta kapasitas masyarakat.

Melalui DEKSI, Pemerintah Kota Magelang mendorong kelurahan dan masyarakat tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi turut terlibat dalam mengenali risiko serta merancang langkah adaptasi di wilayah masing-masing.

Dengan menjadikan dua kelurahan yang telah terbentuk pada 2025 sebagai fondasi, penerapan DEKSI diharapkan dapat berkembang ke seluruh wilayah Kota Magelang. Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat di tengah perubahan kondisi lingkungan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online