Landmark Baru Kota Magelang, Monumen Paku Bumi Ditarget Rampung Akhir Tahun

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Kamis, 17 September 2026 18:57 WIB
Landmark Baru Kota Magelang, Monumen Paku Bumi Ditarget Rampung Akhir Tahun

Peletakan batu pertama pembangunan Monumen Paku Bumi yang dilakukan oleh Wali Kota Magelang Damar Prasetyono bersama pengusaha lokal (HK Gold) Slamet Santoso di Simpang Bayeman, Kamis (17/9/2026)./Istimewa-Dokumen Pemerintah Kota Magelang

Harianjogja.com, MAGELANG— Kota Magelang segera memiliki landmark baru berupa Monumen Paku Bumi. Pembangunan monumen tersebut resmi dimulai setelah peletakan batu pertama oleh Wali Kota Magelang Damar Prasetyono bersama pengusaha lokal (HK Gold) Slamet Santoso di Simpang Bayeman, Kamis (17/9/2026).

Monumen Paku Bumi dirancang memiliki tinggi sekitar 15 meter dengan diameter 8,5 meter. Bangunan tersebut mengangkat filosofi Gunung Tidar sebagai Pakuning Tanah Jawa sekaligus diharapkan memperkuat identitas dan kebanggaan masyarakat Kota Magelang.

Pembangunan monumen ini diprakarsai oleh Slamet Santoso bersama keluarganya.

Simpang Bayeman Dipilih Jadi Lokasi

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menjelaskan Simpang Bayeman dipilih sebagai lokasi pembangunan karena berada dekat dengan Gunung Tidar. Selain itu, lokasi tersebut merupakan titik persimpangan pertigaan terbesar di Kota Magelang.

Menurut Damar, ukuran kawasan menjadi salah satu pertimbangan karena monumen yang dibangun memiliki ukuran cukup besar. Penataan ruang di sekitar lokasi juga dilakukan agar keberadaan monumen tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

"Pertigaan di sini paling besar, artinya butuh space yang cukup. Penataan ruang dilakukan agar monumen yang luar biasa ini tidak mengganggu arus lalu lintas," ungkap Damar.

Pemkot Magelang turut melakukan penataan kawasan di sekitar Simpang Bayeman. Penataan dilakukan dengan membongkar planter atau pot tanaman jalan, sekaligus memperluas akses jalan dan trotoar.

Area yang terdampak penataan memiliki panjang sekitar 300 meter, mulai dari depan pertokoan Mie Gacoan hingga kawasan persimpangan.

Selain itu, dilakukan pelebaran jalan sekitar 9 meter dan penambahan jalur khusus sepeda sebagai bagian dari penataan kawasan tersebut.

Rancangan Monumen Paku Bumi

Untuk detail rancangan teknis, bahan yang digunakan, hingga ukiran pada Monumen Paku Bumi, Damar mengatakan informasi tersebut nantinya akan dipublikasikan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Publikasi tersebut dilakukan agar masyarakat dapat mengetahui secara lebih jelas mengenai rancangan monumen yang akan menjadi salah satu landmark baru Kota Magelang.

"Lampu lalu lintas nantinya juga akan tetap ada. Harapan saya, saat tahun baru nanti sudah ada ikonik baru yang menjadi kebanggaan di Kota Magelang," imbuhnya.

Pembangunan Monumen Paku Bumi ditargetkan selesai sebelum akhir 2026. Dengan target tersebut, monumen diharapkan sudah dapat menjadi ikon baru Kota Magelang saat momentum pergantian tahun.

Gagasan Monumen Sudah Ada Lebih dari 10 Tahun

Sementara itu, Slamet Santoso mengatakan gagasan pembangunan monumen sebenarnya telah muncul di keluarganya sejak lebih dari 10 tahun lalu.

Keinginan tersebut baru dapat direalisasikan setelah mendapat respons positif dan cepat dari Wali Kota Magelang Damar Prasetyono.

Gagasan pembangunan Monumen Paku Bumi tidak terlepas dari keterkaitan Kota Magelang dengan Gunung Tidar yang selama ini dikenal sebagai "Pakuning Tanah Jawa".

Filosofi tersebut menjadi dasar bagi Slamet dalam memaknai Kota Magelang sebagai sebuah pusaka yang harus dijaga bersama.

"Pusaka itu harus dijaga, dihormati, dan diagungkan. Orang yang berada maupun yang lewat di Kota Magelang harus menjaga dan menghormati kota ini seperti kita menjaga pusaka. Masyarakat juga harus membawa kehormatan dan perilaku yang baik," tegasnya.

Menurut Slamet, filosofi tersebut nantinya juga tercermin dalam berbagai ukiran dan ornamen yang terdapat pada Monumen Paku Bumi.

Ia menambahkan, setiap ukiran dan ornamen dirancang agar memiliki makna yang agung sekaligus mencerminkan karakter Kota Magelang.

Dengan pembangunan tersebut, Monumen Paku Bumi diharapkan tidak hanya menjadi penanda visual baru di Simpang Bayeman, tetapi juga membawa filosofi Gunung Tidar dan identitas Kota Magelang dalam bentuk sebuah landmark.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online