Bendungan Jragung Ditargetkan Beroperasi Awal 2027, Ini Progresnya

Newswire
Newswire Senin, 28 September 2026 13:37 WIB
Bendungan Jragung Ditargetkan Beroperasi Awal 2027, Ini Progresnya

Proyek Bendungan Jragung di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah/Istimewa-Dok. Kementerian PUPR.\r\n\r\n

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah mempercepat penyelesaian fisik Bendungan Jragung di Jawa Tengah yang ditargetkan selesai pada Desember 2026 dan mulai beroperasi pada awal 2027. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk membantu mengatasi persoalan pasokan air baku bagi irigasi persawahan, khususnya di Kabupaten Demak dan wilayah sekitarnya.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Sudarto mengatakan progres pembangunan Bendungan Jragung kini telah mencapai 97%. Setelah konstruksi rampung, bendungan dengan kapasitas tampung 90 juta meter kubik itu diproyeksikan menopang layanan irigasi seluas 4.500 hektare lahan persawahan.

“Bendungan Jragung sekarang progresnya sudah 97%. Akhir tahun ini, Desember 2026, selesai. Dan akan beroperasi pada 2027 awal. Nanti tergantung curah hujan,” ujarnya.

Bendungan Jragung Dikebut di Tengah Risiko Gagal Panen

Percepatan Bendungan Jragung dilakukan ketika kawasan pesisir utara Jawa Tengah menghadapi persoalan pasokan air baku sekaligus ancaman banjir rob. Kondisi tersebut berdampak pada lahan pertanian karena sawah dapat terendam air asin sehingga meningkatkan risiko gagal panen.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan persoalan kekeringan dan rob harus segera ditangani agar kebutuhan air petani dapat dipenuhi.

“Saya sudah minta jajaran untuk segera melakukan penanganan. Kita lihat ada sawah yang terdampak kekeringan, sekaligus ada persoalan rob. Yang penting sekarang bagaimana air bisa segera kita hadirkan untuk membantu petani,” tuturnya dalam keterangan resminya, dikutip Senin (28/9/2026).

Sudarto menambahkan percepatan pembangunan tampungan air berskala besar tersebut menjadi penting karena ratusan hektare lahan pertanian di sepanjang koridor Pantura terancam mengalami gagal panen.

Berdasarkan data BBWS Pemali Juana per 21 September 2026, sedikitnya 124 hektare sawah di Kabupaten Demak tercatat mengalami kekeringan dengan status risiko tinggi gagal panen.

Kapasitas Bendungan Jragung 90 Juta Meter Kubik

Bendungan Jragung dirancang memiliki kapasitas tampung hingga 90 juta meter kubik. Dengan kapasitas tersebut, infrastruktur ini diproyeksikan memberikan dukungan layanan irigasi premium untuk 4.500 hektare lahan persawahan mulai awal 2027.

Saat ini, Bendungan Jragung berada dalam tahap pengisian awal bendungan atau impounding. Proses tersebut membutuhkan waktu karena sejumlah wilayah di Indonesia masih menghadapi kemarau panjang El-Nino.

Karena itu, target pengoperasian awal 2027 juga akan bergantung pada kondisi curah hujan. Penyelesaian konstruksi sendiri ditargetkan berlangsung hingga Desember 2026.

Pompa Darurat hingga Sumur Bor Disiapkan

Sambil menunggu Bendungan Jragung beroperasi, Kementerian PU menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi dampak kekeringan dalam jangka pendek di daerah irigasi Demak dan sekitarnya.

Langkah tersebut mencakup mobilisasi unit pompanisasi darurat, bantuan BBM untuk operasional, serta pengerjaan sumur bor. Upaya tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air di tengah kondisi kekeringan.

Pemerintah juga mengoptimalkan Bendung Karet Wonokerto untuk menahan intrusion air laut atau rob yang berpotensi menurunkan kualitas tanah dan merusak tanaman padi milik warga.

Upaya penanganan tersebut dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat setempat, dan BBWS Pemali Juana.

“Untuk penanganan robnya sendiri, kami mengambil air dari Bendung Karet Wonokerto, kami melakukan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Sekarang sebenarnya sudah kami fungsikan, sehingga sebagian besar lahan pertanian sudah bisa kita aliri air,” kata Sudarto.

Percepatan Bendungan Jragung dan penanganan darurat di wilayah pertanian tersebut diharapkan dapat menjaga produktivitas lahan persawahan di kawasan Pantura, terutama ketika petani menghadapi ancaman kekeringan dan rob.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online