Pemprov Jateng Kumpulkan 31.032 Liter Minyak Jelantah dari ASN

Newswire
Newswire Senin, 02 November 2026 18:57 WIB
Pemprov Jateng Kumpulkan 31.032 Liter Minyak Jelantah dari ASN

Ketua PKK Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin menuangkan minyak jelantah ke dalam ATM biodrop, disaksikan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, di Semarang, Senin (2/11/2026)./Antara-Pemprov Jateng\r\n

Harianjogja.com, SEMARANG—Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berhasil mengumpulkan 31.032,44 liter minyak jelantah dari aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai badan usaha milik daerah (BUMD). Gerakan yang melibatkan 60.680 pegawai tersebut mengantarkan Pemprov Jateng memperoleh penghargaan dari Museum Umum Rekor Indonesia (MURI).

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengatakan pengumpulan minyak jelantah tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan. Menurutnya, gerakan tersebut juga memiliki kaitan dengan upaya menjaga kesehatan masyarakat.

Ia menilai minyak goreng yang digunakan berulang kali perlu dikelola dengan baik agar tidak kembali dikonsumsi. Karena itu, pengumpulan minyak jelantah menjadi salah satu langkah untuk mendorong masyarakat lebih memperhatikan penggunaan minyak goreng.

"Program pengumpulan minyak jelantah ini tidak hanya berbicara tentang lingkungan atau sampah, tetapi juga kesehatan. Bagaimana masyarakat kita tidak mengonsumsi minyak yang sudah berkali-kali digunakan sehingga lebih sehat," katanya.

Atas capaian tersebut, Pemprov Jateng menerima penghargaan MURI sebagai pengumpul minyak jelantah terbanyak dari kalangan ASN. Piagam penghargaan diserahkan Senior Representative MURI Wilayah Semarang dan Jateng, Ari Andriani, kepada Taj Yasin.

Penyerahan penghargaan berlangsung dalam Rapat Koordinasi Tim Pembina Posyandu Kabupaten/Kota se-Jateng 2026 di Semarang, Senin (2/11/2026).

Pengumpulan Minyak Jelantah Libatkan 35 Kabupaten/Kota
Ketua Posyandu Jateng, Nawal Arafah Yasin, menjelaskan gerakan pengumpulan minyak jelantah melibatkan 35 kabupaten/kota. Program tersebut juga terus diperluas melalui kerja sama dengan dunia usaha.

Kolaborasi tersebut antara lain diwujudkan melalui penyediaan mesin ATM biodrop. Fasilitas ini memungkinkan masyarakat menyetorkan minyak jelantah untuk kemudian memperoleh nilai rupiah yang ditransfer ke rekening masing-masing.

Nawal berharap inovasi tersebut membuat layanan pengumpulan minyak jelantah semakin mudah dijangkau masyarakat. Selain itu, mekanisme tersebut diharapkan mendorong rumah tangga mengelola limbah minyak goreng secara lebih bijaksana.

Dengan adanya fasilitas penyetoran dan imbalan uang, minyak jelantah tidak sekadar dibuang sebagai limbah rumah tangga. Masyarakat juga memperoleh alternatif untuk menyalurkan minyak bekas pakai melalui mekanisme yang telah disiapkan.

Posyandu Didorong Perluas Pendampingan Masyarakat
Selain membahas gerakan lingkungan, rapat koordinasi tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat peran Posyandu di Jawa Tengah. Taj Yasin menyambut penguatan peran kader Posyandu dalam berbagai program pemerintah daerah.

Menurutnya, pendampingan kader dapat membantu mengatasi persoalan ketidaktepatan data kemiskinan. Peran Posyandu pun dinilai perlu dikembangkan agar tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan.

Kader Posyandu diharapkan dapat membantu masyarakat mengakses berbagai program perlindungan sosial. Pendampingan tersebut terutama diperlukan bagi warga yang membutuhkan bantuan dan belum sepenuhnya terjangkau layanan pemerintah.

Dalam rapat koordinasi itu, Pemprov Jateng juga meluncurkan Program Pandu Tangguh. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas kader Posyandu dalam mendampingi masyarakat, terutama kelompok rentan, ketika mengakses layanan dan bantuan sosial melalui aplikasi Perlinsos.

Selain peluncuran program, kegiatan tersebut diisi dengan pemberian apresiasi kepada sejumlah Posyandu tingkat kabupaten/kota, desa, dan kelurahan. Penghargaan diberikan atas dedikasi serta inovasi mereka dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pemprov Jateng mencatat jumlah Posyandu yang telah terdata di wilayahnya mencapai lebih dari 20.000 unit. Jumlah tersebut menjadikan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan Posyandu teregistrasi terbanyak di Kementerian Kesehatan.

Capaian tersebut menjadi salah satu modal dalam memperkuat jangkauan pelayanan dan pendampingan masyarakat melalui kader Posyandu. Pemerintah daerah juga mendorong agar peran Posyandu dapat menjangkau persoalan sosial di luar layanan kesehatan, termasuk membantu kelompok rentan mengakses perlindungan sosial.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online