Advertisement
Sampah Kepung Pantura Tambaklorok, Nelayan Semarang Tertekan
Sampah menumpuk di Pantura Tambaklorok Semarang, nelayan tertekan akibat hasil tangkapan anjlok dan cuaca ekstrem. - Espos.
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Tumpukan sampah tampak menguasai kawasan dermaga Pantai Utara Jawa (Pantura) di Tambaklorok, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah. Permukaan laut yang semestinya memantulkan cahaya matahari justru tertutup lapisan limbah mengambang yang tersangkut di sela kapal-kapal nelayan.
Pantauan Espos menunjukkan berbagai jenis sampah plastik berwarna-warni bercampur dengan popok sekali pakai yang menggelembung, limbah rumah tangga, serta serpihan kayu. Bau menyengat tercium kuat dan terbawa angin khas pesisir, menambah suram kondisi lingkungan di kawasan tersebut.
Advertisement
Setiap gelombang laut yang datang tidak hanya membawa buih, tetapi juga kiriman sampah baru. Ombak mendorong limbah ke bibir dermaga, lalu perlahan menariknya kembali ke laut, menciptakan pusaran kotor yang seolah tak pernah benar-benar sirna.
Situasi ini berdampak langsung pada aktivitas nelayan Tambaklorok. Jaring yang ditebar ke laut kerap terangkat dalam kondisi berat akibat sampah, bukan hasil tangkapan ikan. Kondisi tersebut semakin ironis karena bertepatan dengan cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir sejak Desember 2025.
BACA JUGA
Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jawa Tengah, Slamet Ari Nugroho, mengungkapkan bahwa sampah plastik, botol, hingga popok bekas kerap tersangkut di jaring dan memaksa nelayan menghentikan aktivitas melaut berulang kali untuk membersihkan tangkapan yang bukan rezeki.
“Nelayan melawan ombak, tapi yang didapat sampah plastik, popok, kayu. Ikannya sangat minim,” kata Slamet saat berbincang dengan Espos, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan sebagian besar nelayan Tambaklorok mengoperasikan kapal berukuran di bawah 5 gross ton (GT). Dalam sekali melaut, biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000.
“Biasanya, saat cuaca normal, bisa dapat Rp500.000 sampai Rp1.000.000. Sekarang kadang hanya cukup untuk bensin, bahkan sering rugi,” ujarnya.
Menurut Slamet, hasil tangkapan nelayan mengalami penurunan lebih dari 50 persen. Kondisi tersebut membuat banyak nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut untuk sementara waktu. Nelayan usia produktif memilih beralih profesi menjadi buruh bangunan, tukang, hingga pengemudi ojek online demi mencukupi kebutuhan keluarga.
“Di sini ada 973 nelayan, mayoritas nelayan harian dengan kapal kecil. Mereka yang usia di bawah 50 tahun beralih ke pekerjaan darat karena kalau dipaksakan melaut risikonya tinggi dan hasilnya tidak sebanding,” lanjutnya.
Sementara itu, nelayan lanjut usia memilih bertahan di rumah dengan fokus melakukan perawatan kapal dan alat tangkap. Slamet mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk menghadirkan kebijakan perlindungan yang lebih konkret bagi nelayan tradisional, terutama di tengah cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlangsung hingga Februari bahkan Maret 2026.
“Kalau tidak ada skema perlindungan yang jelas, nelayan akan semakin terpuruk,” katanya.
Ia mengakui Pemkot Semarang sempat menyalurkan sekitar 400 paket sembako kepada nelayan. Namun, bantuan tersebut dinilai belum mampu menutup kehilangan pendapatan selama berbulan-bulan akibat nelayan tidak dapat melaut secara optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Espos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
AS Jatuhkan Sanksi Baru ke Iran, Komandan IRGC Ikut Disasar
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- KPU Jogja Pindah ke Eks KPP Sultan Agung, Butuh Dana Rp5,7 M
- Kejari Sleman Terbitkan SKP2, Begini Kata Kuasa Hukum dan Hogiminaya
- IDM Latih Ratusan Pelajar Bantul Tanggap Gempa Bumi
- Belum Ada PMK di Jogja, Pemerintah Perketat Pengawasan Ternak
- Jadwal Lengkap KRL Solo-Jogja Hari Ini, Sabtu 31 Januari 2026
Advertisement
Advertisement



