Advertisement

Sampah Kepung Pantura Tambaklorok, Nelayan Semarang Tertekan

Andhik Kurniawan
Sabtu, 31 Januari 2026 - 19:47 WIB
Sunartono
Sampah Kepung Pantura Tambaklorok, Nelayan Semarang Tertekan Sampah menumpuk di Pantura Tambaklorok Semarang, nelayan tertekan akibat hasil tangkapan anjlok dan cuaca ekstrem. - Espos.

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Tumpukan sampah tampak menguasai kawasan dermaga Pantai Utara Jawa (Pantura) di Tambaklorok, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah. Permukaan laut yang semestinya memantulkan cahaya matahari justru tertutup lapisan limbah mengambang yang tersangkut di sela kapal-kapal nelayan.

Pantauan Espos menunjukkan berbagai jenis sampah plastik berwarna-warni bercampur dengan popok sekali pakai yang menggelembung, limbah rumah tangga, serta serpihan kayu. Bau menyengat tercium kuat dan terbawa angin khas pesisir, menambah suram kondisi lingkungan di kawasan tersebut.

Advertisement

Setiap gelombang laut yang datang tidak hanya membawa buih, tetapi juga kiriman sampah baru. Ombak mendorong limbah ke bibir dermaga, lalu perlahan menariknya kembali ke laut, menciptakan pusaran kotor yang seolah tak pernah benar-benar sirna.

Situasi ini berdampak langsung pada aktivitas nelayan Tambaklorok. Jaring yang ditebar ke laut kerap terangkat dalam kondisi berat akibat sampah, bukan hasil tangkapan ikan. Kondisi tersebut semakin ironis karena bertepatan dengan cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir sejak Desember 2025.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jawa Tengah, Slamet Ari Nugroho, mengungkapkan bahwa sampah plastik, botol, hingga popok bekas kerap tersangkut di jaring dan memaksa nelayan menghentikan aktivitas melaut berulang kali untuk membersihkan tangkapan yang bukan rezeki.

“Nelayan melawan ombak, tapi yang didapat sampah plastik, popok, kayu. Ikannya sangat minim,” kata Slamet saat berbincang dengan Espos, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan sebagian besar nelayan Tambaklorok mengoperasikan kapal berukuran di bawah 5 gross ton (GT). Dalam sekali melaut, biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000.

“Biasanya, saat cuaca normal, bisa dapat Rp500.000 sampai Rp1.000.000. Sekarang kadang hanya cukup untuk bensin, bahkan sering rugi,” ujarnya.

Menurut Slamet, hasil tangkapan nelayan mengalami penurunan lebih dari 50 persen. Kondisi tersebut membuat banyak nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut untuk sementara waktu. Nelayan usia produktif memilih beralih profesi menjadi buruh bangunan, tukang, hingga pengemudi ojek online demi mencukupi kebutuhan keluarga.

“Di sini ada 973 nelayan, mayoritas nelayan harian dengan kapal kecil. Mereka yang usia di bawah 50 tahun beralih ke pekerjaan darat karena kalau dipaksakan melaut risikonya tinggi dan hasilnya tidak sebanding,” lanjutnya.

Sementara itu, nelayan lanjut usia memilih bertahan di rumah dengan fokus melakukan perawatan kapal dan alat tangkap. Slamet mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk menghadirkan kebijakan perlindungan yang lebih konkret bagi nelayan tradisional, terutama di tengah cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlangsung hingga Februari bahkan Maret 2026.

“Kalau tidak ada skema perlindungan yang jelas, nelayan akan semakin terpuruk,” katanya.

Ia mengakui Pemkot Semarang sempat menyalurkan sekitar 400 paket sembako kepada nelayan. Namun, bantuan tersebut dinilai belum mampu menutup kehilangan pendapatan selama berbulan-bulan akibat nelayan tidak dapat melaut secara optimal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Espos

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

AS Jatuhkan Sanksi Baru ke Iran, Komandan IRGC Ikut Disasar

AS Jatuhkan Sanksi Baru ke Iran, Komandan IRGC Ikut Disasar

News
| Sabtu, 31 Januari 2026, 21:02 WIB

Advertisement

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata
| Kamis, 29 Januari 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement