Advertisement

Aktivitas Gunung Slamet Meningkat, Warga Diminta Waspada

Newswire
Kamis, 23 April 2026 - 16:57 WIB
Abdul Hamied Razak
Aktivitas Gunung Slamet Meningkat, Warga Diminta Waspada Gunung Slamet terlihat dari arah Desa Pamijen, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Sabtu (12/8/2023). Antara - Sumarwoto

Advertisement

Harianjogja.com, PURWOKERTO — Aktivitas Gunung Slamet menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini mendorong pemerintah dan masyarakat di wilayah sekitar untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana vulkanik.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Priatin Hadi Wijaya, mengungkapkan bahwa Gunung Slamet memiliki cakupan wilayah yang luas, meliputi lima kabupaten, yakni Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Oleh karena itu, hasil pemantauan aktivitas gunung api perlu disampaikan secara intensif kepada seluruh pemangku kepentingan.

Advertisement

“Pemantauan ini penting untuk dikenalkan kepada pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat agar kesiapsiagaan bisa dilakukan secara bersama,” ujarnya di sela kegiatan sosialisasi mitigasi bencana geologi di Purwokerto, Kamis.

Menurut Priatin, terdapat dua indikator utama yang menjadi perhatian dalam peningkatan aktivitas Gunung Slamet, yakni lonjakan suhu kawah dan peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik.

Berdasarkan hasil pemantauan citra termal, suhu kawah Gunung Slamet mengalami kenaikan cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir. Sebelum Maret 2026, suhu kawah tercatat berada di kisaran 280 derajat Celsius. Namun, angka tersebut meningkat menjadi 418 derajat Celsius, dan terbaru mencapai sekitar 460 derajat Celsius.

Selain itu, data kegempaan juga menunjukkan peningkatan gempa berfrekuensi rendah (low frequency) yang menjadi indikasi adanya pergerakan magma dari dalam perut bumi menuju lapisan yang lebih dangkal.

“Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika di dalam tubuh gunung api yang harus diwaspadai,” jelasnya.

Dalam melakukan pemantauan, PVMBG menggunakan kombinasi metode visual dan instrumental. Peralatan yang digunakan antara lain kamera pemantau (CCTV), seismograf untuk mendeteksi gempa, tiltmeter untuk mengukur perubahan kemiringan lereng, serta Electronic Distance Measurement (EDM) guna memantau deformasi tubuh gunung.

Saat ini, status Gunung Slamet masih berada pada Level II atau Waspada. Namun, PVMBG membuka kemungkinan evaluasi lanjutan jika aktivitas terus meningkat.

“Jika ada rekomendasi dari tim ahli dan terjadi peningkatan signifikan, maka status bisa dinaikkan,” tegas Priatin.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menilai sosialisasi mitigasi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kesiapan daerah menghadapi potensi erupsi.

Ia menekankan pentingnya peran desa tangguh bencana sebagai garda terdepan dalam menghadapi situasi darurat. Menurutnya, kesiapan masyarakat di tingkat lokal sangat menentukan efektivitas penanganan bencana.

Dengan meningkatnya aktivitas Gunung Slamet, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun tidak lengah. Informasi resmi dari pemerintah dan instansi terkait diharapkan menjadi acuan utama dalam mengambil langkah antisipasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

FBI dan Polri Bongkar Jaringan Phishing Global W3LL

FBI dan Polri Bongkar Jaringan Phishing Global W3LL

News
| Kamis, 23 April 2026, 18:07 WIB

Advertisement

Vietnam Terapkan Kartu Kedatangan Digital di Bandara

Vietnam Terapkan Kartu Kedatangan Digital di Bandara

Wisata
| Rabu, 22 April 2026, 11:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement