Satpol PP Solo Sita 34 Botol Miras Tak Berizin Saat Razia Malam
Satpol PP Solo bersama tim gabungan menertibkan penjual miras ilegal dan menyita 34 botol minuman beralkohol tak sesuai izin.
Warga Boyolali menemukan batu diduga stupa dan prasada peninggalan candi Buddha saat membangun jalan menuju kandang ternak. /Espos.
Harianjogja.com, BOYOLALI— Warga Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali menemukan dua batu yang diduga bagian bangunan candi bercorak Buddha saat melakukan pembangunan jalan menuju kandang ternak. Temuan tersebut kini tengah diteliti lebih lanjut oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali.
Dua batu yang diduga berupa stupa dan prasada itu ditemukan di lahan milik warga bernama Sopan Prasetyo di Dukuh Nepen ketika proses pembukaan akses jalan menuju area kandang sapi dan kambing.
Sopan mengatakan, penemuan awal terjadi sekitar April 2026 saat dirinya meratakan tanah dan menemukan struktur batu yang diduga pondasi atau landasan bangunan kuno.
“Penemuan pertama sekitar April, saya menemukan pondasi atau landasannya. Kemudian saya angkat dan tanahnya mau diratakan untuk jalan. Saat saya keruk lagi, ternyata ditemukan batu yang diduga stupa pada 14 Mei 2026. Lokasinya sama, hanya beda kedalaman sekitar satu meter,” ujar Sopan saat dihubungi Espos, Minggu (24/5/2026).
Batu Diduga Saling Terkunci
Setelah menemukan dua batu tersebut, Sopan mencoba mencocokkan bentuk keduanya dan mendapati adanya struktur yang saling mengunci satu sama lain.
“Saya coba pasang dan ternyata bentuknya seperti cocok. Ada titik yang saling mengunci dan pas,” katanya.
Temuan itu kemudian dilaporkan kepada komunitas pegiat sejarah Buddha sebelum diteruskan ke Disdikbud Boyolali untuk ditindaklanjuti melalui kajian arkeologis.
Sopan berharap, benda yang diduga peninggalan cagar budaya tersebut dapat diteliti secara ilmiah tanpa dipindahkan dari lokasi awal penemuan.
Ia juga mengaku mengalami pengalaman pribadi sebelum menemukan batu tersebut.
“Sebelumnya saya sempat bermimpi tentang batu-batuan dan air, seperti diminta untuk merawat sesuatu. Setelah penemuan ini, kebetulan Umbul Gondang di sebelah barat Nepen yang lama mati malah kembali mengeluarkan air,” ujarnya.
Diduga Berasal dari Abad ke-8 hingga ke-9
Staf Bidang Kebudayaan Disdikbud Boyolali sekaligus Tim Ahli Registrasi Pendaftaran Cagar Budaya, Farid Burhanuddin, menjelaskan kedua batu ditemukan di titik yang sama, tetapi pada waktu dan kedalaman berbeda.
“Awalnya masyarakat ingin melakukan pelebaran jalan di lokasi penemuan pertama. Saat alat berat menggali sekitar kedalaman 80 sentimeter, ditemukan struktur batu yang diduga merupakan prasada,” kata Farid.
Berdasarkan pengukuran sementara, batu yang diduga stupa memiliki tinggi sekitar 1,25 meter dengan diameter 1,3 meter. Sementara batu yang diduga prasada memiliki tinggi sekitar 20 sentimeter dengan diameter 1,8 meter.
Meski bentuk keduanya terlihat saling sesuai, Disdikbud Boyolali belum dapat memastikan apakah dua batu tersebut berasal dari satu struktur bangunan yang sama.
“Untuk memastikan hubungan antara prasada dan stupa tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut,” jelas Farid.
Diduga Jejak Peradaban Mataram Hindu-Buddha
Dari karakteristik material dan bentuknya, batu tersebut diduga merupakan bagian bangunan candi bercorak Buddha yang berasal dari abad ke-8 hingga ke-9 Masehi atau masa Kerajaan Mataram Hindu-Buddha.
Namun demikian, penentuan usia pasti dan fungsi temuan masih menunggu hasil penelitian lanjutan dari tim ahli dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah.
Saat ini, langkah yang dilakukan pemerintah daerah meliputi pengamanan lokasi, dokumentasi temuan, serta pelaporan resmi kepada BPK Jawa Tengah.
Farid mengungkapkan, wilayah Desa Nepen sebelumnya juga pernah ditemukan sejumlah batu yang diduga sebagai objek diduga cagar budaya (ODCB), terutama berupa prasada. Namun, penemuan stupa masih tergolong langka.
“Di Desa Nepen memang sudah ada beberapa temuan batu ODCB. Kebanyakan berupa prasada, sedangkan stupa baru ditemukan dua. Kemungkinan ini menunjukkan adanya jejak peradaban, entah tempat peribadatan atau bengkel pembuatan batu, tetapi itu masih perlu penelitian lebih mendalam,” ujarnya.
Menurut Farid, keberadaan ornamen unik dan kondisi batu yang masih relatif utuh menjadi salah satu alasan temuan tersebut dinilai penting untuk diteliti lebih lanjut.
“Kondisinya masih sekitar 90 persen utuh. Soal detail ornamen, fungsi, dan kaitannya dengan masa kerajaan tertentu masih menunggu kajian lanjutan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satpol PP Solo bersama tim gabungan menertibkan penjual miras ilegal dan menyita 34 botol minuman beralkohol tak sesuai izin.
Pakar ITB menyebut penerapan biodiesel B50 dapat mengurangi impor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah krisis geopolitik.
Truk boks bermuatan tepung terguling di Bokong Semar Gunungkidul menyebabkan macet parah di jalur Jogja-Wonosari hingga Minggu pagi.
Harga emas dunia diprediksi menembus US$4.943 per troy ounce dan mendorong harga logam mulia domestik menuju Rp2,9 juta per gram.
Polres Malang menyelidiki ledakan petasan di rumah warga Kepanjen yang menewaskan satu orang dan melukai korban dengan luka bakar serius.
Imam Besar New York Shamsi Ali menyebut Islam di Amerika Serikat justru tumbuh pesat setelah tragedi 9/11 dan Islamofobia meningkat.