Musim Kemarau, BKSDA Jateng Terima 3 Laporan Kemunculan Macan

Newswire
Newswire Kamis, 13 Agustus 2026 18:57 WIB
Musim Kemarau, BKSDA Jateng Terima 3 Laporan Kemunculan Macan

Macan Tutul Jawa / Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Menlhk

Harianjogja.com, SEMARANG— Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah (Jateng) menerima tiga laporan kemunculan macan sepanjang Januari-Juli 2026. Fenomena tersebut terjadi di tengah musim kemarau yang memungkinkan satwa liar mencari pakan lebih jauh hingga mendekati permukiman.

Kepala BKSDA Jateng, Dyah Sulistyari, membenarkan adanya sejumlah laporan gangguan satwa selama musim kemarau. Selain macan, masyarakat juga melaporkan kemunculan monyet ekor panjang di sekitar permukiman.

"Jadi tidak hanya macan, ada monyet ekor panjang juga. Tetapi beberapa [aduan] sudah penanganan," kata Dyah di kantornya, Kamis (13/8/2026).

Meski menerima laporan kemunculan macan, BKSDA Jateng enggan mengungkap daerah asal tiga laporan tersebut.

Kemunculan Macan Terjadi Saat Musim Kemarau

Dyah menjelaskan keberadaan macan tutul maupun macan kumbang di kawasan hutan sebenarnya menjadi indikator positif. Keberadaan predator puncak tersebut menunjukkan kawasan hutan masih terjaga dan mampu mendukung kehidupan satwa liar.

"Tetapi karena kondisi sekarang musim kemarau, memungkinkan satwa cari pakan lebih jauh sampai turun permukiman," jelasnya.

Laporan terbaru datang dari Gunungsari, Batang, pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 05.30 WIB. Satwa dilindungi itu sempat memangsa ternak warga sebelum akhirnya dievakuasi tim gabungan.

Macan yang berhasil dievakuasi tersebut kini masih menjalani observasi kesehatan. Dyah mengatakan satwa itu mengalami luka pada kaki kanan bagian depan.

"Sekarang masih dilakukan observasi kesehatan. Karena kondisinya ada luka di kaki kanan depan, luka basah, tetapi bukan luka baru. Jadi perlu penanganan intensif 24 jam," bebernya.

Macan Kumbang Jantan Diperkirakan Berusia 10 Tahun

BKSDA Jateng mengidentifikasi macan yang dievakuasi dari Gunungsari sebagai macan kumbang. Satwa tersebut merupakan jantan dewasa yang diperkirakan berusia 10 tahun dengan berat sekitar 25 kilogram.

Kondisinya saat ini dinilai kurus sehingga membutuhkan penanganan sebelum diputuskan untuk dilepasliarkan atau menjalani rehabilitasi.

"Macan kumbang liar jantan, sudah dewasa. Tapi hitungannya kurus, makanya perlu penanganan sebelum nanti dilepasliarkan atau perlu rehabilitasi," pungkasnya.

Macan Kumbang Berasal dari Gunung Prau

Kemunculan macan kumbang di wilayah Batang bukan kali pertama dilaporkan masyarakat. Menurut Dyah, sebelumnya BKSDA juga menerima sejumlah laporan warga yang melihat macan kumbang di sekitar kawasan pertanian.

"Masuk kampung, baru pertama. Tapi orang cocok tanam lihat, banyak laporannya," tuturnya.

Dyah menambahkan macan kumbang yang muncul di Gunungsari berasal dari kawasan hutan Gunung Prau. Namun, BKSDA belum dapat memastikan jumlah macan kumbang yang berada di kawasan tersebut.

"[Jumlah pasti] perlu survei lebih dalam. Kami belum bisa pastikan," ucapnya.

Sebelumnya, seekor macan kumbang turun ke permukiman warga di Dukuh Ngasinan, Desa Gunungsari, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), Rabu (12/8/2026) pagi.

Satwa dilindungi tersebut sempat memangsa ternak warga sebelum akhirnya berhasil dievakuasi tim gabungan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Solopos

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online