Gunung Sinabung Erupsi, 21 Penerbangan Kualanamu Dibatalkan
Erupsi Gunung Sinabung berdampak pada 21 penerbangan dari dan menuju Bandara Kualanamu pada 31 Agustus-1 September 2026.
Foto ilustrasi sakit perut/keracunan. - Freepik
Harianjogja.com, KLATEN— Sebanyak 60 siswa dari dua Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Ceper, Klaten, mengalami mual, pusing, sakit perut hingga muntah setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (3/9/2026). Sejumlah siswa sempat mendapatkan penanganan medis di puskesmas, sementara petugas kesehatan mengambil sampel makanan untuk diperiksa lebih lanjut.
Dua sekolah yang melaporkan adanya siswa dengan gejala tersebut yakni MI Muhammadiyah Srebegan dan MI Muhammadiyah Cetan. Berdasarkan informasi yang dihimpun hingga pukul 14.00 WIB, sebanyak 33 siswa di MI Muhammadiyah Srebegan dan 27 siswa di MI Muhammadiyah Cetan mengalami gejala setelah menyantap menu MBG.
Petugas kesehatan langsung melakukan pemeriksaan terhadap siswa yang mengalami keluhan. Sampel makanan yang dikonsumsi para siswa juga telah diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui penyebab munculnya gejala tersebut.
Di MI Muhammadiyah Srebegan, sejumlah siswa yang sebelumnya dibawa ke Puskesmas Jambukulon mulai kembali ke sekolah. Petugas kesehatan dari puskesmas juga masih berada di lokasi untuk melakukan pemantauan.
Kepala Puskesmas Jambukulon, Muhammad Banu Aryandaru, mengatakan pihaknya menerima laporan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah menerima laporan tersebut, petugas langsung menuju MI Muhammadiyah Srebegan.
"Saat awal tadi diinformasikan ada 15 anak yang bergejala. Kemudian yang bergejala kami minta untuk dibawa ke Puskesmas," kata Banu.
Dari 15 siswa yang dibawa untuk mendapatkan penanganan, satu anak langsung dijemput keluarganya. Sementara 14 siswa menjalani pengobatan dan observasi di puskesmas.
" Sekitar satu jam diobservasi, kondisinya sudah baik dan 14 anak tadi dipulangkan," jelas Banu.
33 Siswa di MI Muhammadiyah Srebegan Bergejala
Selain siswa yang dibawa ke puskesmas, petugas menemukan 19 anak lain di MI Muhammadiyah Srebegan yang mengalami keluhan serupa. Dengan demikian, jumlah siswa yang mengalami gejala di sekolah tersebut mencapai sekitar 33 orang.
Banu menjelaskan keluhan yang muncul di antaranya muntah dan sakit perut. Ia juga menyebut terdapat kemungkinan faktor psikologis setelah salah satu siswa mengalami muntah.
"Gejala yang muncul awal itu muntah. Ada faktor psikologis juga, di mana begitu ada satu anak yang muntah, lainnya ikut terpengaruh. Jadi yang tiga mengalami muntah dan lainnya sakit perut," jelas Banu.
Menu MBG yang disantap para siswa terdiri atas katsu filet ikan, balado tahu, oseng wortel buncis, serta buah semangka.
Untuk mengetahui penyebab munculnya gejala, Puskesmas Jambukulon kemudian berkoordinasi dengan Puskesmas Ceper. Tim sanitasi lingkungan dan epidemiologi mengambil sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.
"Sampel untuk sementara ini disimpan dulu di freezer," kata Banu.
Petugas kesehatan juga meminta pihak sekolah berkoordinasi dengan orang tua untuk memantau kondisi siswa selama 72 jam setelah mengonsumsi makanan tersebut. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi munculnya gejala lanjutan.
"Yang dikhawatirkan muncul gejala diare. Sehingga, nanti terus dipantau sampai 72 jam," jelas Banu.
27 Siswa MI Muhammadiyah Cetan Mengalami Mual
Sementara itu, Kepala MI Muhammadiyah Cetan, Hariyanto, mengatakan 27 dari total 299 siswa mengalami pusing dan mual setelah menyantap menu MBG.
Mayoritas siswa mendapatkan penanganan dari petugas puskesmas dan menjalani rawat jalan. Namun, satu siswa sempat dibawa ke rumah sakit setelah sebelumnya tidak sadarkan diri.
Siswa kelas IV tersebut kemudian berangsur membaik dan telah sadar setelah mendapatkan penanganan medis.
Hariyanto mengatakan program MBG telah diterima para siswa selama sekitar satu tahun. Menurut dia, kejadian dengan gejala serupa baru terjadi kali ini.
"Iya, baru kali ini [ada kasus keracunan]," jelas Hariyanto.
Atas kejadian tersebut, pihak sekolah berencana menggelar musyawarah bersama dewan guru dan wali murid. Pertemuan tersebut akan membahas keberlanjutan program MBG di sekolah.
"Kalau nantinya dari musyawarah lanjut, kami berharap pihak SPPG bisa lebih berhati-hati lagi," ungkap Hariyanto.
Siswa Sebut Ikan Terasa Agak Amis
Salah satu siswa MI Muhammadiyah Srebegan, Fiona, 12, mengaku mengalami mual dan pusing setelah menyantap makanan MBG. Ia mengaku hanya menghabiskan sekitar setengah porsi makanan yang diterimanya.
"Lauknya tadi katsu ikan sama tahu dan sayur. Ikannya terasa agak amis," kata Fiona.
Di sisi lain, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Klaten, Yoga Angga Pratama, langsung mendatangi sekolah yang terdampak untuk mengecek kondisi para siswa.
Yoga mengatakan berdasarkan laporan sementara, terdapat sekitar 27 siswa MI Muhammadiyah Cetan yang mengalami gejala. Sebagian siswa telah kembali mengikuti kegiatan di sekolah atau dipulangkan.
"Tadi kami langsung bergerak ke MI Cetan. Untuk data sementara yang kami terima di MI Cetan ada kurang lebih 27 anak. Tapi sudah kembali masuk atau dipulangkan. Sementara data yang kami terima itu. Selanjutnya kami akan cek ke SPPG juga," jelas Yoga saat ditemui di MI Muhammadiyah Cetan.
Hingga Kamis siang, petugas masih melakukan penanganan dan pemantauan terhadap siswa yang mengalami keluhan. Sementara itu, sampel menu MBG telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan sampel nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai penyebab munculnya keluhan pada puluhan siswa di dua sekolah tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Espos
Erupsi Gunung Sinabung berdampak pada 21 penerbangan dari dan menuju Bandara Kualanamu pada 31 Agustus-1 September 2026.
Sebanyak 170 pelajar di Jombang dan Nganjuk diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Penyebabnya masih diselidiki.
Rekrutmen KAI 2026 dibuka 4 September untuk lulusan SLTA, D3, D4/S1. Cek formasi, persyaratan, dan pendaftaran di karier.kai.id.
YES 2026 merumuskan lima strategi untuk mendorong ekonomi DIY bertumbuh, inklusif, dan resilien di tengah tantangan global.
SEMA UGM membantah klaim Polda DIY soal spicy spray dalam aksi mahasiswa. Cairan disebut antasida untuk penanganan paparan gas air mata.
Sebanyak 60 siswa dua MI di Ceper, Klaten, mengalami mual, pusing hingga muntah setelah menyantap menu MBG.