UMKM Perempuan Solo Dapat Bantuan Alat Jahit dari BI, Ini Harapan Astrid

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Selasa, 08 September 2026 17:42 WIB
UMKM Perempuan Solo Dapat Bantuan Alat Jahit dari BI, Ini Harapan Astrid

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani (tengah) saat menghadiri penyerahan bantuan di Balai Pertemuan Sukro Manis, Kelompok Wanita Kreatif Surakarta, Tipes, Serengan, Jumat (4/9/2026).

Harianjogja.com, SOLO— Kain perca yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa produksi ternyata bisa menjadi sumber penghasilan. Melalui kreativitas dan keterampilan, potongan kain tersebut dapat diolah menjadi produk fashion dan aksesori bernilai ekonomi.

Potensi itulah yang didorong melalui dukungan Bank Indonesia (BI) Solo kepada Kelompok Wanita Kreatif Surakarta. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penyerahan sarana jahit dan produksi fashion serta aksesori berbahan kain perca.

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengapresiasi dukungan tersebut saat menghadiri penyerahan bantuan di Balai Pertemuan Sukro Manis, Kelompok Wanita Kreatif Surakarta, Tipes, Serengan, Jumat (4/9/2026).

Menurut Astrid, dukungan BI menjadi bagian penting dalam memperkuat UMKM sekaligus mengembangkan potensi ekonomi lokal yang dimiliki masyarakat Surakarta.

“UMKM bukan sekadar kegiatan ekonomi. Di dalamnya ada kreativitas, keterampilan, semangat kemandirian, dan upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga,” kata Astrid melalui keterangan persnya, Selasa (8/9/2026)

Kain Perca Bisa Jadi Produk Bernilai

Astrid mengatakan pemanfaatan kain perca menjadi produk fashion dan aksesori merupakan contoh bagaimana kreativitas dapat menciptakan nilai tambah dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak lagi memiliki nilai ekonomi.

Ia berharap potensi tersebut tidak berhenti pada kegiatan produksi skala kelompok, tetapi berkembang menjadi usaha yang mampu memberikan tambahan penghasilan bagi anggota.

“Jangan sampai potensi lokal hanya berhenti sebagai potensi. Harus ada keberanian untuk mengolah, mengembangkan, dan memasarkannya sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Astrid, bantuan sarana jahit dan produksi yang diberikan BI Solo juga tidak sekadar bantuan peralatan. Sarana tersebut dapat menjadi modal produktif untuk meningkatkan kapasitas Kelompok Wanita Kreatif Surakarta.

Dengan peralatan yang lebih memadai, kelompok diharapkan dapat meningkatkan jumlah produksi sekaligus memperbaiki kualitas dan daya saing produk.

“Dari kain perca menjadi produk bernilai, dari keterampilan menjadi usaha, dan dari usaha menjadi tambahan penghasilan serta kemandirian bagi keluarga,” tutur Astrid.

UMKM Serap 96,92% Tenaga Kerja

Astrid menilai penguatan UMKM memiliki posisi strategis dalam perekonomian. Berdasarkan data yang disampaikan BI Solo, sektor UMKM berkontribusi sekitar 60,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 96,92% dari total tenaga kerja.

Besarnya kontribusi tersebut membuat pengembangan UMKM tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi.

Menurut Astrid, aspek pemasaran, pengelolaan usaha, kualitas produk hingga kemampuan membangun merek juga perlu diperkuat agar UMKM mampu bertahan dan berkembang.

“Kita ingin produk-produk hasil kreativitas masyarakat Surakarta tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga mampu masuk ke pasar yang lebih luas,” katanya.

Karena itu, Astrid mendorong Kelompok Wanita Kreatif Surakarta memperhatikan sejumlah aspek pendukung usaha, mulai dari kemasan, branding, pemasaran digital hingga manajemen usaha.

Langkah tersebut dinilai penting agar produk fashion dan aksesori berbahan kain perca memiliki identitas yang kuat dan mampu bersaing dengan produk sejenis di pasar.

Dorong Kolaborasi Perkuat UMKM Solo

Lebih jauh, Astrid menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam membangun ekosistem UMKM di Kota Surakarta.

Pemerintah daerah, BI, dunia usaha, komunitas hingga perguruan tinggi dinilai memiliki peran masing-masing dalam mendorong UMKM agar naik kelas.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan berbagai pihak sangat penting untuk memperkuat ekosistem UMKM di Kota Surakarta,” pungkasnya.

Dukungan sarana produksi dari BI Solo tersebut diharapkan menjadi titik awal pengembangan usaha Kelompok Wanita Kreatif Surakarta secara berkelanjutan.

Selain meningkatkan produktivitas, pemanfaatan kain perca juga dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Jika dibarengi pemasaran dan pengelolaan usaha yang baik, produk yang lahir dari bahan sisa tersebut berpeluang memiliki nilai jual lebih tinggi sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi keluarga.

Bagi para anggota Kelompok Wanita Kreatif Surakarta, kreativitas mengolah kain perca bukan sekadar aktivitas keterampilan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi upaya membangun kemandirian ekonomi perempuan sekaligus mengubah bahan yang semula tidak terpakai menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online