Jogja Inspira Hadirkan Kolaborasi Musik, Puisi dan Sketsa
Jogja Inspira #01 hadir di Ndalem Poenokawan dengan kolaborasi musik, puisi dan sketsa, memperkuat Jogja sebagai episentrum kreativitas seni.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro. Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, CILACAP—Mengubah minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat bukan lagi sekadar persoalan apakah teknologi pengolahannya bisa dilakukan. Tantangan yang kini dihadapi Pertamina jauh lebih panjang, yakni memastikan bahan baku tersedia secara konsisten agar Sustainable Aviation Fuel (SAF) dapat diproduksi sekaligus dikomersialkan secara berkelanjutan.
Persoalan pasokan tersebut menjadi salah satu gambaran yang muncul dalam Pertamax Journey 2026 di Kilang Pertamina Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).
Dalam kegiatan itu, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro menjelaskan perkembangan pemanfaatan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai bahan baku SAF.
Menurut Hermawan, pengembangan SAF tidak berhenti setelah produk berhasil dihasilkan. Pertamina masih harus memastikan kualitas produk tetap terjaga dan membangun pola pasokan bahan baku agar produksinya dapat berjalan dalam jangka panjang.
“Kami akan terus melakukan maintenance, maintain produk dari UCO-SAF ini untuk bisa dikomersialkan [tentu] dengan lebih baik lagi,” kata Hermawan dalam pemaparan di Cilacap, Kamis (10/9/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan fase baru pengembangan SAF di Cilacap. Setelah aspek teknologi dan pengujian produk berjalan, kesinambungan bahan baku menjadi pekerjaan penting berikutnya.
Pertamina Cari Sumber Minyak Jelantah
Kebutuhan UCO tidak mungkin hanya mengandalkan minyak jelantah dari rumah tangga. Karena itu, Pertamina mulai membangun jaringan pengumpulan dengan melibatkan berbagai sumber.
Hermawan menjelaskan salah satu pola yang disiapkan adalah business to customer (B2C). Melalui skema ini, minyak jelantah dapat dihimpun dari masyarakat, komunitas hingga lingkungan internal Pertamina.
Pertamina juga telah menyiapkan sejumlah fasilitas pengumpulan UCO. “Untuk skema ini, Pertamina telah menyiapkan fasilitas pengumpulan minyak jelantah di sejumlah lokasi. Kami kumpulkan UCO ke dalam dispenser,” ujar Hermawan.
Selain B2C, terdapat skema business to business (B2B) yang menyasar pihak-pihak dengan potensi menghasilkan minyak jelantah dalam volume lebih besar.
Sumber UCO tersebut antara lain hotel, restoran dan kafe atau horeka, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). “UCO nanti dikumpulkan dari SPPG, KDMP,” kata Hermawan.
Keterlibatan SPPG dan KDMP menjadi bagian dari upaya memperluas sumber bahan baku. Dengan semakin banyak titik pengumpulan, Pertamina memiliki peluang membangun pasokan UCO yang lebih terstruktur untuk kebutuhan pengolahan SAF.
Minyak Jelantah Masuk Rantai Energi
Bagi masyarakat, minyak jelantah selama ini lebih dekat dengan persoalan limbah rumah tangga. Namun, ketika dikumpulkan dengan mekanisme yang terorganisasi, bahan tersebut dapat memperoleh nilai ekonomi baru.
Minyak bekas memasak tidak langsung menjadi bahan bakar pesawat. UCO harus dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian menjalani proses pengolahan sebelum dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari bahan baku SAF.
Rantai tersebut membuat keberhasilan pengembangan SAF tidak hanya bergantung pada fasilitas pengolahan di kilang.
Masyarakat, pelaku usaha kuliner, hotel, restoran, kafe, hingga berbagai institusi penghasil minyak jelantah dapat menjadi bagian dari rantai pasok tersebut.
Pola ini sekaligus memperlihatkan bagaimana prinsip ekonomi sirkular dapat diterapkan dalam sektor energi. Limbah dari kegiatan konsumsi yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat dikembalikan ke rantai ekonomi sebagai bahan baku.
Cilacap Disiapkan untuk Energi Hijau
Pengembangan SAF berbasis UCO juga menjadi bagian dari arah transformasi Kilang Cilacap.
Kilang Unit IV Cilacap selama ini dikenal sebagai salah satu fasilitas penting dalam pengolahan energi Pertamina. Ke depan, kawasan tersebut juga diarahkan untuk mengambil peran dalam pengembangan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Pertamina Patra Niaga menyiapkan proyek bioavtur atau biorefinery yang akan memanfaatkan UCO sebagai bahan baku.
Hermawan mengatakan proyek tersebut masih berada dalam tahap pengembangan. Masterplan telah disiapkan pada 2025. Sementara pada 2026, Pertamina memasuki proses Final Investment Decision (FID) sekaligus penjajakan mitra.
“Pada 2026 ini kami melakukan proses FID dan partnership process. Ini dilakukan untuk menentukan partner,” ujar Hermawan.
Proyek biorefinery tersebut direncanakan berdiri di lahan sekitar 17,5 hektare di dekat Kilang Unit IV Cilacap. Nilai investasi yang disiapkan diperkirakan mencapai US$1,1 miliar. Pembangunan ditargetkan mulai 2027, sedangkan operasionalnya diproyeksikan berjalan pada 2029.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja Inspira #01 hadir di Ndalem Poenokawan dengan kolaborasi musik, puisi dan sketsa, memperkuat Jogja sebagai episentrum kreativitas seni.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya Minggu 12 September 2026 berdasarkan data resmi KAI Access.
Pertamina menyiapkan SAF berbasis minyak jelantah di Cilacap. Tantangannya kini memastikan pasokan UCO agar produksi berkelanjutan.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo 12 September 2026 dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 12 September 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
KBD Tahap III-V Solo menyasar Gandekan, Tipes dan Semanggi dengan perbaikan talud, pavingisasi dan saluran air untuk cegah genangan.