Hampir 50 Persen Kios Tutup, Pemkot Magelang Gencarkan Gerakan Ayo Nglarisi Pasar

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jum'at, 25 September 2026 16:57 WIB
Hampir 50 Persen Kios Tutup, Pemkot Magelang Gencarkan Gerakan Ayo Nglarisi Pasar

Gerakan Ayo Nglarisi Pasar Rakyat Kota Magelang yang digelar di Pasar Rejowinangun, Jumat (25/9/2026)/Istimewa-Dokumen Pemkot Magelang

Harianjogja.com, KOTA MAGELANG— Pemerintah Kota Magelang punya cara untuk kembali menghidupkan aktivitas pasar rakyat di tengah persaingan perdagangan yang semakin ketat. Melalui program Ayo Nglarisi Pasar Rakyat Kota Magelang, aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai badan usaha milik daerah (BUMD) didorong berbelanja di pasar rakyat.

Gerakan tersebut berlaku di seluruh pasar rakyat yang berada di Kota Magelang. Artinya, program tidak hanya menyasar Pasar Rejowinangun, tetapi juga Pasar Cacaban, Kebonpolo, Gotong Royong, dan pasar rakyat lainnya.

Kebijakan itu dituangkan melalui Surat Edaran Nomor 500.2/702/250 tentang Gerakan "Ayo Nglarisi Pasar Rakyat Kota Magelang".

Transaksi Tembus Rp600 Juta

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Mikro (DPPKUM) Kota Magelang Syaifullah mengatakan gerakan tersebut secara khusus ditujukan kepada ASN dan pegawai BUMD di lingkungan Pemkot Magelang.

"Gerakan Ayo Nglarisi Pasar ini ditujukan bagi seluruh ASN dan pegawai BUMD di lingkungan Pemkot Magelang," kata Syaifullah di Pasar Rejowinangun, Jumat (25/9/2026).

Besaran belanja minimal dalam gerakan tersebut ditetapkan berdasarkan jenjang jabatan ASN. Pejabat eselon II minimal berbelanja Rp500 ribu, eselon III Rp350 ribu, eselon IV dan fungsional Rp200 ribu, sedangkan staf minimal Rp50 ribu.

Menurut Syaifullah, keterlibatan ASN dan pegawai BUMD diharapkan dapat meningkatkan transaksi sekaligus pendapatan para pedagang di pasar rakyat.

Hingga Jumat, 25 September 2026, transaksi yang berhasil tercatat selama gerakan tersebut bahkan telah mencapai Rp600 juta. Angka itu melampaui target transaksi yang ditetapkan sebesar Rp500 juta dan merupakan akumulasi dari seluruh pasar rakyat di wilayah Kota Magelang.

Pedagang Merasakan Dampaknya

Gerakan tersebut mendapat sambutan positif dari pedagang pasar. Ponidin (81), penjual ikan yang telah berjualan di Pasar Rejowinangun sejak 1955, mengaku terbantu dengan meningkatnya aktivitas belanja.

"Pasarnya jadi ramai, banyak yang beli. Kami pedagang tentu terbantu," ujar Ponidin.

Bagi pedagang yang telah puluhan tahun berjualan di Pasar Rejowinangun tersebut, meningkatnya aktivitas pembeli menjadi bagian penting bagi keberlangsungan usaha di pasar rakyat.

Hampir Separuh Kios Pasar Rejowinangun Tutup

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan upaya menghidupkan kembali Pasar Rejowinangun perlu dilakukan setelah dirinya melihat kondisi sejumlah kios yang tidak lagi beroperasi.

"Saya menyaksikan sendiri bahwa hampir 50 persen kios di Pasar Rejowinangun ini tutup," katanya.

Menurut Damar, kondisi tersebut tidak terlepas dari persaingan perdagangan yang semakin ketat. Kehadiran pasar daring dan pedagang keliling turut memberikan kemudahan kepada konsumen sehingga menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi pasar rakyat.

Karena itu, Damar mengajak masyarakat kembali menjadikan pasar rakyat sebagai salah satu pilihan berbelanja. Ajakan tersebut terutama ditujukan ketika masyarakat memiliki penghasilan atau rezeki lebih.

Selain mendorong transaksi melalui Gerakan Ayo Nglarisi Pasar Rakyat Kota Magelang, Pemkot Magelang juga mengkaji pengembangan Pasar Rejowinangun sebagai pusat grosir utama di wilayah Kedu.

Damar meminta para pedagang memperkuat daya saing agar pasar tersebut mampu menghadapi persaingan perdagangan. Beberapa hal yang ditekankan meliputi harga yang kompetitif, pelayanan yang ramah, kebersihan, serta kualitas barang.

"Pasarnya sudah bagus, tetapi bagaimana agar dagangan pedagang di sini laris dan usahanya terus berjalan," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online