BBTE 2026 Bidik Transaksi Rp120 Miliar, Magelang Jadi Episentrum Baru

Nina Atmasari
Nina Atmasari Senin, 26 Oktober 2026 21:17 WIB
BBTE 2026 Bidik Transaksi Rp120 Miliar, Magelang Jadi Episentrum Baru

Para buyer dan seller bertransaksi dalam Borobudur & Beyond Tourism Expo (BBTE) 2026 di Grand Artos Hotel & Convention, Senin (26/10/2026). /Harian Jogja-Nina Atmasari

Harianjogja.com, MAGELANG—Borobudur & Beyond Tourism Expo (BBTE) 2026 menargetkan transaksi bisnis pariwisata mencapai Rp120 miliar dalam dua hari pertemuan bisnis pada 26-27 Oktober 2026. Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri pariwisata domestik dan internasional untuk membuka peluang kerja sama sekaligus memperluas pasar pariwisata Jawa Tengah.

Ketua Panitia BBTE 2026, Sugeng Sugiantoro, mengatakan pameran yang diselenggarakan PT Raja MICE Indonesia (RajaMICE) itu berlangsung di Grand Artos Hotel & Convention pada 25-28 Oktober 2026.

BBTE menjadi wadah pertemuan berbagai pelaku usaha pariwisata, mulai dari pengelola hotel, destinasi wisata, desa wisata, atraksi wisata, hingga penyedia jasa pariwisata. Mereka dipertemukan dengan agen perjalanan, operator tur, serta pelaku industri meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).

Panitia menargetkan hingga 200 buyer dan pengunjung bisnis terkurasi, termasuk peserta dari pasar internasional seperti Malaysia. Pertemuan dijadwalkan melalui sistem Pre-Scheduled Appointment (PSA), yang memungkinkan penjual dan pembeli menentukan jadwal sesuai kebutuhan bisnis masing-masing.

Sugeng menjelaskan, pertemuan tatap muka berlangsung pada 26-27 Oktober dengan durasi sekitar 15 menit untuk setiap pertemuan. Mekanisme tersebut diharapkan membuat pembahasan produk pariwisata dan peluang kerja sama berlangsung lebih terarah.

"Kami ingin setiap buyer dan seller memiliki kesempatan membangun komunikasi bisnis yang terarah dan berpotensi menghasilkan kerja sama nyata," ujarnya seusai pembukaan BBTE 2026, Senin (26/10/2026).

BBTE Bidik Transaksi Bisnis Rp120 Miliar

CEO RajaMICE, Panca R. Sarungu, mengatakan BBTE 2026 membidik transaksi senilai Rp120 miliar selama dua hari pertemuan bisnis. Target tersebut berupa kontrak kerja sama antara penjual dan pembeli dari berbagai sektor, termasuk hotel, taman rekreasi, desa wisata, dan operator tur lokal.

"Salah satu peluang yang dibidik ialah kerja sama antara operator tur di Jawa Tengah dan operator tur dari Malaysia," jelasnya.

Panca menyebut sekitar ratusan buyer dan seller telah membuat janji pertemuan melalui sistem yang disiapkan panitia. Peserta dipertemukan berdasarkan kebutuhan bisnis agar dapat berdiskusi dan memahami produk yang ditawarkan secara lebih mendalam.

Menurut Panca, pengembangan pasar pariwisata perlu didukung industri yang kuat dan tidak hanya bergantung pada kegiatan dengan anggaran pemerintah.

"Ketergantungan terhadap anggaran pemerintah berisiko membuat keberlangsungan sebuah kegiatan terganggu ketika terjadi pengurangan atau penghentian anggaran. Karena itu, BBTE diharapkan menjadi salah satu model pengembangan pasar pariwisata melalui hubungan bisnis langsung antarpelaku industri," tuturnya.

Ia menyebut Pulau Jawa menyumbang sekitar 80% aktivitas pariwisata nasional. Besarnya kontribusi tersebut dinilai membuka peluang pengembangan pasar melalui pertemuan bisnis dan kolaborasi antarpelaku industri.

Magelang Berpeluang Jadi Episentrum Pariwisata Baru

Panca menilai Magelang dan kawasan sekitarnya memiliki peluang berkembang menjadi episentrum baru pariwisata Jawa Tengah. Menurut dia, kawasan tersebut menunjukkan perkembangan seiring penyelenggaraan berbagai kegiatan, termasuk kegiatan sekolah berbasis militer, serta meningkatnya aktivitas yang melibatkan BUMN dan pemerintah daerah.

Pertumbuhan amenitas, termasuk hotel, serta bertambahnya destinasi wisata turut memperkuat daya tarik kawasan tersebut. Namun, Panca mengingatkan bahwa perkembangan itu perlu diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutan destinasi dalam dua hingga tiga tahun mendatang.

Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak cukup dilakukan dengan menambah fasilitas dan mendatangkan pengunjung. Industri dan destinasi juga perlu memiliki kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang.

Ia berharap BBTE berkembang menjadi agenda nasional yang mempertemukan pelaku pasar pariwisata melalui skema bisnis ke bisnis atau business-to-business (B2B).

"Pariwisata berpotensi menjadi salah satu sumber devisa utama Indonesia dalam satu dekade mendatang apabila industri dan destinasi terus diperkuat. Pemerintah kabupaten dan kota berperan membangun destinasi, sedangkan penyelenggara seperti RajaMICE membantu memfasilitasi akses pasar melalui pertemuan bisnis," tuturnya.

Kunjungan Wisatawan Jawa Tengah Capai 76 Juta

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono, mengatakan kunjungan wisatawan domestik ke Jawa Tengah telah mencapai sekitar 76 juta. Jumlah tersebut mendekati target ideal pemerintah provinsi sebanyak 84 juta kunjungan.

Hanung menilai BBTE dapat membantu memperluas pasar pariwisata Jawa Tengah, termasuk menarik wisatawan mancanegara. Sejumlah pasar yang menjadi perhatian antara lain Malaysia, Singapura, dan India.

"Jawa Tengah sebagai daerah yang memiliki potensi besar karena berada di pusat Pulau Jawa dan memiliki beragam destinasi wisata," ujarnya.

Menurut Hanung, kegiatan yang mempertemukan pelaku industri dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan.

Ia juga melihat perubahan pola perjalanan sebagai peluang bagi pariwisata Jawa Tengah. Perjalanan antardaerah semakin mudah, salah satunya berkat dukungan Tol Trans Jawa.

"Sekarang ini ada tren wisatawan melakukan perjalanan singkat dengan tujuan tertentu, misalnya wisatawan dari Jawa Timur yang sengaja ke Solo untuk menikmati kuliner soto lalu kembali lagi dalam hari yang sama. Begitu pula maupun sebaliknya dari Jateng ke Jatim," katanya.

Pola perjalanan singkat tersebut membuka kesempatan bagi daerah untuk menawarkan produk wisata sesuai kebutuhan pengunjung. Destinasi dapat mengembangkan paket perjalanan yang memungkinkan wisatawan menikmati pengalaman tertentu tanpa harus menginap.

Hanung menegaskan pengembangan pariwisata Jawa Tengah perlu mengutamakan keamanan dan kenyamanan wisatawan, sesuai arahan Gubernur Jawa Tengah. Dengan begitu, pertumbuhan jumlah kunjungan diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pengalaman wisata.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online