Angin Kencang Hambat Pemadaman Karhutla Gunung Lawu
Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific
Harianjogja.com, KARANGANYAR—Angin kencang di kawasan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menghambat upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Gunung Lawu. Di tengah kendala cuaca yang membatasi operasi helikopter, tim gabungan memperkuat penyekatan api untuk mencegah kebakaran menjalar ke kawasan hutan alam, objek wisata, dan jaringan pipa air milik warga.
Pemadaman melalui jalur darat tetap dilanjutkan pada Kamis (22/10/2026). Petugas dikerahkan dari sejumlah posko untuk menyekat pergerakan api secara manual, terutama di titik-titik yang dinilai perlu dilindungi dari rambatan kebakaran.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan angin kencang menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan kebakaran di lereng Gunung Lawu.
“Anginnya luar biasa kencang di Tawangmangu. Kami berupaya semaksimal mungkin melakukan penyekatan agar api tidak menjalar ke kawasan yang harus dilindungi,” kata Sugiharjo saat memberikan keterangan, Rabu (21/10/2026) malam.
Dalam laporan penanganan hari ketujuh, tim gabungan mengoperasikan empat posko, yakni posko induk Gondosuli serta posko aju Cemara Kandang, Tambak, dan Cetho. Masing-masing posko menangani penyekatan atau pemadaman di lokasi yang telah ditentukan.
Dari posko induk Gondosuli, sebanyak 90 personel gabungan yang terdiri atas unsur TNI Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP), Brimob, Polres, dan relawan diberangkatkan untuk melakukan penyekatan manual di Banbanyu, Babadan, Gulungan, dan Pentongan atau Bukit Mapak.
BACA JUGA
Sementara itu, 20 personel dari posko aju Cemara Kandang melakukan penyekatan di jalur pendakian antara Pos 1 dan Pos 2. Di posko Tambak, sebanyak 136 personel dikerahkan untuk pemadaman dan penyekatan di Pos 4.
Adapun 69 personel dari posko Cetho melakukan penyisiran dan penyekatan di sekitar jalur pipa air milik warga di Pos 3. Pengamanan jaringan pipa menjadi salah satu perhatian karena kebakaran berpotensi mengganggu fasilitas yang dibutuhkan masyarakat.
Water Bombing Terkendala Cuaca
Selain mengandalkan personel di darat, tim gabungan berupaya memadamkan api melalui operasi water bombing atau pengeboman air dari udara.
Berdasarkan laporan penanganan pada Rabu, operasi tersebut dilaksanakan dalam dua sorti menggunakan dua helikopter. Laporan yang diterima menyebutkan kapasitas air mencapai 14.000 liter dan tujuh kali pengeboman air berhasil dilakukan.
Namun, cuaca yang tidak mendukung menghambat kelanjutan operasi. Helikopter harus kembali sehingga upaya pemadaman dari udara belum dapat dilaksanakan secara maksimal.
Sugiharjo menyampaikan bahwa tim sebelumnya merencanakan hingga 12 kali pengeboman air. Selain itu, BPBD Karanganyar telah mengajukan permohonan modifikasi cuaca kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hingga Rabu malam, pihaknya belum menerima balasan atas pengajuan tersebut.
Sekat Api Diperkuat di Sekitar Objek Wisata
Untuk penanganan pada Kamis (22/10/2026), tim gabungan menyiapkan sejumlah langkah lanjutan. Posko induk Gondosuli dijadwalkan membuat sekat api di sekitar Babadan dan Gulungan untuk melindungi kawasan hutan alam serta objek vital, termasuk Sakura Hills, Lawu Park, dan Embun Lawu.
Tim dari posko Cemara Kandang melanjutkan penyekatan di sekitar Pos 1. Sementara itu, personel posko Tambak dijadwalkan membuat ilaran atau jalur sekat api yang dimulai dari bagian bawah kawasan terdampak.
Di posko Cetho, petugas melanjutkan pengamanan jaringan pipa air warga. Selain itu, metode bakar balik direncanakan diterapkan di sejumlah titik dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan keselamatan petugas.
Operasi water bombing oleh tim dari Lanud juga direncanakan kembali dilakukan untuk mendukung pemadaman. Pelaksanaannya tetap bergantung pada kondisi cuaca dan kelayakan operasi penerbangan.
Sebelumnya, BPBD menerima laporan bahwa titik api mendekati sejumlah kawasan wisata di Tawangmangu, antara lain sekitar Gubuk Suwito, Sakura Hills, dan Lawu Park. Pergerakan api tersebut menjadi perhatian karena kebakaran dikhawatirkan menjalar ke kawasan hutan alam dan area wisata apabila tidak segera dikendalikan.
Pengelola The Lawu Park dan Sakura Hills, Parmin Sastro Wijono, melaporkan titik api di sekitar kawasan wisata tersebut dalam kondisi aman pada Kamis pagi. Meski demikian, pengelola bersama karyawan, vendor, dan warga Bulakrejo tetap melakukan kerja bakti untuk membersihkan area serta memperkuat sekat bakar di kawasan yang berbatasan langsung dengan hutan.
Penanganan karhutla Gunung Lawu masih membutuhkan koordinasi berbagai unsur, baik melalui pemadaman manual maupun dukungan dari udara. Upaya penyekatan dilakukan untuk membatasi rambatan api sekaligus melindungi kawasan hutan, objek wisata, jaringan pipa air, dan lingkungan masyarakat di sekitar lereng gunung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos
Share