OPINI: Bayi yang Tidak Diinginkan: Ujian Etika dan Kemanusiaan Kita
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Motor hangus terbakar di SPBU Semarang, korban soroti keterlambatan penggunaan APAR saat api masih kecil. /Instagram.
Harianjogja.com, SEMARANG—Sebuah sepeda motor hangus terbakar di area SPBU Sriwijaya setelah api yang awalnya kecil diduga tak segera ditangani. Peristiwa pada Jumat (3/4/2026) sore itu viral di media sosial dan memicu sorotan soal respons petugas di lokasi.
Video kejadian beredar luas, salah satunya melalui akun Instagram @infokejadiansemarangnews. Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa alat pemadam api ringan (APAR) tidak langsung digunakan meski api masih bisa dikendalikan.
Pemilik motor, Chiko Relisviano Ramadhan, mengatakan insiden terjadi sesaat setelah dirinya mengisi bahan bakar. Motor Yamaha Fiz R miliknya tiba-tiba memercik api saat dinyalakan.
“Setelah mengisi bensin lalu keluar dari SPBU. Saat menyalakan motor dengan double starter, muncul percikan api di bagian karburator. Saya menduga ada masalah korsleting listrik,” ujar Chiko, Sabtu (4/4/2026).
Melihat percikan tersebut, ia langsung menjauh dan meminta bantuan petugas untuk mengeluarkan APAR. Namun, menurut pengakuannya, permintaan itu tidak segera dipenuhi.
“Saya sudah minta tolong agar APAR dikeluarkan, tapi petugas bilang tidak bisa karena harganya mahal dan harus menunggu manajer,” keluhnya.
Api kemudian membesar. Chiko bersama rekannya mencoba memadamkan kobaran dengan air dan kain basah, tetapi upaya tersebut tidak berhasil menghentikan api yang terus melahap kendaraan.
Ketika api sudah tak terkendali dan motor nyaris tinggal kerangka, barulah APAR dikeluarkan oleh petugas untuk memadamkan sisa kebakaran. Warga di lokasi sempat melayangkan protes atas keterlambatan penanganan tersebut.
“Motor sudah hangus dan tinggal kerangka, APAR baru dikeluarkan. Saya dan warga sempat protes, APAR gunanya apa?” ujarnya.
Seorang anggota kepolisian sempat datang ke lokasi dan menyarankan agar korban membuat laporan resmi karena kejadian berlangsung di area SPBU. Namun, Chiko memilih tidak melanjutkan proses hukum dan mengikhlaskan kejadian tersebut.
Ia juga mengaku hingga kini belum ada permintaan maaf dari pihak pengelola SPBU maupun Pertamina terkait insiden tersebut.
“Saya kecewa. Saat api masih kecil seandainya langsung dipadamkan dengan APAR mungkin tidak akan membesar. Tapi saya dan keluarga sudah ikhlas,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Kasus TBC di Kulonprogo meningkat. Dinkes dan PDPI gelar cek kesehatan gratis untuk deteksi dini.
Polisi ungkap penyebab kecelakaan KRL di Bekasi. Sopir taksi dinilai lalai, 16 orang tewas.
Buruh harian di Sleman nekat mencuri TV dan water heater dari kos. Pelaku kabur usai tak bayar sewa.
Banjir di Sintang Kalimantan Barat putuskan 13 jembatan gantung. Ribuan warga terdampak, distribusi bantuan terkendala.
PSIM Jogja incar 10 besar Super League. Laga penentuan lawan Arema FC jadi kunci di pekan terakhir.