Kabur Seusai Gagal Menculik di Sukoharjo, Pelaku Tabrak 8 Orang
Pelarian pelaku penculikan di Sukoharjo berujung tabrak lari delapan korban hingga Solo. Tiga pelaku ditangkap di lokasi berbeda.
Foto lawas Candi Noesoekan yang kini diduga terkubur di dasar Kali Anyar wilayah Nusukan, Banjarsari, Solo. Istimewa/Koleksi Dani Saptoni
Harianjogja.com, SOLO—Belakangan warganet banyak membincangkan tentang adanya sebuah candi yang disebut terkubur di bawah sungai di Kota Solo, Jawa Tengah.
Candi itu adalah Candi Noesoekan di dasar Kali Anyar, di Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Aktivis sejarah lantas angkat bicara memberi penjelasan.
Cerita tentang candi terkubur di dasar Kali Anyar ini viral berkat unggahan konten di akun Instagram @sadarpastua milik Yusuf Ansori, seorang konten kreator lokal, Rabu (12/2/2025).
Konten itu telah hingga Kamis (13/2/2025) ditonton 34.800 kali. Dalam konten itu, Yusuf Ansori menunjukkan bagian Kali Anyar yang diduga menjadi lokasi candi tersebut.
"Candi Noesoekan konon berupa susunan batu bata yang dihiasi beberapa arca. Candi itu tercatat dalam sebuah naskah kuno yang tersiman di perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran. Beberapa artefak konon juga tersimpan di Pura Mangkunegaran dan Belanda," bunyi narasi dalam video itu.
Aktivis sejarah Kota Solo dari komunitas Solo Societeit, Dani Saptoni, memberikan penjelasan panjang lebar tentang hal ini.
BACA JUGA: Siapkan Fisik untuk Retreat Kepala Daerah, Endah Subekti Rutin Jogging dan Nge-gym
"Candi Noesoekan itu tergerus atau tergusur karena pembangunan sodetan Kali Anyar atau pun Kali Pepe sekitar tahun 1922. Saya ada beberapa foto arca dan denah candi ini," ujar dia, Kamis (13/2/2025).
Dani memperkirakan Candi Noesokan dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno/Klasik.
"Candi Noesoekan ini adalah candi Hindu. Sehingga kemungkinan pembangunan candi ini pada era Mataram Kuno atau Mataram Klasik," ujar dia.
Era itu, jelas Dani, berusia lebih tua dari era Kerajaan Majapahit yang berakhir pada tahun 1.400-an. "Yang jelas Kerajaan Majapahit berakhir pada tahun 1.400-an. Jadi Candi Noesoekan ini kemungkinan dibangun sebelum itu, atau bisa juga pada masa Kerajaan Majapahit," tutur dia.
Keyakinan Dani bahwa Candi Noesoekan merupakan candi Hindu berdasarkan temuan arca Siwa, Durga, dan Nandi atau Lembu. Pada 1917 pernah dibuat sketsa posisi candi oleh Sastro Atmijoyo. Naskah atau sketsa tersebut kini disimpan di Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran.
"Sisa artefak yang pernah ditemukan berupa arca Siwa, Durga, dan Nandi atau Lembu. Nah arca Siwa dan Durga disebut-sebut tersimpan di Belanda, dibawa ke Belanda. Tapi untuk arca Nandi atau Lembu itu dulu ada di kawasan Pura Mangkunegaran Solo," terang dia.
Ihwal letak Candi Noesoekan, Dani memperkirakan berada 600 meter ke timur dari bendungan lama Tirtonadi. "Keberadaan candi waktu itu sudah tidak utuh, hanya tersisa beberapa bagian candi dan arca," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos
BKAD Sleman mengajukan pemblokiran rekening yang dipakai dalam penipuan berkedok tagihan pajak daerah. Warga diminta hanya membayar lewat kanal resmi.
Kelurahan Wirobrajan menggencarkan Gerakan Bapak Asuh Trotoar melalui sosialisasi door to door untuk menjaga trotoar tetap bersih, rapi, dan nyaman.
Ribuan lansia masuk daftar tunggu sekolah lansia di Kota Jogja. Tingginya minat membuat Pemkot berupaya menambah sekolah baru.
IDAI mengingatkan polusi udara dapat menurunkan fungsi paru anak. Penelitian menunjukkan 13,3% anak mengalami gangguan fungsi paru.
Disnaker Bantul mencatat 142 pekerja terkena PHK hingga Mei 2026. Kasus berasal dari sektor kesehatan, IT, manufaktur, dan perdagangan.