11 Jalan di Boyolali Masuk Zona Rawan Kecelakaan, Ini Daftarnya
Dishub Boyolali identifikasi 11 ruas jalan rawan kecelakaan. Empat ruas jadi prioritas dalam RAK LLAJ 2026–2031.
Petugas saat mengukur stupa dan prasada yang ditemukan di Dukuh/Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Minggu (24/5/2026). (Istimewa/Disdikbud Boyolali)
Harianjogja.com, BOYOLALI — Penemuan tak terduga terjadi di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali. Saat warga tengah membuka akses jalan menuju kandang ternak, justru ditemukan dua batu yang diduga kuat merupakan bagian dari bangunan candi kuno.
Temuan tersebut langsung menarik perhatian dan kini tengah diteliti oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali untuk memastikan asal-usul dan nilai sejarahnya.
Batu pertama ditemukan oleh warga bernama Sopan Prasetyo pada April 2026. Saat itu, ia tengah meratakan tanah dan menemukan struktur batu yang menyerupai pondasi. Penemuan berlanjut pada 14 Mei 2026 ketika penggalian kembali dilakukan di titik yang sama.
“Awalnya saya menemukan seperti pondasi. Saat digali lagi, ternyata muncul batu yang diduga stupa, lokasinya sama tapi lebih dalam sekitar satu meter,” ujar Sopan.
Menariknya, kedua batu yang ditemukan tersebut tampak saling berkaitan. Setelah dicoba dipasangkan, struktur keduanya terlihat menyatu dengan pola yang saling mengunci.
Temuan ini kemudian dilaporkan ke komunitas pegiat sejarah hingga akhirnya diteruskan ke pihak berwenang untuk diteliti lebih lanjut.
Staf Bidang Kebudayaan Disdikbud Boyolali, Farid Burhanuddin, menjelaskan bahwa batu yang diduga stupa memiliki ukuran cukup besar, dengan tinggi sekitar 1,25 meter dan diameter 1,3 meter. Sementara batu yang diduga sebagai prasada memiliki tinggi sekitar 20 sentimeter dan diameter 1,8 meter.
Meski secara visual keduanya tampak saling terkait, pihaknya belum dapat memastikan apakah kedua benda tersebut berasal dari satu struktur bangunan yang sama.
“Untuk memastikan hubungan antara prasada dan stupa tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut,” jelas Farid.
Dari karakteristik bentuk dan materialnya, batu tersebut diduga berasal dari bangunan bercorak Buddha yang diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, yakni pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa wilayah Nepen memiliki jejak peradaban masa lampau, baik sebagai lokasi peribadatan maupun pusat aktivitas produksi batu candi.
Pemerintah daerah saat ini telah melakukan sejumlah langkah awal, mulai dari pengamanan lokasi, dokumentasi, hingga pelaporan kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah.
Farid juga mengungkapkan bahwa sebelumnya di kawasan tersebut sudah pernah ditemukan sejumlah objek diduga cagar budaya, terutama berupa prasada. Namun, temuan stupa masih tergolong langka.
“Kondisinya masih sekitar 90 persen utuh, ini yang membuat temuan ini sangat menarik. Detail ornamen dan fungsinya masih akan diteliti lebih lanjut,” katanya.
Penemuan ini tidak hanya membuka peluang penelitian sejarah yang lebih dalam, tetapi juga menjadi pengingat bahwa jejak peradaban kuno bisa saja tersembunyi di sekitar kehidupan sehari-hari masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id
Dishub Boyolali identifikasi 11 ruas jalan rawan kecelakaan. Empat ruas jadi prioritas dalam RAK LLAJ 2026–2031.
Sri Sultan HB X menyebut Sragen sebagai saudara tua DIY karena jejak sejarah Mataram. Hubungan budaya ini diminta terus dijaga.
KPK menduga rumah milik Jampidsus Febrie Adriansyah di Sentul menggunakan nama orang lain sehingga tidak tercatat dalam LHKPN.
Seorang pria 61 tahun ditemukan meninggal di Sungai Bedog, Bantul. Polisi memastikan tidak ada tanda kekerasan, korban diduga punya riwayat epilepsi.
Sebanyak 2.663 ASN Jawa Barat terindikasi judi online. Pemprov Jabar siapkan sanksi mulai pembinaan hingga pemecatan.
Harga barang diprediksi naik pada akhir 2026 akibat biaya produksi dan pelemahan rupiah. Daya beli masyarakat terancam melemah.