Harga Mentimun Naik Dua Kali Lipat, Petani Wonogiri Untung Besar

Muhammad Diky Praditia
Muhammad Diky Praditia Minggu, 12 Juli 2026 14:47 WIB
Harga Mentimun Naik Dua Kali Lipat, Petani Wonogiri Untung Besar

Harga mentimun di Wonogiri melonjak hingga Rp8.000 per kg. Petani berpeluang meraih omzet Rp24 juta dalam satu musim tanam.

Harianjogja.com, WONOGIRI— Harga mentimun di Kabupaten Wonogiri melonjak tajam pada pertengahan Juli 2026. Kenaikan harga yang mencapai dua kali lipat dari kondisi normal membuat petani menikmati peningkatan pendapatan, bahkan berpeluang memperoleh omzet hingga Rp24 juta hanya dalam satu musim tanam sekitar 35 hari.

Lonjakan harga tersebut menjadi angin segar bagi petani hortikultura setelah sebelumnya harga mentimun di tingkat petani hanya berada pada kisaran Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram.

Harga Tertinggi dalam Beberapa Waktu Terakhir

Petani mentimun asal Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Dwi Sartono, mengatakan harga jual mentimun di tingkat petani saat ini mencapai Rp8.000 per kilogram ketika dijual kepada pengepul atau bakul.

Sementara itu, untuk pembeli langsung atau pasar ritel, harga mentimun bisa mencapai Rp10.000 per kilogram.

"Harga saat ini menjadi yang tertinggi. Biasanya harga mentimun di tingkat petani paling-paling hanya berkisar Rp3.000/kg hingga Rp4.000/kg. Dengan harga sekarang, hitung-hitungannya sudah sangat lumayan," ujar Dwi kepada Espos, Sabtu (11/7/2026).

Potensi Untung Rp20 Juta dari Lahan 600 Meter Persegi

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Wonogiri itu menjelaskan, di lahan seluas 600 meter persegi miliknya ditanami sekitar 1.000 batang mentimun.

Dalam satu siklus panen selama 35 hari, setiap batang mampu menghasilkan sedikitnya tiga kilogram mentimun. Dengan harga jual Rp8.000 per kilogram, satu batang tanaman berpotensi menghasilkan pendapatan kotor sebesar Rp24.000.

Jika seluruh tanaman dipanen sesuai target, total produksi diperkirakan mencapai tiga ton dengan nilai penjualan sekitar Rp24 juta.

Di sisi lain, biaya produksi yang dikeluarkan relatif rendah. Untuk benih, pupuk, dan perawatan, Dwi mengaku hanya mengeluarkan sekitar Rp4.000 per batang atau sekitar Rp4 juta untuk 1.000 tanaman.

Dengan perhitungan tersebut, potensi margin keuntungan dapat mencapai sekitar Rp20 juta dalam satu musim tanam.

“Ini menjadi bukti kalau komoditas hortikultura punya potensi cuan yang sangat besar," urai lulusan IPB tersebut.

Program MBG Dinilai Buka Pasar Baru

Dwi optimistis prospek usaha hortikultura akan semakin menjanjikan seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah.

Menurutnya, kebutuhan sayuran segar diperkirakan meningkat untuk memenuhi pasokan program tersebut sehingga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi petani.

"Peluang pasarnya terbuka lebar dan sangat besar. Pekerjaan rumahnya sekarang tinggal bagaimana petani bisa membangun jembatan akses pasar agar bisa masuk menjadi pemasok utama kebutuhan MBG ini," kata dia.

BPS Catat Pergerakan Harga Pangan Masih Dinamis

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Wonogiri, perkembangan harga komoditas pangan di daerah tersebut masih bergerak dinamis.

Pada Juni 2026, sejumlah komoditas hortikultura lokal seperti sawi dan cabai tercatat mengalami deflasi.

Sebaliknya, bawang putih yang merupakan komoditas impor memberikan andil inflasi sebesar 0,12%.

Secara bulanan (month-to-month), Wonogiri mencatat inflasi sebesar 0,44% pada Juni 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua setelah sektor transportasi yang terdampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online