Ribuan Warga Pekalongan Mulai Disasar Skrining TBC

Newswire
Newswire Kamis, 23 Juli 2026 15:37 WIB
Ribuan Warga Pekalongan Mulai Disasar Skrining TBC

Skrining TBC - Ilustrasi Antara

Harianjogja.com, PEKALONGAN—Upaya menekan penyebaran tuberkulosis (TBC) di Kota Pekalongan memasuki tahap baru. Sebanyak 1.350 warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC menjadi sasaran skrining aktif hingga September 2026 untuk menemukan kasus lebih cepat sebelum penularan meluas.

Program tersebut dijalankan di tengah masih berlangsungnya pengobatan terhadap 140 pasien TBC di Kota Pekalongan. Petugas kesehatan akan mendatangi lingkungan sekitar pasien untuk melakukan pemeriksaan sekaligus penelusuran terhadap kelompok yang berisiko terpapar penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan, Puji Winarti, mengatakan selama ini penemuan kasus TBC lebih banyak dilakukan secara pasif, yakni ketika masyarakat yang mengalami gejala datang ke fasilitas kesehatan.

Melalui program baru tersebut, pendekatan yang digunakan berbeda karena petugas secara aktif mendatangi masyarakat yang berpotensi memiliki kontak erat dengan pasien TBC.

"Saat ini terdapat 140 pasien TBC yang sedang menjalani pengobatan. Dari kasus tersebut kami akan melakukan penelusuran kepada keluarga maupun masyarakat di sekitarnya dengan target sekitar 1.350 orang dapat menjalani skrining," kata Puji Winarti, Kamis (23/7/2026).

Langkah tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus TBC secara aktif.

Program ACF mulai dijalankan setelah diluncurkan pada Juli 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga September 2026.

Pelaksanaan kegiatan melibatkan petugas puskesmas bersama kader kesehatan yang bertugas melakukan penelusuran langsung ke lapangan.

Melalui program itu, petugas akan mendatangi lingkungan tempat tinggal pasien yang telah terdiagnosis TBC.

Pemeriksaan difokuskan pada keluarga dan warga yang memiliki kontak erat dengan penderita untuk mengetahui kemungkinan adanya kasus lain yang belum terdeteksi.

Menurut Puji Winarti, percepatan deteksi dini menjadi bagian penting dalam pengendalian TBC karena penyakit tersebut dapat menular apabila tidak segera ditangani.

Ia menjelaskan ada sejumlah gejala yang perlu diwaspadai masyarakat.

Gejala tersebut antara lain batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, demam terutama pada malam hari, serta penurunan nafsu makan.

Masyarakat yang mengalami gejala tersebut atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC dianjurkan mengikuti pemeriksaan kesehatan agar kondisi dapat diketahui lebih awal.

Selain faktor kontak dengan penderita, penularan TBC juga dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.

"Penularan penyakit ini dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti sanitasi lingkungan yang kurang baik maupun kontak dengan penderita TBC yang belum menyelesaikan pengobatan," kata Puji Winarti.

Dinas Kesehatan Kota Pekalongan juga mengingatkan pentingnya menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Menurut Puji Winarti, terapi TBC tidak dapat dihentikan di tengah jalan karena membutuhkan waktu pengobatan yang cukup panjang.

Pasien umumnya harus menjalani pengobatan minimal selama enam bulan.

Pada kondisi tertentu, durasi terapi dapat diperpanjang hingga satu tahun bahkan dua tahun menyesuaikan tingkat keparahan penyakit dan kondisi pasien.

Untuk memperluas jangkauan penelusuran kasus, Dinkes Kota Pekalongan menggandeng kader dari Mentari Sehat Indonesia.

Kader tersebut akan mendampingi petugas puskesmas saat melakukan pemeriksaan dan penelusuran kontak di lingkungan masyarakat.

Dinas Kesehatan Kota Pekalongan menegaskan bahwa TBC dapat menyerang seluruh kelompok usia, mulai dari bayi, anak-anak, orang dewasa, hingga lanjut usia.

"Kami mengingatkan bahwa TBC dapat menyerang semua kelompok usia mulai dari bayi hingga lanjut usia, sehingga masyarakat yang mengalami gejala atau memiliki kontak erat dengan penderita diimbau segera mengikuti pemeriksaan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin," kata Puji Winarti.

Program skrining yang berlangsung hingga September 2026 tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan deteksi kasus TBC di Kota Pekalongan, terutama pada kelompok masyarakat yang selama ini belum menjalani pemeriksaan meskipun memiliki risiko kontak erat dengan penderita.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online