Wali Kota Magelang Minta Penyuluh Agama Perkuat Harmoni Sosial

Jumali
Jumali Kamis, 30 Juli 2026 12:57 WIB
Wali Kota Magelang Minta Penyuluh Agama Perkuat Harmoni Sosial

Istimewa

Harianjogja.com, MAGELANG—Peran penyuluh agama Islam dinilai semakin penting di tengah perkembangan teknologi informasi dan dinamika sosial masyarakat yang terus berubah. Selain menyampaikan ajaran keagamaan, penyuluh kini dituntut mampu menjadi penggerak harmoni sosial sekaligus mitra pemerintah dalam memperkuat ketahanan masyarakat.

Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam (Pokjaluh) se-Eks Karesidenan Kedu yang digelar di Aula New Kebon Tebu, Kota Magelang, Rabu (29/7/2026).

Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, mengatakan penyuluh agama memiliki posisi strategis karena berada di garis depan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan religius. Menurutnya, tugas penyuluh tidak hanya sebatas menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga membina para ustaz, kiai, serta masyarakat di lingkungan masing-masing.

Ia menilai keberadaan penyuluh agama menjadi bagian penting dalam upaya menjaga stabilitas sosial dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat.

"Penyuluh agama tidak hanya bertugas menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga membina ustaz, kiai, dan masyarakat serta menjadi mitra pemerintah dalam memperkuat ketahanan sosial," ujar Damar dalam keterangan tertulisnya.

Menurutnya, pemerintah memberikan kepercayaan besar kepada penyuluh agama melalui berbagai program pembinaan yang disertai sistem evaluasi dan penilaian terstandar. Penilaian tersebut dilakukan untuk mengukur keberhasilan pembinaan yang dijalankan, mulai dari peningkatan pemahaman keagamaan hingga kualitas kehidupan sosial masyarakat.

Damar menegaskan bahwa keberhasilan program pembinaan juga sangat dipengaruhi kemampuan penyuluh dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

"Keberhasilan tersebut juga ditentukan oleh kemampuan penyuluh menyampaikan dakwah secara efektif," katanya.

Ia menyebut terdapat sekitar 480 penyuluh agama Islam yang bertugas di wilayah eks Karesidenan Kedu. Jumlah tersebut dinilai menjadi modal sosial yang besar untuk mendukung berbagai program pembangunan masyarakat, terutama dalam bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Karena itu, Damar mendorong para penyuluh untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat koordinasi antardaerah, serta mengembangkan inovasi pelayanan yang mampu menjawab tantangan zaman.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat sehingga metode penyampaian dakwah juga perlu beradaptasi agar tetap efektif menjangkau berbagai kalangan.

Pemerintah Kota Magelang, lanjut Damar, juga terus memperkuat kerja sama dengan Kementerian Agama dalam berbagai program pelayanan keagamaan.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan pembinaan masyarakat serta dukungan kepada para pelaku pelayanan keagamaan yang berkontribusi langsung di lingkungan masyarakat.

"Dukungan itu sudah diwujudkan melalui sinergi pelayanan kepada masyarakat serta pemberian apresiasi kepada takmir masjid, marbot, dan berbagai pihak yang berkontribusi dalam pelayanan keagamaan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Magelang, Maesaroh, mengatakan rapat koordinasi tersebut diikuti seluruh penyuluh agama Islam dari wilayah eks Karesidenan Kedu.

Menurutnya, forum tersebut menjadi sarana penting untuk memperkuat komunikasi, koordinasi, serta pertukaran pengalaman antarpenyuluh dalam menjalankan tugas di lapangan.

Melalui kegiatan tersebut, Kementerian Agama berharap sinergi yang terjalin di antara para penyuluh semakin kuat sehingga pelayanan keagamaan yang diberikan kepada masyarakat dapat berjalan lebih efektif dan responsif terhadap berbagai persoalan sosial.

Maesaroh menambahkan bahwa peran penyuluh agama saat ini tidak hanya berfokus pada pembinaan umat dalam aspek keagamaan. Penyuluh juga diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai tantangan sosial yang berkembang di tengah masyarakat, mulai dari persoalan keluarga, pendidikan karakter, hingga penguatan toleransi dan kerukunan.

Dengan penguatan kapasitas dan koordinasi yang terus dilakukan, para penyuluh agama diharapkan dapat semakin optimal menjalankan peran sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan kehidupan sosial yang harmonis, religius, dan berdaya tahan menghadapi berbagai perubahan zaman.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online