Petani Jagung Klaten Panen Raya, Pendapatan Bisa Rp13 Juta per Patok

Taufik Sidik Prakoso
Taufik Sidik Prakoso Kamis, 05 November 2026 20:57 WIB
Petani Jagung Klaten Panen Raya, Pendapatan Bisa Rp13 Juta per Patok

Harga jagung di Klaten mencapai Rp7.400/kg, tertinggi sepanjang sejarah. Petani bisa meraup Rp13 juta per patok saat panen sendiri. /Espos

Harianjogja.com, KLATEN—Petani jagung di Kabupaten Klaten menikmati hasil panen yang lebih menguntungkan tahun ini. Harga jagung kering mencapai Rp7.000 hingga Rp7.400 per kilogram (kg), menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah penanaman komoditas tersebut di Klaten.

Kenaikan harga itu membuat pendapatan petani meningkat dibandingkan musim panen tahun lalu. Salah satunya dirasakan Teguh, 63, petani asal Desa Munggung, Kecamatan Karangdowo, yang kini menjual jagung kering dengan harga Rp7.000/kg.

Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan periode panen sebelumnya yang hanya berkisar Rp4.000-Rp5.000/kg.

Tahun ini, Teguh menanam jagung di lahan seluas dua patok. Di wilayah tersebut, satu patok sawah memiliki luas sekitar 1.600 meter persegi.

"Alhamdulillah. Semoga besok bisa diulang lagi [harga jagung tinggi]," kata Teguh saat ditemui di Desa Munggung, Kamis (5/11/2026).

Panen Sendiri Bisa Menghasilkan Rp13 Juta per Patok

Teguh menjelaskan besarnya pendapatan petani tidak hanya dipengaruhi harga jual jagung, tetapi juga cara melakukan panen. Petani yang menjual hasil tanaman melalui sistem tebasan memperoleh sekitar Rp9 juta untuk setiap patok.

Namun, pendapatan bisa lebih besar apabila petani melakukan panen sendiri. Setelah dipanen dan dikeringkan, jagung kemudian dijual kepada pembeli yang sudah tersedia.

Dengan metode tersebut, hasil penjualan jagung bisa mencapai Rp12 juta hingga Rp13 juta per patok. Selisih pendapatan dibandingkan sistem tebasan diperkirakan sekitar Rp2 juta.

"Kalau panen sendiri, nanti sudah ada yang mengambil. Itu kalau sepatok bisa mendapatkan Rp12 juta sampai Rp13 juta. Ya kalau selisih dengan yang ditebas sekitar Rp2 juta," jelasnya.

Meski demikian, petani tetap harus memperhitungkan biaya produksi sejak masa tanam hingga perawatan. Teguh menyebut pengeluaran untuk mengelola satu patok lahan mencapai sekitar Rp2,5 juta.

Biaya tersebut digunakan untuk membeli benih dan pupuk, membayar delapan tenaga kerja untuk proses penanaman, serta membeli bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan pompa air.

Dengan harga jual jagung yang sekarang, Teguh mengaku bisa memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan musim panen sebelumnya.

Harga Jagung Klaten Tertinggi Sepanjang Sejarah

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten, Lilik Nugraharja, membenarkan harga sejumlah komoditas pertanian saat ini mengalami peningkatan.

Selain jagung, harga padi dan tebu juga dinilai sedang bagus. Bahkan, harga tebu mengalami kenaikan cukup besar sejak awal musim giling.

"Tidak hanya jagung, padi hingga tebu juga bagus. Tebu itu kemarin awal giling harganya Rp60.000 per kuintal, sekarang Rp120.000 per kuintal," jelas Lilik.

Khusus komoditas jagung, harga jual saat ini mencapai sekitar Rp7.400/kg. Lilik membenarkan harga tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah penanaman jagung di Kabupaten Klaten.

Luas Tanam Jagung Klaten Meningkat Jadi 11.000 Hektare

Selain harga yang menguntungkan, luas tanam jagung di Klaten juga mengalami peningkatan tahun ini. Menurut Lilik, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah fenomena El Nino yang berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.

Kondisi itu menyebabkan kekeringan lebih ekstrem dan curah hujan rendah. Akibatnya, sebagian petani memilih menanam jagung dibandingkan padi, terutama di kawasan yang memiliki keterbatasan sumber irigasi.

Saat ini, luas tanam jagung di Kabupaten Klaten mencapai sekitar 11.000 hektare (ha). Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang berkisar 9.000-10.000 ha.

Meski luas tanamnya masih lebih kecil dibandingkan sejumlah daerah lain di Jawa Tengah, produktivitas jagung Klaten justru tercatat paling tinggi di tingkat provinsi.

Rata-rata produktivitas jagung di Klaten mencapai 10 ton per hektare. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas di Jawa Tengah yang berkisar 6 ton hingga 7 ton per hektare.

"Kalau produktivitas rata-rata per ha itu 10 ton. Kalau di Jawa Tengah rata-rata sekitar 6 ton hingga 7 ton per ha. Produktivitas di Klaten menjadi yang tertinggi se-Jawa Tengah," jelas Lilik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Espos

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online