Waspada, WHO Tetapkan Ebola Kongo-Uganda Darurat Kesehatan Global
WHO menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global akibat risiko penyebaran lintas negara.
Ilustrasi penangkapan/Harian Jogja-Gigih M Hanafi
Harianjogja.com, KLATEN—Warga Desa Sajen, Kecamatan Trucuk, Klaten, Agung Santoso, menjadi salah satu korban pembunuhan berantai oleh tersangka, Sarmo, asal Desa Semagar, Girimarto, Wonogiri, yang kasusnya terbongkar pada Kamis (7/12/2023).
Sebelumnya, Agung Santosa menghilang setelah berpamitan pergi menagih utang pada Rabu (24/11/2021) silam. Selama dua hari sejak awal menghilang, nomor Whatsapp (WA) Agung masih bisa dihubungi. Nomor WA tersebut juga sempat mengirimkan pesan.
Hal itu diceritakan keluarga Agung Santoso saat ditemui wartawan di rumahnya di Desa Sajen, Kecamatan Trucuk, Klaten, Sabtu (9/12/2023). Adik korban, Suwartono, menceritakan nomor WA Agung masih mengirimkan pesan singkat ke nomor WA anaknya selang sehari setelah Agung pergi meninggalkan rumah pada November 2021.
Namun, keluarga termasuk istri korban pembunuhan berantai di Wonogiri itu curiga pengirim pesan singkat itu bukan Agung melainkan orang lain. Hal itu karena Agung diketahui jarang kirim pesan WA dan lebih menyukai berkomunikasi melalui telepon.
“Tetapi itu beberapa kali [kirim pesan] WA dan ketika nomornya ditelepon tidak diangkat,” jelas Suwartono. Keluarga mendapatkan beberapa pesan dari nomor WA milik Agung, salah satunya meminta untuk menjemput pria itu di dua tempat berbeda.
Pertama, minta dijemput di wilayah Delanggu, Klaten. Setelah didatangi, ternyata Agung tidak ada di lokasi. Kedua, pesan WA dari nomor Agung meminta bertemu di Lapangan Joho, Sukoharjo.
Namun, Agung juga tidak berada di lokasi itu setelah didatangi. Setelah itu, nomor WA Agung tidak membalas lagi pesan singkat yang dikirim keluarga. Sejak awal Agung menghilang, istri korban bernama Katin, 47, menaruh curiga terhadap Sarmo.
Kerja Sama Penggergajian Kayu
Hal itu karena Agung sering berkomunikasi dengan Sarmo, pria asal Semagar, Girimarto, Wonogiri, yang kini ditetapkan menjadi tersangka kasus pembunuhan berantai tersebut. Mereka menjalin kerja sama usaha penggergajian kayu.
Perwakilan keluarga beberapa kali mendatangi rumah Sarmo untuk menanyakan keberadaan Agung. Namun, Sarmo beralasan tak tahu menahu. Keluarga Agung juga berkomunikasi dengan keluarga Sunaryo, warga Kecamatan Jatipurno, Wonogiri, yang juga hilang setelah bertemu Sarmo pada 2022.
Belakangan, Sunaryo juga ternyata diketahui menjadi korban pembunuhan Sarmo. Sebelum kasus itu terungkap, tepatnya sekitar tujuh bulan sejak Agung menghilang, keluarga Sunaryo sempat menerjunkan 20 orang untuk menyusuri tempat usaha grajen yang dijalankan Sarmo di Wonogiri.
Dari penelusuran itu, mereka menemukan sarung tangan. Katin curiga sarung tangan itu milik Agung. Selain itu, ada sepeda motor yang dikendarai keluarga Sarmo dan identik dengan sepeda motor yang dikendarai Agung saat pergi dari rumah untuk menemui Sarmo.
Namun, nomor rangka sepeda motor tersebut telah dihapus. “Nomor rangkanya digerinda,” kata Katin. Hingga akhirnya kasus pembunuhan berantai itu berhasil diungkap Polres Wonogiri selang dua tahun Agung meghilang.
Agung dan Sunaryo dibunuh oleh Sarmo dengan cara diracun menggunakan potasium sianida. Jasad keduanya kemudian dikubur di dua tempat berbeda di Dukuh Ciman, Desa Semagar, Kecamatan Girimarto, Wonogiri.
Keluarga Agung menuntut Sarmo dihukum mati, setimpal dengan perbuatannya yang sudah menghilangkan nyawa dua orang. “Kami menuntut Sarmo dihukum mati. Biar dia merasakan apa yang dirasakan oleh suami saya. Kalau bisa, biar dia merasakan diracun juga,” ungkap Katin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
WHO menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global akibat risiko penyebaran lintas negara.
Perajin besek Bantul kewalahan hadapi lonjakan pesanan untuk kurban Iduladha, sebagian terpaksa tolak order.
Tawuran pelajar kembali pecah di dekat Stadion Mandala Krida, Jogja. Polisi menyebut aksi dipicu provokasi kelompok pelajar.
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Jadwal puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 jatuh 25–26 Mei berdasarkan penetapan awal Zulhijah Kemenag
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina