13 Ribu Pelajar Magetan Alami Gangguan Mata, Gadget Jadi Sorotan
Dinkes Magetan mencatat 13.000 pelajar alami gangguan mata dari 57.000 skrining 2025, sebagian besar akibat visus dan penggunaan gadget.
Peserta aksi membentangkan spanduk dan menebarkan sampah ke jalan saat menggelar aksi di depan kompleks Pemkab serta DPRD Klaten, Rabu (14/5/2025). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
Harianjogja.com, KLATEN – Puluhan orang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Klaten Peduli TPA Troketon (Ampera) menggelar aksi di depan kompleks Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Klaten menuntut tata kelola yang baik di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di Troketon, Kecamatan Pedan, Rabu (14/5/2025).
Dalam aksi itu, mereka menyampaikan sejumlah keluhan terkait dampak keberadaan TPA Troketon ke warga sekitar. Berdasarkan pantauan, puluhan orang itu datang membentangkan sejumlah spanduk. Salah satunya “Sampah Bukan Warisan Anak Cucu”.
Selain membentangkan spanduk, mereka membawa dua kantong plastik berisi sampah yang kemudian ditebar di pintu masuk ke kompleks DPRD dan Pemkab Klaten.
Aksi itu mendapatkan pengawalan dari aparat kepolisian. Aksi dilakukan oleh perwakilan warga Desa Kaligawe, Kalangan dan Troketon, Kecamatan Pedan, perwakilan sejumlah organisasi serta mahasiswa.
Dalam orasinya, salah satu peserta aksi, Marwan Kholil, mengungkapkan kondisi saat ini TPA Troketon bukan tempat pemrosesan melainkan tempat pembuangan akhir.
Sesuai undang-undang, lanjut Marwan, jarak TPA minimal radius 1 km dari permukiman. Namun, ada beberapa wilayah seperti di Kaligawe yang jaraknya hanya radius tidak lebih dari 500 meter.
“Ini menjadikan efek yang luar biasa. Satu, pertanian menjadi mati. Dua, ekonomi UMKM masyarakat mati karena banyaknya lalat-lalat hijau yang beterbangan sehingga warung makan di sana tidak bisa laku,” kata Marwan.
Ketiga, lanjut Marwan, polusi bau yang mengganggu aktivitas sosial masyarakat mulai dari pendidikan, peribadatan, dan berbagai aktivitas warga lainnnya.
“Selanjutnya belum sampai selesai masalah itu timbul masalah baru. Manajemen pengelolaan yang kurang baik menjadikan lindi air limbah dari Troketon ini meluber ke permukiman warga. Sehingga menimbulkan bau yang menyengat. Yang kedua, air tanah yang seharusnya menjadi konsumsi masyarakat di sana menjadi tercemar,” kata Marwan.
Saat aksi berlangsung, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, bersama Wabup Klaten, Benny Indra Ardhianto, serta jajaran Forkopimda menemui langsung puluhan peserta aksi. Seluruh peserta aksi kemudian diajak untuk mengikuti audiensi di dalam gedung DPRD Klaten.
Mereka kemudian menggelar audiensi di dalam gedung paripurna serta menyampaikan sejumlah keluhan. Sementara itu, sampah yang sempat ditebar kemudian dipungut kembali.
Sebelumnya, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menggelar inspeksi mendadak (Sidak) ke TPA Troketon, Sabtu (10/5/2025). Sidak dilakukan menyusul ada keluhan masyarakat terkait lindi yang meluber ke permukiman saat intensitas hujan tinggi.
Pada kesempatan itu, Hamenang mengungkapkan tidak ada masalah pada zona landfill yang menjadi penampungan akhir sampah. Kapasitasnya masih mampu menampung sampah.
Namun, ketika hujan tinggi, air yang mengalir ke embung di TPA tersebut meluap hingga meluber ke permukiman. Dia menjelaskan sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) agar segera menyelesaikan dua hal besar yakni mengurangi jumlah sampah serta segera melengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di TPA tersebut.
“Karena dengan IPAL ini nanti airnya bisa diolah, ketika dialirkan keluar sudah bersih dan justru bisa digunakan untuk irigasi,” ungkap dia.
Hamenang menegaskan dia bersama Wabup Klaten Benny Indra Ardhianto yang baru menjabat sekitar 2,5 bulan terakhir berkomitmen untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan sampah. Hal itu menjadi salah satu dari 10 program prioritas mereka selama lima tahun menjabat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id
Dinkes Magetan mencatat 13.000 pelajar alami gangguan mata dari 57.000 skrining 2025, sebagian besar akibat visus dan penggunaan gadget.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Pertamina mempercepat distribusi BBM subsidi di Madura untuk mengurai antrean Pertalite dan Solar di sejumlah SPBU di empat kabupaten.
Australia memperketat larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dengan menaikkan denda hingga Rp1,1 triliun dan memperluas pengawasan.