Bupati Banyumas Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi Petungan Jawa

Newswire
Newswire Kamis, 09 Juli 2026 13:27 WIB
Bupati Banyumas Ajak Generasi Muda Lestarikan Tradisi Petungan Jawa

Bupati Banyumas mengajak generasi muda melestarikan tradisi petungan Jawa melalui workshop yang membahas filosofi, weton, dan kearifan lokal. /Antara.

Harianjogja.com, BANYUMAS—Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengajak generasi muda untuk mengenal sekaligus melestarikan tradisi petungan Jawa sebagai bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai filosofi dan kearifan lokal. Menurutnya, pengetahuan tersebut perlu terus diwariskan agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Ajakan itu disampaikan saat membuka Workshop Tradisi Petungan Jawa: dari Kelahiran sampai Kematian yang diselenggarakan Paguyuban Kawruh Rasa Sejati di Pendopo Si Panji Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.

Petungan Jawa Lebih dari Sekadar Menentukan Hari Baik

Sadewo menjelaskan petungan Jawa tidak hanya dipahami sebagai sistem untuk menentukan hari baik, tetapi juga merupakan pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Jawa dalam memaknai perjalanan hidup manusia.

“Juga merupakan pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Jawa dalam memaknai perjalanan hidup manusia,” katanya.

Menurutnya, hingga kini petungan Jawa masih digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai acuan dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Tradisi tersebut dimanfaatkan untuk menentukan hari baik, membaca karakter seseorang, hingga melihat kecocokan jodoh sebelum melangsungkan pernikahan.

Mengenal Sistem Neptu dalam Tradisi Jawa

Bupati menjelaskan sistem petungan Jawa menggunakan perpaduan kalender Masehi dengan lima hari pasaran Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Perhitungan tersebut dikenal dengan istilah neptu, yakni nilai tertentu yang berasal dari kombinasi hari kelahiran dan pasaran seseorang.

“Sistem tersebut bekerja dengan menjumlahkan nilai hari dalam kalender Masehi dengan lima hari pasaran Jawa, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon, yang dikenal dengan istilah neptu (nilai tertentu dari hari dan pasaran seseorang),” katanya.

Ia mengatakan hasil perhitungan kemudian dianalisis oleh sesepuh atau juru hitung weton sebagai dasar menyelaraskan berbagai aktivitas manusia dengan pandangan masyarakat Jawa mengenai keseimbangan alam semesta.

Workshop Jadi Ruang Pelestarian Budaya

Sadewo menilai forum diskusi dan workshop menjadi sarana penting untuk mendokumentasikan sekaligus mewariskan pengetahuan tradisional kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, warisan budaya seperti petungan Jawa merupakan bagian dari identitas masyarakat yang tidak boleh hilang.

"Saya berharap forum seperti ini bisa menjadi tempat untuk saling belajar. Bukan hanya bagi peserta yang hadir hari ini, juga bagi generasi muda agar mereka mengenal dan memahami berbagai pengetahuan yang telah diwariskan oleh para leluhur," katanya.

Ia juga menegaskan Pemerintah Kabupaten Banyumas berkomitmen melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam pembangunan, termasuk para penghayat kepercayaan yang selama ini ikut menjaga kekayaan budaya daerah.

“Setiap kelompok masyarakat memiliki peran dalam pembangunan, termasuk para penghayat kepercayaan yang selama ini turut menjaga dan merawat kekayaan budaya daerah,” kata Bupati.

Generasi Muda Dinilai Mulai Jauh dari Tradisi Weton

Ketua Paguyuban Kawruh Rasa Sejati, Feby Lestari, mengatakan workshop tersebut diselenggarakan untuk memperkenalkan kembali tradisi petungan Jawa kepada generasi muda.

Menurutnya, pengetahuan mengenai weton atau hari kelahiran selama ini menjadi bagian dari budaya Jawa dalam menentukan hari baik maupun hari yang perlu dihindari untuk berbagai aktivitas.

Ia mengakui tidak sedikit generasi muda yang kini mulai kurang memahami makna kombinasi hari pasaran seperti Senin Pahing, Jumat Wage, dan lainnya.

"Kalau sekarang orang lebih mengenal horoskop, sebenarnya masyarakat Jawa juga memiliki sistem pengetahuan sendiri yang berkaitan dengan hari kelahiran. Ini penting untuk terus dilestarikan agar generasi muda mengenal identitas budayanya," katanya.

Dalam workshop tersebut, panitia menghadirkan Ki Samino dari Paguyuban Wayah Kaki, akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Agung Prabowo, serta Ki Prayit dari Paguyuban Kawruh Rasa Sejati sebagai narasumber.

Ketiganya berbagi pengetahuan mengenai tradisi petungan Jawa sekaligus berdiskusi bersama peserta mengenai upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah perubahan sosial.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online