Dua SPPG di Klaten Disuspend Akibat Kasus Keracunan MBG

Taufik Sidik Prakoso
Taufik Sidik Prakoso Minggu, 06 September 2026 17:07 WIB
Dua SPPG di Klaten Disuspend Akibat Kasus Keracunan MBG

Foto ilustrasi dapur Makan Bergizi Gratis, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, KLATEN— Sebanyak 153 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) saat ini beroperasi di Kabupaten Klaten untuk mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari jumlah tersebut, dua dapur SPPG untuk sementara tidak beroperasi setelah muncul dugaan keracunan yang dialami siswa usai menerima makanan MBG.

Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Klaten, Yoga Angga Pratama, mengatakan ratusan SPPG tersebut melayani sekitar 300.100 penerima manfaat. Penerima program mencakup peserta didik dari jenjang TK/PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK.

Selain siswa dan pendidik, program MBG di Klaten juga mulai menyasar kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.

Dua SPPG Klaten Disuspend

Dua dapur yang saat ini tidak beroperasi adalah SPPG Klaten Cawas Barepan dan SPPG Klaten Ceper Kurung.

Yoga menjelaskan BGN pusat telah memberlakukan suspend terhadap SPPG Cawas Klaten Barepan sejak beberapa pekan lalu. Kebijakan tersebut diambil setelah muncul dugaan kasus keracunan yang dialami murid SDIT Sinar Fajar Muhammadiyah Cawas.

Sementara itu, SPPG Klaten Ceper Kurung juga menyusul mendapatkan kebijakan suspend setelah muncul dugaan keracunan yang dialami siswa di dua Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah di Kecamatan Ceper.

Peristiwa tersebut terjadi setelah para siswa menerima menu MBG pada Kamis (3/9/2026).

"Saat ini kami baru menunggu turunnya surat suspend dari BGN untuk SPPG Klaten Ceper Kurung," kata Yoga saat ditemui di SPPG Kurung, Jumat (4/9/2026).

Untuk SPPG yang berada di Desa Barepan, Kecamatan Cawas, operasionalnya masih dalam tahap evaluasi. Keputusan mengenai pembukaan kembali dapur tersebut berada di tangan BGN pusat.

"Untuk SPPG yang Cawas kemarin memang ada gejala sakit perut yang dialami siswa. Alhamdulillah, siswa sudah kembali bersekolah. Tidak ada yang rawat inap. Namun, SPPG masih dilakukan evaluasi sehingga belum bisa beroperasional," kata Yoga.

Dugaan Keracunan MBG di Cawas

Kasus yang terjadi di Cawas sebelumnya melibatkan 178 murid SDIT Sinar Fajar Muhammadiyah Cawas. Mereka diduga mengalami keracunan setelah menerima menu MBG pada Jumat (14/8/2026).

Tidak ada murid yang menjalani rawat inap dalam kejadian tersebut. Petugas Dinas Kesehatan bersama Puskesmas kemudian mengambil sampel makanan yang dikonsumsi para siswa untuk diperiksa di laboratorium.

Hasil pemeriksaan dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Yogyakarta keluar sekitar sepekan setelah sampel diperiksa. Dari sejumlah sampel yang diuji, terdapat dua menu yang dinyatakan positif Bacillus sp.

Sementara itu, dugaan keracunan kembali terjadi di Kecamatan Ceper. Sebanyak 64 murid dari dua MI Muhammadiyah, yakni MI Muhammadiyah Srebegan dan MI Muhammadiyah Cetan, mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi menu MBG.

Gejala yang dialami siswa antara lain mual, pusing, hingga muntah. Tidak ada siswa yang harus menjalani rawat inap. Sebagian besar siswa juga sudah kembali bersekolah pada Jumat (4/9/2026), sehari setelah kejadian.

Sampel makanan dalam kasus tersebut telah diambil untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Hingga kini, penyebab munculnya gejala pada puluhan murid tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium.

Sekolah Bahas Kelanjutan Program MBG

Kepala MI Muhammadiyah Cetan, Hariyanto, mengatakan pihak sekolah segera menggelar musyawarah bersama wali murid setelah muncul dugaan keracunan.

Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas keberlanjutan kerja sama sekolah dengan program MBG. Kekhawatiran muncul karena kejadian tersebut berpotensi menimbulkan trauma bagi siswa maupun orang tua.

"Dari sekolah sendiri ya sangat sedih. Khawatirnya anak-anak jadi trauma, orang tua trauma," jelas dia.

Sekolah pun perlu mempertimbangkan aspek keamanan makanan sekaligus memastikan proses penyediaan makanan berjalan sesuai standar sebelum program dilanjutkan.

Bupati Klaten Minta Pengawasan Diperkuat

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo berharap kejadian dugaan keracunan MBG tidak kembali terjadi. Ia meminta pengawasan terhadap seluruh SPPG di wilayah Klaten diperkuat untuk mencegah potensi persoalan serupa.

Hamenang mendorong keterlibatan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), mulai dari camat, kapolsek, danramil, bersama Puskesmas untuk melakukan pemantauan dan mitigasi risiko di wilayah masing-masing.

"Kami minta tolong rekan-rekan Forkopimcam didampingi dari Koordinator MBG di kecamatan untuk kemudian sambang ke SPPG yang ada di wilayah. Sehingga ada mitigasi lebih awal ketika ada potensi-potensi risiko," jelas Hamenang saat ditemui di SPPG Kurung, Jumat (4/9/2026).

Menurut Hamenang, pengawasan tidak cukup dilakukan setelah terjadi masalah. Pemantauan secara berkala diperlukan untuk mengetahui potensi risiko sejak awal sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan.

Ia juga meminta seluruh mitra SPPG melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses penyediaan MBG. Setiap tahapan, mulai dari persiapan hingga makanan diterima penerima manfaat, harus memenuhi standardisasi yang ditetapkan.

"Niat program Pak Presiden sangat bagus untuk mencerdaskan anak-anak kita. Jangan sampai kemudian justru menjadi masalah yang membuat trauma anak-anak kita," kata Hamenang.

Dengan jumlah SPPG yang mencapai 153 unit dan penerima manfaat sekitar 300.100 orang, pengawasan terhadap keamanan pangan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MBG di Klaten. Dua dapur yang disuspend kini menjadi bagian dari evaluasi untuk memastikan program tersebut dapat berjalan aman bagi siswa dan kelompok penerima manfaat lainnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Espos

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online