Guru di Magelang Didorong Adaptif Hadapi Generasi Digital, Ini Tantangannya

Nina Atmasari
Nina Atmasari Selasa, 06 Oktober 2026 23:37 WIB
Guru di Magelang Didorong Adaptif Hadapi Generasi Digital, Ini Tantangannya

Ribuan guru mengikuti Pelatihan dan Seminar Nasional Guru How To Be a Great Teacher yang digelar di GOR Gemilang Kabupaten Magelang, Selasa (6/10/2026). /Ist-Dok Pemkab Magelang

Harianjogja.com, MAGELANG—Pemerintah Kabupaten Magelang mendorong guru meningkatkan kualitas dan kompetensi agar lebih adaptif menghadapi perubahan karakter peserta didik di tengah perkembangan teknologi digital. Guru kini tidak hanya dituntut menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai komunikator, motivator, sekaligus teladan bagi generasi muda.

Dorongan peningkatan kualitas guru tersebut salah satunya dilakukan melalui Pelatihan dan Seminar Nasional Guru How To Be a Great Teacher di GOR Gemilang Kabupaten Magelang, Selasa (6/10/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 1.000 guru dan menjadi ruang bagi para pendidik untuk memperbarui kompetensi serta memahami pendekatan yang lebih relevan dalam mendidik generasi digital.

Dalam sambutan Bupati Magelang yang dibacakan Asisten Sekda Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Bela Pinarsi, disebutkan guru menjadi pilar utama dalam transformasi pendidikan.

“Tantangan dunia pendidikan saat ini kian kompleks seiring berkembangnya karakteristik anak didik kita, yang mayoritas kini berada pada generasi Gen-Z,” jelas Bela Pinarsi.

Menurut Bela, perkembangan era digital membuat guru tidak cukup hanya melakukan transfer of knowledge. Pendidik juga dituntut mampu menginspirasi, memotivasi, serta menjadi teladan yang adaptif bagi peserta didik.

Tiga Kemampuan Guru di Era Digital

Tema How To Be a Great Teacher dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Setidaknya terdapat tiga kemampuan yang perlu diperkuat guru, yakni semangat mengajar, kemampuan public speaking, serta strategi mendidik generasi digital.

Semangat mengajar diperlukan agar proses pembelajaran tetap hidup dan menyenangkan. Sementara itu, kemampuan komunikasi menjadi kunci agar materi pembelajaran sekaligus nilai-nilai karakter dapat diterima siswa dengan baik.

Guru juga perlu memahami psikologi dan perilaku generasi digital. Pemahaman tersebut diperlukan agar pendekatan pendidikan yang diterapkan dapat lebih efektif dan sesuai dengan karakter peserta didik.

Bela mengingatkan profesi guru bukan sekadar rutinitas administrasi maupun kewajiban memenuhi jam mengajar. Guru memiliki peran penting dalam membentuk masa depan daerah dan bangsa.

“Guru yang biasa-biasa saja hanya bisa menuntaskan kurikulum, tetapi guru yang hebat adalah guru yang mampu menyalakan api rasa ingin tahu dan menginspirasi impian di dalam dada setiap muridnya,” tegasnya.

Guru Hadapi Kesenjangan Antargenerasi

Pembina Teacherpreneur Nusantara Jawa Tengah, Slamet Muridan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk kontribusi untuk mendorong perubahan pola pikir guru. Seminar tersebut didukung Pemkab Magelang dan dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Agama serta KNPI.

Menurut Slamet, persoalan guru saat ini cukup kompleks. Selain persoalan kesejahteraan, guru menghadapi beban administrasi dan kesenjangan antargenerasi ketika mengajar peserta didik yang tumbuh dalam lingkungan digital.

“Kami ingin guru-guru sadar untuk menjadi negara yang maju, maka kita adakan seminar ini. Di Kabupaten Magelang kami ingin memberi kontribusi untuk me-landing-kan mindset lebih dahulu,” ujarnya.

Ia berharap guru tidak hanya menjalankan pembelajaran secara normatif. Guru juga diharapkan mampu menjadi sosok yang menjadi contoh sekaligus dirindukan peserta didik.

Slamet menilai kesenjangan generasi menjadi salah satu tantangan yang harus direspons. Guru dari generasi milenial maupun generasi X saat ini banyak yang mengajar generasi Alpha dengan karakter dan kebiasaan berbeda, terutama dalam penggunaan teknologi.

"Jangan sampai anak-anak lebih tertarik pada HP daripada gurunya,” katanya.

Karena itu, seminar tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kesadaran guru, tetapi juga memberikan bekal mengenai teknik pembelajaran yang lebih menarik. Guru didorong terus melakukan upgrade kompetensi dan terbuka mempelajari berbagai hal baru.

Guru Perlu Adaptif terhadap AI

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI dan digitalisasi pendidikan yang berlangsung cepat juga menjadi perhatian. Guru yang tidak mengikuti perkembangan tersebut dikhawatirkan semakin tertinggal dan kehilangan daya tarik di hadapan peserta didik.

“Jangan sampai dengan kemajuan AI dan digitalisasi ini gurunya stuck dan itu akan menjadi tidak menarik. Kita butuh selain kita memberikan masukan kepada pemerintah untuk menjadi kesejahteraan yang lebih, pemerintah akan memberi kesejahteraan ketika gurunya juga layak untuk diberikan,” ujar Slamet.

Seminar How To Be a Great Teacher di Kabupaten Magelang dilaksanakan selama dua hari dengan sasaran sekitar 1.000 guru setiap harinya. Hari pertama diperuntukkan bagi guru di lingkungan Kementerian Agama, sedangkan hari kedua ditujukan bagi guru di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang.

Teacherpreneur Nusantara Jawa Tengah telah melaksanakan kegiatan serupa di 16 kabupaten dan kota selama dua tahun terakhir. Program tersebut ditargetkan dapat menjangkau seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Guru Juga Didorong Punya Jiwa Kewirausahaan

Narasumber seminar, Syafii Efendi, menambahkan peningkatan kualitas guru perlu dibarengi dengan penguatan karakter kewirausahaan. Menurutnya, persoalan kesejahteraan guru tidak dapat dilepaskan dari upaya meningkatkan kapasitas dan kemandirian guru.

Ia mendorong guru memperbaiki pola pikir mengenai profesinya. Guru tetap dapat menjalankan profesi mengajar sekaligus mengembangkan kemampuan kewirausahaan selama dilakukan secara tepat.

“Ubah mindset-nya. Boleh mengajar? Boleh. Boleh berbisnis sambil mengajar? Boleh saja. Tapi definisi mindset-nya perlu kita perbaiki dulu,” kata Syafii.

Selain kemampuan mengajar dan public speaking, guru dinilai perlu memiliki kemampuan serta pola pikir kewirausahaan. Dengan demikian, guru diharapkan tidak hanya tangguh menjalankan pembelajaran, tetapi juga memiliki kemandirian dari sisi mental dan finansial.

“Kapabilitas mengajarnya di-upgrade, karakter entrepreneur-nya juga di-upgrade. Itu namanya public speaking skill, ada materinya. Tapi entrepreneur skill dan mindset-nya juga paralel kita tingkatkan,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online