Advertisement
Tradisi Nyekar Dongkrak Penjualan Mawar di Magetan
Salah satu petani bunga mawar di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, saat menunjukan bunga mawar siap panen di kebun miliknya, Selasa (17/2/2026). (Espos.id - Imam Mustajab)
Advertisement
Harianjogja.com, MAGETAN —Menjelang bulan suci Ramadan, kesibukan terlihat di kebun-kebun bunga mawar milik petani di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan. Permintaan bunga mawar melonjak signifikan seiring meningkatnya tradisi ziarah makam atau nyekar yang dilakukan masyarakat.
Sejak pertengahan Januari 2026, pesanan kelopak bunga mawar terus berdatangan. Dalam tradisi Jawa, mawar menjadi salah satu unsur utama bunga tabur yang digunakan saat berziarah ke makam keluarga, tokoh agama, hingga leluhur.
Advertisement
Salah satu petani mawar, Sukami, mengungkapkan lonjakan permintaan tersebut berdampak langsung pada kenaikan pendapatan petani. Harga jual kelopak mawar per tenggok—wadah tradisional berbahan anyaman bambu—mengalami kenaikan tajam menjelang Ramadan dan Idulfitri.
“Kalau hari biasa per tenggok Rp50.000 sampai Rp60.000. Tapi menjelang Ramadan dan Lebaran bisa sampai Rp250.000 per tenggok,” ujar Sukami, Selasa (17/2/2026).
BACA JUGA
Ia menjelaskan, pada hari normal petani biasanya hanya mampu menjual sekitar lima hingga sepuluh tenggok per hari untuk memenuhi kebutuhan pedagang bunga di pasar tradisional. Namun menjelang Ramadan, jumlah penjualan bisa meningkat hingga 20 tenggok per hari.
“Tiap mau Ramadan memang selalu naik. Banyak tengkulak yang datang langsung ke kebun untuk cari stok,” katanya.
Meski harga melonjak tinggi, Sukami menyebut kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Kenaikan harga mawar umumnya hanya terjadi menjelang Ramadan, Idulfitri, serta bulan Suro dalam penanggalan Jawa.
Di Luar Ramadan, Harga Kembali Normal
Di luar momentum tersebut, harga mawar cenderung kembali stabil. Meski begitu, tanaman mawar dinilai tetap menguntungkan karena bisa dijadikan tanaman tumpangsari. Petani masih dapat menanam sayuran atau komoditas lain di lahan yang sama untuk menjaga pendapatan.
“Alhamdulillah meskipun harga tinggi ini tidak lama, permintaan hari biasa tetap ada. Jadi masih bisa buat kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.
Sementara itu, pedagang bunga tabur di Pasar Sayur Magetan, Sariyem, 57, warga Kecamatan Magetan, mengaku permintaan bunga tabur untuk tradisi nyekar meningkat drastis hingga dua kali lipat menjelang Ramadan.
“Kalau hari biasa paling 20 sampai 50 bungkus. Sekarang bisa ratusan bungkus. Jelang Ramadan memang ramai, nanti biasanya ramai lagi mendekati Lebaran,” ujarnya.
Para petani dan pedagang berharap tren permintaan bunga mawar ini dapat bertahan hingga awal Ramadan, sehingga mampu memberikan tambahan pemasukan dan menjadi penopang ekonomi keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : espos.id
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Dua Korban Kapal Tenggelam di Selat Makassar Masih Dicari
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Jelang Ramadan, Pertamina Tambah 1,1 Juta Tabung LPG 3Kg di Jateng-DIY
- Prakiraan Cuaca DIY 17-19 Februari, BMKG: Hujan Sedang hingga Lebat
- Padusan di Parangtritis, Waspadai Rip Current dan Gelombang Tinggi
- 1.545 Marbot di Sleman Dapat Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan
- Jadwal Sekolah di Bantul Disesuaikan Selama Ramadan 2026
Advertisement
Advertisement







