Viral Penembakan di Semarang, Ini Fakta Baru dan Motif Pelaku
Kasus penembakan pemuda di Candisari Semarang terungkap. Polisi beberkan kronologi, motif pelaku, hingga peluang restorative justice.
Dua sosok pocong menjadi daya tarik para penonton penayangan perdana film Warung Pocong di Platinum Cineplex Sragen, Jumat (3/4/2026).
Harianjogja.com, SRAGEN — Suasana tak biasa terlihat di Platinum Cineplex Sragen pada Jumat (3/4/2026). Dua sosok pocong yang berkeliling area bioskop justru menjadi pusat perhatian pengunjung. Alih-alih menakutkan, kehadiran mereka malah memancing antusiasme warga yang berebut berfoto.
Aksi tersebut merupakan bagian dari promosi penayangan perdana film Warung Pocong. Strategi unik ini terbukti efektif menarik minat masyarakat untuk datang dan meramaikan bioskop.
Momen peluncuran film juga terasa istimewa karena dihadiri langsung oleh Sigit Pamungkas bersama jajaran pejabat daerah. Mereka mengikuti acara nonton bareng di Studio I, yang turut mengundang berbagai kalangan masyarakat seperti buruh gendong, pedagang kaki lima, tukang becak, hingga warga kurang mampu secara gratis.
Film berdurasi 97 menit ini memadukan unsur horor dan komedi. Penonton diajak merasakan ketegangan sekaligus hiburan dari adegan-adegan jenaka yang disuguhkan para pemain.
Usai pemutaran, Bupati bersama manajemen bioskop juga membagikan bingkisan kepada para undangan dari kalangan masyarakat kecil.
“Ternyata sesuatu yang menakutkan bisa diolah menjadi jenaka. Kalau benar-benar menghadapi sendiri maka langsung mengeluarkan jurus langkah seribu. Saya mengucapkan terima kasih kepada pimpinan Platinum Cineplex yang meluncurkan film baru berjudul Warung Pocong di Sragen. Kami bangga. Saya yakin Sragen memiliki pasar untuk film-film horor dan Sragen punya potensi berkembangnya para pecinta film,” ujar Sigit.
Angkat Potensi Cerita Lokal
Sigit menilai Sragen memiliki banyak cerita lokal yang berpotensi diangkat ke layar lebar. Ia mencontohkan kisah pesugihan dalam film tersebut yang dinilai memiliki kemiripan dengan cerita yang berkembang di masyarakat setempat, salah satunya di Gunung Kemukus.
Ia menjelaskan, di balik cerita yang berkembang, terdapat kisah historis tentang perjalanan seorang santri yang dikenal sebagai Pangeran Samudro.
Selain itu, ia juga menyinggung potensi lain yang dimiliki Sragen, seperti kawasan prasejarah Sangiran yang dikenal sebagai salah satu situs manusia purba terbesar di dunia.
“Kalau di Amerika ada Jurassic Park, maka Sragen punya Sangiran. Potensi ini bisa diangkat menjadi cerita film layar lebar,” jelasnya.
Pesan Moral Film
Lebih jauh, Sigit menekankan bahwa film Warung Pocong tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga pesan moral. Ia menyebut cerita dalam film tersebut mengingatkan pentingnya mencari rezeki dengan cara yang baik tanpa merugikan orang lain.
Menurutnya, nilai tersebut relevan dengan kehidupan masyarakat dan menjadi pengingat agar setiap orang tetap berikhtiar secara benar.
Ia pun mengaku bangga Sragen dipilih sebagai lokasi peluncuran film tersebut, sekaligus berharap industri perfilman semakin berkembang dengan mengangkat potensi daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id
Kasus penembakan pemuda di Candisari Semarang terungkap. Polisi beberkan kronologi, motif pelaku, hingga peluang restorative justice.
Fabio Di Giannantonio juara MotoGP Catalunya 2026 usai balapan penuh drama. VR46 kian kuat, peluang juara dunia terbuka.
BI-Rate naik 5,25%. Ekonom nilai langkah tepat, rupiah diprediksi menguat ke Rp16.800 per dolar AS.
Prabowo ungkap kerugian ekspor RI capai Rp15.400 triliun akibat praktik curang seperti under-invoicing dan manipulasi data.
Minum susu sebelum tidur punya manfaat untuk relaksasi, tapi bisa picu asam lambung dan kembung pada sebagian orang.
BBGRM Kulonprogo 2026 berakhir, swadaya warga tembus Rp16,6 miliar. Infrastruktur dan pemberdayaan jadi fokus utama.